Mengenang Koleksi Menarik Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang

1180
Pesona Indonesia
Kondisi terakhir Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang. foto:fatih/batampos
Kondisi terakhir Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang. foto:fatih/batampos

Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah tutup hingga waktu yang belum ditentukan. Tapi, bukan berarti koleksi-koleksinya tidak meninggalkan kesan.

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang.

Keputusan Pemerintah Kota Tanjungpinang menutup satu-satunya museum ini bukan tanpa alasan. Kondisi atap yang telanjur rapuh di banyak ruangan, memang sudah tidak bisa lagi diandalkan. Tidak punya pilihan lain, atas nama keselamatan pengunjung dan koleksi, Museum SSBA Tanjungpinang ditutup.

Lebih dari dua tahun sudah. Masyarakat Tanjungpinang tidak lagi dapat melihat langsung barang-barang peninggalan dari zaman ke zaman. Menyintas satu-dua abad. Jadi bukti sejarah peradaban masa lampau.

Namun, bagi mereka yang sudah pernah berkunjung, lamat-lamat dalam ingatannya terkenang beragam rupa koleksi. Sudah barang tentu cogan. Replika regalia kerajaan Melayu. Posisinya berada tepat di titik tengah ruangan. Dalam satu wadah khusus berkelilingkan kaca. Penerangannya juga spesial. Sehingga nyaris setiap orang yang berkunjung selalu terkesan dengan keberadaan cogan berbentuk serupa daun sirih ini.

“Apalagi sekarang itu cogan banyak dikreasikan jadi banyak hal oleh anak muda,” kata Zainal, mahasiswa perguruan tinggi negeri di Tanjungpinang ini.

Setelah cogan, ingatan Zainal lekas kembali pada caping. Ini juga jenis koleksi yang tidak biasa. Bentuknya masih menyerupai daun sirih. Besarnya hanya setangkup tangan orang dewasa. Berbahandasarkan perak, tapi bukan hiasan luaran. Fungsinya yang bikin semua orang geleng-geleng kepala.

Caping diketahui adalah aksesori perempuan Melayu, yang diyakini bila digunakan dapat meredam syahwat birahi. Baik itu bagi penggunanya atau pun orang yang hendak berbuat buruk padanya. “Setiap orang yang main ke museum pasti selalu ingat dengan caping ini,” kata Zainal terkekeh.

Cogan sudah, caping pun sudah. Apalagi benda yang teringat oleh Zainal sebagai salah satu koleksi museum yang terakhir dibuka lebih dari dua tahun silam itu? Butuh sekian detik sebelum pada akhirnya Zainal menerka.

“Uang petik? Ya. Di museum itu ada koleksi macam-macam jenis uang. Tapi aku lupa seperti apa keterangan uang-uang di sana. Termasuk pula uang petik itu,” ujarnya.

Boleh dikata, di Mseum SSBA Tanjungpinang tersimpan tiga koleksi jenis uang unik dan bisa dikatakan tak galib atau berbeda dengan alat tukar sah lainnya. “Orang banyak menyebutnya uang petik,” ujar Anto Rambey, petugas museum.

Dikatakan demikian, lanjutnya, dikarenakan uang itu, dalam produksinya, dirangkai dan dibuhul menyerupai pohon. Sedangkan koin-koinnya menyerupai dedaunannya yang bertambat di tiap tangkainya. “Jadi, kalau mau beli sesuatu, dipetik dulu dari tangkainya,” ujar Rambey.

Uang ini, merujuk informasi yang tertuliskan, pernah digunakan sebagai alat tukar yang sah pada masa penjajahan Belanda. Pada salah satu permukaan uang yang berbahan dasar timah ini, terdapat tulisan dalam aksara Arab-Melayu. Hanya saja, pada uang yang menjadi koleksi Museum SSBA bernomor inventaris N.2 (1-2).006.2009 ini sudah tak terbaca lagi tulisan beraksara Arab-Melayu yang digoreskan.

Selain uang petik, yang tiap koinnya berdiameter sekitar 1,8 sentimeter, Museum SSBA Tanjungpinang masih punya dua koleksi uang unik lainnya. Yakni, uang topi dan uang ikan. Uang topi berbahan dasar nikel. Dimensinya hampi setangkup genggaman tangan orang dewasa. Disebut uang topi, karena bentuknya yang menyerupai topi koboi.

Sementara uang ikan, cara menggunakannya sama dengan uang petik. Hanya saja, perbedaan terdapat pada buhulnya. Uang petik, dibuhul menyerupai pohon dengan reranting dan koin sebagai dedaunannya. Sementara uang ikan, koin-koinnya dibuhul dalam ikatan yang menyerupai ikan.

“Cara pakainya sama, harus dipetik dulu,” tambah Rambey. Sayangnya, sambung dia, belum didapat informasi secara rinci mengenai besaran nilai tiga jenis mata uang unik ini.

Hanya saja bukan mengenai nilai tukar yang bikin Zainal gusar. “Aku membayangkan, kalau uangnya saja sebesar ini, seberapa besar lagi dompetnya,” katanya dan tertawa.***

Respon Anda?

komentar