Bayi Meninggal Usai Imunisasi, Awal Pengungkapan Vaksin Palsu, Sudah Berlangsung Belasan Tahun

2851
Pesona Indonesia
Direktur Tindak Pidana Khusus Mabes Polri, Brigjen Polisi Agung Setya bersama Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Polisi Agus Rianto, menunjukkan vaksi palsu yang berhasil disita dari 13 tersangka . Foto: Puji Kurniasari/Sindonews
Direktur Tindak Pidana Khusus Mabes Polri, Brigjen Polisi Agung Setya bersama Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Polisi Agus Rianto, menunjukkan vaksi palsu yang berhasil disita dari 13 tersangka . Foto: Puji Kurniasari/Sindonews

batampos.co.id – Mabes Polri berhasil mengungkap produksi dan peredaran vaksin palsu yang kini sudah masuk ke apotek-apotek, klinik, maupun rumah sakit. Bahkan, ditengarai sudah ribuan bayi yang diimunisasi pakai vaksin palsu karena praktik ini sudah berlangsung belasan tahun.

Baca Juga: Ngeri, Vaksin Bayi Palsu Masuk Apotek, Mabes Polri Ungkap Sindikatnya

Keberhasilan itu berawal dari berita kematian bayi setelah menjalani imunisasi di salah satu stasiun televisi. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim kemudian mengumpulkan data-data dan fakta di lapangan untuk dijadikan bahan penyelidikan.

“Kasus ini sudah kita selidiki sejak 3 bulan lalu. Sekarang terungkap bahwa peredaran vaksin palsu untuk imunisasi bayi sudah berlangsung selama belasan tahun,” kata Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya, Jumat (24/6/2016)

Bareskrim menghimbau kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk peduli terhadap kualitas kesehatan anak-anak.

Ketika ditanya kemungkinan adanya keterlibatan pihak kemenkes dalam kasus ini, Agung mengaku masih dalam proses penyelidikan.

“Untuk Rumah Sakit tertentu, apotik, dan bidan, sudah ada yang terindikasi terlibat,” kata Agung.

Menurutnya, ini sebuah peristiwa yang mengusik kemanusian serta melibatkan banyak pihak.

“Terungkapnya vaksin bayi palsu ini juga telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Ini yang harus kita ungkap dan telusuri hingga ke akarnya,” janji Agung.

Sebelumnya Bareskrim Polri akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan guna mendata jumlah balita yang ditengarai pernah divaksin menggunakan vaksin palsu.

Langkah ini ditempuh menyusul terkuaknya praktik peredaran vaksin palsu untuk balita.

“Kami akan koordinasi dengan Kemenkes untuk mendata balita-balita yang pernah mendapat vaksin palsu agar bisa dipulihkan kondisinya dengan pemberian vaksin asli,” kata Agung.

Agung mengatakan, pihaknya telah mengirimkan sampel vaksin palsu ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) untuk diperiksa komposisi kandungannya.

“Kami lagi periksa sampel vaksin di Labfor. Kami juga mengirimkan sampelnya ke BPOM untuk diidentifikasi komposisi zat-zatnya,” tutur dia.

Sejauh ini polisi telah mengamankan 13 orang tersangka dalam kasus praktik peredaran vaksin palsu untuk balita.

“Total tersangka kasus ini ada 13 orang terdiri dari tujuh orang produsen, tiga kurir, dua penjual dan satu orang pencetak label,” ungkap dia. (elf/JPG)

Respon Anda?

komentar