Habibie dan Pesawat: Awalnya Benci, lalu Jatuh Hati

1086
Pesona Indonesia
Rudy Habibie dengan pesawat pertamanya di Koln-kalk, Jerman. Temuan-temuan Habibie di bidang aeronautika telah memberi sumbangan besar di dunia dirgantara. FOTO: THE HABIBIE CENTER
Rudy Habibie dengan pesawat pertamanya di Koln-kalk, Jerman. Temuan-temuan Habibie di bidang aeronautika telah memberi sumbangan besar di dunia dirgantara. FOTO: THE HABIBIE CENTER

batampos.co.id – Habibie dan pesawat jadi kesatuan layaknya dua sisi mata uang.

Habibie memang sudah lama mengenal benda yang namanya pesawat. Saat kecil, dia sering sekali melihat pesawat hilir mudik. Bukannya senang, dia malah membenci ”burung besi” itu.

Kenangannya akan pesawat begitu buruk. Dalam benaknya, pesawat itu jahat. Pesawat yang dilihat Habibie kecil adalah pesawat perang yang tak henti-hentinya membombardir wilayah Nusantara.

Ya, saat Habibie kecil, Indonesia masih jauh dari kata merdeka. Belanda dan Jepang masih saling berebut kekuasaan untuk menduduki Indonesia.

Pesawat-pesawat yang berseliweran di langit ibu pertiwi kala itu adalah pesawat perang seperti yang dilihat Habibie.

Tidak sedikit pun rasa kagum terlintas dalam pikiran Habibie saat melihat benda jahat tersebut.

Perbincangan singkatnya dengan sang papi, Alwi Abdul Jalil Habibie, sedikit banyak mengubah pemikirannya akan pesawat.

Kala itu Habibie baru saja disunat. Berdiri di bubungan kapal laut yang mengantarnya pulang dari Gorontalo ke Parepare.

Bocah 9 tahun itu berpegangan pada tangan papinya. Dia bertanya mengapa mereka sekeluarga tidak tinggal di Gorontalo saja.

Tempat keluarga besar Habibie. Jika tinggal di Gorontalo, mereka tidak perlu menghabiskan waktu selama tiga hari di kapal laut untuk bisa bertemu saudara-saudara.

Bukan jawaban yang diharapkan Habibie yang terlontar dari mulut papinya. Melainkan pernyataan yang diikuti pertanyaan untuk memancing imajinasi Habibie kecil.

”Kita kan bisa bolak-balik Parepare–Gorontalo! Caranya,” pancing papi seperti yang diceritakan Habibie dalam buku Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner.

”Naik kapal,” jawab Habibie polos. Bagi dia, naik kapal laut memang cara yang paling masuk akal untuk pergi ke Gorontalo.

”Bagaimana dengan sekolahmu? Pekerjaan papi,” kata papi kembali melontarkan pertanyaan.

Habibie pun kemudian mempertanyakan kerinduan papi kepada keluarganya yang sudah lama tidak dia temui. Papi menjawabnya dengan sangat bijak.

”Bukan cuma papi yang rindu. Mamimu juga lebih rindu lagi dengan keluarganya di Jawa,” ujar papi.

Ketimbang Gorontalo, jarak Jawa lebih jauh lagi. Untuk sampai Gorontalo saja, mereka harus berlayar tiga hari. Apalagi ke Jawa. Belum lagi perjalanan darat untuk sampai ke kampung halaman mami di Jogjakarta.

Dalam benak Habibie kecil, berkecamuk pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan mami untuk bisa melepas rindunya dengan keluarga yang sudah lama dia tinggalkan.

Bukan Habibie namanya jika tidak penasaran. Dia terus-menerus mendesak papinya untuk memberitahunya seberapa jauh kampung halaman mami.

Lagi-lagi Papi menjawab dengan clue-clue yang diharapkan bisa ditangkap anak keempatnya itu.

”Berpikirlah lebih luas, Rud,” kata papi sambil mendongakkan kepala menatap langit.

Siluet burung terbang terlihat makin mendekat dan melewati kapal yang mereka tumpangi.

Dengan sigap, Habibie menangkap maksud papinya itu. Papi berpikir untuk terbang saja ke kampung halaman mami.

Jarak tempuhnya akan jauh lebih singkat ketimbang harus berlayar dan melanjutkan perjalanan lewat darat. Sejak itu, pikiran Habibie terus dilintasi burung-burung yang terbang dengan mudah. (and/c10/ang/)

Respon Anda?

komentar