Ada Ritual Memeluk dan Mencium Patung Macan, Majelis Zikir Ini Menyimpang

1146
Pesona Indonesia
Patung yang sering dipeluk dan dicium jamaah majelis zikir ini saat mereka zikir Al Khotamaini. Foto: Radar Semeru/JawaPos.com
Patung yang sering dipeluk dan dicium jamaah majelis zikir ini saat mereka zikir Al Khotamaini. Foto: Radar Semeru/JawaPos.com

batampos.co.id – Majelis Zikir Al Khotamaini di Desa Krai, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, menjadi sorotan warga dan disebut menyimpang. Pasalnya, dalam berzikir, ada ritual aneh yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Agus Yulianto, salah satu warga setempat mengatakan, dalam melakukan zikir, mereka sering menggunakan pengeras suara dan berlangsung sampai larut malam.

Tak hanya itu, jemaah mereka kerap terdengar berteriak dan menangis kemudian dimasukkan ke pengeras suara.

“Teriak-teriak sampai larut malam, itu sangat mengganggu,” kata dia kepada Jawa Pos Radar┬áSemeru (grup batampos.co.id), Minggu (26/6/2016).

Yang aneh, dalam zikir ada ritual memeluk dan mencium patung macan sambil menangis. Bahkan, sempat tersiar kabar bahwa warga juga menjilati patung itu.

Majelis itu sudah beberapa kali diperingatkan pihak desa. Mereka diminta tidak mengadakan kegiatan yang mengganggu kenyamanan warga. Mereka pun sempat berhenti sebentar.

“Setelah beberapa lama, mulai lagi,” katanya.

Warga menyebut majelis zikir itu menyimpang dari ajaran Islam karena dalam Islam tidaka zikir yang memeluk atau menciumi binatang atau benda apapun.

Roihatus Safirah, seorang santri majelsi zikir itu, menampik keras tudingan majelisnya sesat. Menurutnya, apa yang dilakukan para jemaah tak ada yang menyimpang.

Namun dia mengakui bahwa dalam berzikir, jemaah Majelis Al Khotamaini memiliki gerakan khusus yang berbeda pada umumnya.

“Tapi bukan berarti menyimpang. Gerakan tersebut kami lakukan untuk memacu kekhusyukan dalam berzikir,” ujar dia.

Mengenai adanya patung, dia mengakui, jamaah memeluk dan mencium patung dalam berzikir.

Namun, hal itu mereka lakukan karena banyak pelajaran yang mereka dapat dari patung tersebut. “Patung macan itu mengajarkan kami banyak hal,” ungkap Roihatus. (mar/ras/mam/JPG)

Respon Anda?

komentar