Pisah dari Uni Eropa, Inggris Diprediksi Krisis Ekonomi

1048
Pesona Indonesia
Ilustrasi Inggris keluar dari Uni Eropa. Grafis: global.handelsblatt.co
Ilustrasi Inggris keluar dari Uni Eropa. Grafis: global.handelsblatt.co

batampos.co.id – Resmi bercerai dari Uni Eropa (UE) setelah menang referendum diprediski sejumlah pengamat negeri Ratu Elizabeth itu bakal dilanda krisis ekonomi.

Setidaknya hal itu terlihat sehari setelah hasil referendum untuk keluar dari Uni Eropa (UE) alias Brexit. Pasar saham dan komoditas selama satu hari langsung menggeret status investasi negara yang akrab dengan tim three lions itu.

The Guardian, melansir lembaga peringkat Moody’s  sudah menurunkan status kredit Inggris dari stabil menjadi negatif.

Keputusan tersebut diakui berasal dari ketidakpastian akses pasar ke wilayah Eropa yang saat ini mendominasi perdagangan Inggris.  Alhasil, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan bakal melambat.

’’Meskipun dalam jangka panjang Inggris bisa mengamankan jalur perdagangan ke wilayah Uni Eropa dan negara lain, pertumbuhannya diperkirakan tidak sekuat dari yang semula kami perkirakan (saat inggris menjadi anggota UE, Red),’’ begitu pernyataan agensi seperti dilansir The Guardian.

Bukan hanya Moody’s, lembaga peringkat lainnya, Standard and Poor’s, pun sudah mengeluarkan tanda-tanda bahwa pangkat invetasi Inggris yang saat ini ada di kelas AAA bisa diturunkan.

Hal ini pun membuat pemimpin kampanye Brexit Boris Johnson sedikit takut. Dia menyatakan tak perlu cepat-cepat memberlakukan pasal 50 perjanjian UE yang bakal mengaktifkan periode negosiasi selama dua tahun.

Padahal pihak UE sudah terlanjur sakit hati dan minta Inggris keluar secepat mungkin. Bagaimana tak takut, dampak dari Brexit nampaknya dipandang besar oleh investor global.

Berdasarkan The Guradian, hasil angket yang disusul mundurnya Perdana Menteri David Cameron langsung menguras sekitar USD 2 triliun (Rp 26 ribu triliun) dari berbagai pasar dunia.

Bank Nasional Inggris pun harus turun tangan untuk menenangkan pasar yang sudah membuat nilai ponsterling turun ke level terendah sejak 1985. Saham-saham besar di inggris pun ikut berkurang sebanyak GBP 120 miliar (Rp 2.200 triliun).

’’Kami siap untuk melakukan apapun untuk mencegah dampak dari keluarnya inggris dari UE. Kami mendiskusikan apa saja yang akan menjadi resiko dan akan menanggulanginya,’’ ujar Kepala Bank of England Mark Carney.(bil/JPG)

Respon Anda?

komentar