Uni Eropa Bakal Bubar, Setelah Inggris, 5 Negara Ini Siap Hengkang

2349
Pesona Indonesia
Warga Inggris merayakan kkeberhasilan mereka memenangkan referendum yang membawa Inggris keluar dari Uni Eropa. Foto: reuters
Warga Inggris merayakan kkeberhasilan mereka memenangkan referendum yang membawa Inggris keluar dari Uni Eropa. Foto: reuters

batampos.co.id – Uni Eropa (UE) bakal bubar. Setelah Inggris hengkang (British Exit/Brexit) melalui proses referndum, giliran lima negara Uni Eropa yang akan mengikuti jejak Inggris.

Ada beberapa negara yang mulai bersuara. Antara lain Italia, Prancis, Belanda, dan Denmark. Suara untuk pisah itu dimunculkan dari partai-partai ultranasional di empat negara tersebut.

”Kemenangan untuk sebuah kebebasan. Seperti yang telah saya katakan selama bertahun-tahun, kita harus membuat referendum serupa di Prancis dan negara-negara lain di UE,” tulis pemimpin Partai National Front Prancis Marine Le Pen di akun Twitter-nya.

Dia memuji langkah Inggris untuk menggelar referendum dan keputusan warga yang akhirnya memilih leave (meninggalkan UE).

Menurut dia, hasil referendum di Inggris itu menunjukkan bahwa UE telah runtuh dan ada retakan di mana-mana.

Dalam sebuah acara di Wina, dia menegaskan bahwa Prancis memiliki lebih dari seribu alasan untuk meninggalkan UE jika dibandingkan dengan Inggris.

Sebab, Prancis adalah bagian dari zona euro dan zona bebas paspor Schengen. Partai yang dipimpin Le Pen selama ini memang antieuro.

”UE bertanggung jawab atas tingginya penganggur dan kegagalan menangani penyelundup, teroris, dan imigran karena faktor ekonomi,” tegas Le Pen.

Politikus yang tengah mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di Prancis itu berjanji menggelar referendum jika terpilih nanti.

Hal senada ditegaskan politikus anti-imigrasi Belanda Geert Wilders. Dia menyerukan agar negaranya juga menggelar referendum untuk menentukan sikap.

Pemimpin Party for Freedom itu menegaskan bahwa Belanda harus menggelar referendum secepatnya. ”Kami ingin berkuasa atas negara kami, uang kami, perbatasan kami, dan kebijakan imigrasi kami,” tegasnya.

Wilders tidak sendirian. Berdasar survei yang dilakukan baru-baru ini, 54 persen penduduk Belanda menginginkan referendum. Belanda sendiri bakal menggelar pemilu Maret mendatang.

Beberapa hasil polling menunjukkan bawa Wilders memimpin. Jika dia menang, tidak tertutup kemungkinan Belanda mengikuti jejak Inggris dengan menggelar referendum Nexit alias Netherland exit.

Italia tak mau ketinggalan. Pemimpin Partai Northern League Matteo Salvini dan politikus Partai 5-Star Movement Luigi di Maio sama-sama menyerukan agar Italia menggelar referendum. ”Terima kasih, Inggris, kini giliran kami,” ujar Salvini.

Di Maio menganggap referendum yang digelar Inggris sudah merupakan tanda kegagalan UE. Dia juga menyerukan agar mata uang Italia diganti saja dan tidak lagi menggunakan euro.

Namun, tentu saja itu akan sedikit sulit. Sebab, berdasar peraturan perundang-undangan, Italia melarang referendum untuk mengubah perjanjian internasional.

Di tempat terpisah, pemimpin Danish People’s Party Kristian Thulesen Dahls juga menginginkan Denmark mengikuti langkah Inggris. Menurut dia, jika parlemen tidak setuju dengan reformasi pemerintahan dan meninggalkan UE, langkah terbaik adalah menanyakan langsung kepada rakyat.

Yaitu melalui referendum. Namun, jika benar Denmark menggelar referendum, sentimen terhadap UE itu akan menyebar melalui Skandinavia. Imbasnya, Swedia juga akan ikut bergolak dan menggelar referendum.

”Kini kami menunggu untuk menggelar referendum Swexit (Sweden exit, Red),” tulis Partai Demokrat Swedia di Twitter. (BBC/Express/sha/c11/any/JPG)

Respon Anda?

komentar