Jawaban Cerdas Komjen Tito Soal Hubungan Senioritas, Labora, KPK, dan Papa Minta Saham

803
Pesona Indonesia
Calon Kapolri tunggal Irjen Pol Tito Karnavian saat mengikuti Fit and Proper Test oleh Komisi III DPR di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta. Kamis 23 Juni 2016. FOTO:HENDRA EKA/JAWA POS
Calon Kapolri tunggal Irjen Pol Tito Karnavian saat mengikuti Fit and Proper Test oleh Komisi III DPR di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta. Kamis 23 Juni 2016. FOTO:HENDRA EKA/JAWA POS

batampos.co.id – Anggota Fraksi PKS Aboe Bakar Al Habsyi tetap mempertanyakan isu senioritas di internal Polri saat Komjen Tito menjalani Fit and Proper Test, kamis (23/6/2016). Ia menilai banyak jenderal dari angkatan 1982 hingga 1986 di sekeliling Tito.

Tak hanya itu, pertanyaan lain juga muncul seputar kasus Labora di Papua saat Tito jadi Kapolda, kasus Papa Minta saham yang menyeret namanya, hubungan dengan KPK, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Komjen Tito Tinggal Dilantik, Janji Jadikan Polri Profesional dan Modren

Tito yang diberi kesempatan memberikan penjelasan setelah sesi istirahat, menyampaikan penjelasan dengan gamblang.

Terkait statusnya yang masih junior, Tito menegaskan kembali bahwa dirinya menyadari hal itu. Karena itulah, sejak awal dirinya merasa tidak nyaman jika harus memimpin senior.

Namun, karena sudah mendapat perintah Presiden Joko Widodo, Tito menyatakan harus taat perintah sebagai prajurit. ”Saya harus allout terhadap tugas yang diberikan,” kata Tito.

Terhadap hubungan kepada senior, Tito menyatakan hubungan dilakukan secara profesional dan proporsional. Tidak semua senior harus dibuat senang. Namun, mereka yang berkompeten, objektif, layak ditempatkan dalam sebuah jabatan.

”Ini beberapa kali kami lakukan baik di Polda Papua, Asrena, maupun Polda Metro,” kata Tito.

Dalam kasus Labora, Tito menjelaskan bahwa Polda Papua sudah melakukan pemeriksaan terhadap anggota Polri itu. Bahkan sebelum Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan menyampaikan temuan kepemilikan rekening sebesar Rp 1,2 triliun.

Baca Juga: Komjen Tito Dicecar Komisi III Soal Papa Minta Saham hingga Santoso

Labora yang disebut sebagai pemilik rekening gendut itu ternyata hanya memiliki rekening senilai Rp 10 miliar.

”Temuan PPATK itu adalah akumulasi dari aktivitas rekening Labora,” kata Tito.

Terkait aliran dana, Polda Papua ketika itu memeriksa 17 rekening anggota Polri. Mereka yang menerima memiliki pangkat tertinggi Kombes. Dalam penyidikan Polri, terungkap bahwa Kapolres Raja Ampat menerima sejumlah uang dari Labora.

”Uang itu sepertinya akan diberikan pada saya, namun saya tidak pernah menerima. Jika menerima, saya tidak akan berani menindak Kapolres itu,” tegas Tito.

Terakhir, dalam kasus “papa minta saham”, Tito mengatakan dia disebut bukan karena saham yang ingin dibagi-bagi. ”Nama saya disebut karena dinyatakan berkontribusi atas kemenangan Pak Jokowi di Papua,” kata Tito.

Namun, lanjut Tito, fakta sebenarnya bukan seperti itu. Polda Papua selama pilpres 2014 netral dan tidak memihak baik Jokowi-Jusuf Kalla ataupun Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Sulit untuk memanipulasi perolehan suara pilpres karena baik KPU maupun saksi dua pasangan calon sama-sama menggunakan teknologi informasi sebagai rujukan.

Terkait kemenangan Jokowi-JK di Papua, Tito juga memiliki jawabannya. Dia mencatat bahwa Jokowi ketika pilpres dua kali mendatangi Papua. Pertama bersama tim dengan skala kecil, kedua bersama keluarga.

”Pak Jokowi sampaikan kalau nama istri beliau, Iriana, berasal dari kata Irian, itu membuat hati masyarakat Papua suka. Sementara Pak Prabowo dan Pak Hatta, tidak ada yang ke sana. Bagi masyarakat Papua, siapa yang mendatangi mereka, itulah pilihan mereka,” katanya.

Jika berbicara dengan lembaga lain, termasuk KPK, Tito menilai hal yang terpenting adalah komunikasi. Komunikasi bisa dilakukan secara formal maupun personal. Kebetulan, Tito mengaku dekat dengan pimpinan KPK saat ini. Namun, hubungan kelembagaan akan percuma jika berjalan baik di tingkat pusat saja.

”Di jajaran bawah, kami akan dorong semaksimal mungkin menjalin komunikasi formal dan informal. Baik tidaknya hubungan, ini akan menjadi kriteria promosi atau demosi,” tegasnya. (jpgrup)

Respon Anda?

komentar