Di Kauman, Warga Pilih Libur Sebulan saat Ramadan

1135
Pesona Indonesia
RELIJIUS: Gerbang menuju Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, Pasuruan. HAIRUL FAISAL/JAWA POS
Gerbang menuju Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, Pasuruan. foto: HAIRUL FAISAL/JAWA POS

batampos.co.id – Ada inspirasi kehambaan antara manusia dengan Allah yang lahir di Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Masyarakat Kauman meyakini bahwa Ramadan merupakan bulan mulia.

Potongan waktu yang mendapat banyak keutamaan dari Allah SWT. Alquran menyebutkan, pahala yang didapat jika beribadah pada bulan suci itu sama dengan beribadah selama seribu bulan.

Tentu limpahan pahala yang tidak dijumpai pada bulan-bulan lain. Karena itu, momentumnya harus diraih. Setiap detiknya harus diisi dengan ibadah. Tak boleh terlewatkan dan dilewatkan. Harus fokus.

Masyarakat dulu Kauman terbiasa memiliki celengan khusus. Tiap-tiap rumah pasti memilikinya. Mereka menyisihkan sebagian dari penghasilan harian untuk ditabung.

Sepanjang sebelas bulan. Setelah Ramadan tiba, celengan itu dibuka, lalu hasilnya digunakan untuk kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran. Sebulan penuh mereka tidak lagi memikirkan pekerjaan. Tidak risau soal urusan dapur.

Fokus beribadah kepada Allah SWT. Rukuk, sujud, dan bibir mereka terus merapal wirid, mengikuti jemari yang menari bersama butir-butir tasbih. Ya, sepanjang Ramadan.

Bagi masyarakat Kauman, pahala Ramadan tidak hanya bersumber dari puasa. Ada ibadah lain yang menawarkan pahala berlipat ganda. Di antaranya, mengaji Alquran, salat sunah yang pahalanya seperti salat wajib, memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa, dan berzakat.

Dengan berbagai macam pahala itu, sulit dipercaya jika masih saja ada di antara masyarakat yang melewatkannya. Spirit berkompetisi dalam meraih pahala itulah yang membuat masyarakat Kauman sepakat untuk memberlakukan tradisi membuat celengan.

”Karena dulu Kauman ini (Bangil, Red) memang terkenal akan kereligiusan masyarakatnya,” kata tokoh masyarakat Kauman Syafi’i Ghofur.

Pria kelahiran 21 Juli 1953 itu masih ingat betapa para orang tua mereka dulu sangat memperhatikan urusan celengan tersebut. Berapa pun penghasilan yang didapat setiap hari, harus ada yang masuk ke kas tahunan. Tidak boleh tidak.

Lebih baik porsi lauk-pauk dan sayur-mayur dikurangi daripada absen sehari mengisi celengan. Masyarakat sangat mencintai tradisi itu. Sehari melewatkannya sama saja memulai untuk meniadakannya.

”Saya nggak tahu persis itu sejak kapan (tradisi itu muncul, Red). Cuma, sejak saya kecil, itu sudah ada,” tegas Syafi’i.

Bukan hanya celengan tahunan, masyarakat Kauman juga memiliki celengan mingguan. Sesuai namanya, celengan itu dibuka tiap sepekan pada Jumat pagi. Sama halnya dengan celengan tahunan, celengan mingguan juga wajib diisi setiap hari.

Terserah apakah jumlah uang yang ditabung di dua celengan itu sama besar atau tidak. Yang penting, dua celengan tersebut harus dapat jatah harian. Tidak boleh ada alasan untuk melalaikannya.

Warga Kauman yakin bahwa Jumat merupakan induk bagi hari-hari yang lain. Jumat memiliki keutamaan yang tidak dipunyai oleh hari lain. Bahkan, masyarakat percaya bahwa meninggal pada Jumat merupakan tanda yang baik di akhir hidup.

Tak heran, masyarakat Kauman tidak ingin melewatkan setiap detik di sepanjang hari itu. Mereka fokus beribadah kepada Allah SWT. Tidak bekerja. Kebutuhan pada hari itu dibiayai sepenuhnya oleh hasil celengan mingguan. ”Saya pikir, cukup lah buat beli beras dan sayur,” ungkap Syafi’i.

Dua celengan di tiap rumah itu memperlihatkan bagaimana masyarakat Kauman dalam memperlakukan Ramadan dan Jumat. Sangat religius.

Namun, Syafi’i kecewa karena tradisi tersebut kini telah hilang. Dia pun tak tahu persis mulai kapan warisan kebajikan tersebut lenyap dari kampungnya.

Ya, tradisi itu memang tidak tersisa saat ini. Semua rumah tidak menganggap penting lagi dua celengan di rumah masing-masing. ”Tapi, yang jelas, semua pergeseran itu dimulai pada 1990-an,” sesal dia.

Kata ”semua” digunakan Syafi’i untuk menyatakan bahwa yang hilang dari Kauman di Bangil bukan cuma dua celengan investasi akhirat itu. Tradisi keislaman yang dulu mengakar kuat juga terus bertumbangan seiring pergantian waktu.

Sebut saja mengaji. Dulu, tutur Syafi’i, setelah salat Magrib sampai waktu Isya, seluruh jalan dan gang-gang Kauman pasti sepi. Pintu rumah warga tertutup rapat.

Juga, dari dalamnya terdengar lantunan ayat suci Alquran yang dibaca secara berjamaah oleh seluruh anggota keluarga. Kompak.

Syafi’i telah menyerahkan nasib kampungnya kepada waktu. Dia tidak tahu tradisi keislaman apa lagi yang akan hengkang dari kampungnya. Masih menjadi misteri.

Yang jelas, dia kecewa karena tradisi itu malah diganti dengan berbagai berita negatif. Mulai togel, narkoba, sampai peredaran uang palsu mulai menggerogoti nilai-nilai luhur yang dibangun sekian lama oleh masyarakat Kauman.

Dia hanya bisa berharap dan berdoa agar Allah SWT turut serta menjaga warisan keislaman yang masih tersisa. ”Saya tetap senang, paling tidak masyarakat masih salat lima waktu. Makanya, Kauman masih disebut masyarakat religius,” ungkap Syafi’i.

Selain salat liwa waktu yang masih menjadi bagian dari hari-hari mereka, masyarakat Kauman juga merasa lega karena nilai sosial masih dipegang teguh. Tidak pernah ada konflik serius antarkelompok dan warga Kauman.

Masyarakat masih akur-akur saja. Kalaupun ada perbedaan pandangan terhadap satu hal, sampai saat ini pihak kelurahan masih bisa menangani dengan baik.

”Alhamdulillah, itu yang coba terus kami tingkatkan agar masyarakat lebih baik lagi ke depan,” tambah Lurah Kauman Sudirman.

Masyarakat Kauman memang telah ditinggalkan oleh sebagian kisah kesalehannya. Juga, itu memang sangat menyakitkan. Tapi, apa pun alasannya, agama tidak pernah menoleransi penganutnya untuk menyerah dan pasrah.

Masih ada masa depan yang harus diisi dengan kisah baru. Termasuk kembali menghidupkan tradisi dua celengan di satu rumah yang pernah menjadi kebanggaan. (HAIRUL FAISAL DARI BANGIL, PASURUAN)

Respon Anda?

komentar