Bareskrim Janji Telisik Kekayaan Tersangka Vaksin Palsu

1694
Pesona Indonesia
Rahmat dan Rina, Pasutri tersangka kasus vaksin palsu dengan mobil dan rumah mewahnya. Foto: facebook Rina/PS
Rahmat dan Rina, Pasutri tersangka kasus vaksin palsu dengan mobil dan rumah mewahnya. Foto: facebook Rina/PS

batampos.co.id – Semua orang pasti mendambakan hidup kaya. Namun untuk memperolehnya, ada yang menempuh jalan pintas dengan menghalalkan segala cara, namun ada juga menggunakan jalan lurus dan halal.

Nah, para tersangka kasus vaksin palsu bisa jadi termotivasi ingin cepat kaya, sehingga melakukan kecurangan untuk mencapai impiannya.

BACA: Mewahnya Hidup Pasangan Tersangka Vaksin Bayi Palsu

Jika kecurangan itu tak merugikan orang lain, mungkin masih termaafkan. Tapi kalau membuat ribuan oran menderita, apalagi itu bayi seperti kasus vaksin palsu, kesalahannya sudah melampaui batas-batas kemanusiaan.

Ya, dari 13 orang tersangka, beberapa di antaranya memang hidup bergelimang harta. Punya rumah mewah, kendaraan mewah, dan istri lebih dari satu. Asyik…

Hidayat dan istrinya Rita Agustina contohnya. Pasutri yang jadi tersangka kasus vaksin palsu ini hiduip mewah. Setidaknya mereka tunjukkan di akun facebooknya rumah dan kendaraan mewah mereka.

BACA: Tersangka Vaksin Palsu Bertambah, RS Pengguna Didata

Keduanya memiliki latar belakang sebagai tenaga medis. Hidayat mantan tenaga medis sebuah pabrik otomotif dan Rita merupakan bidan salah satu rumah sakit di Bekasi.

Direktur Dittipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya menuturkan, memang kehidupan para pelaku pemalsuan itu terlihat sangat tidak wajar.

”Tidak hanya soal harta ya, ada prilaku lainnya,” ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim, Brigjen Agung Setya.

Baca Juga: Bayi Meninggal Usai Imunisasi, Awal Pengungkapan Vaksin Palsu, Sudah Berlangsung Belasan Tahun

Selain pasangan suami istri yang memiliki rumah dan kendaraan mewah, ada pelaku lain yang juga memiliki prilaku di luar kebiasaan. Yakni, memiliki istri lebih dari satu.

”Jumlah tepatnya tidak perlu disebut, banyak,” tutur jenderal bintang satu tersebut.

Kondisi tersebut tentunya membuat Bareskrim memberikan hukuman yang lebih berat. Sehingga, pemalsuan vaksin itu tidak lagi terulang atau dilakukan oleh orang lain.

Agung menjelaskan bahwa TPPU menjadi salah satu hukuman yang diberikan pada 13 tersangka pemalsu vaksin bayi tersebut. ”Kami telisik semua hartanya,” paparnya.

Baca Juga: Ngeri, Vaksin Bayi Palsu Masuk Apotek, Mabes Polri Ungkap Sindikatnya

Untuk langkah awal, Bareskrim akan membandingkan antara pendapatan dari pabrik pemalsu vaksin dengan harta yang dimiliki para tersangka. Pendapatan pabrik itu akan terlihat dari dokumen administrasi yang telah disita Bareskrim.

“Namun, seperti biasa, para tersangka ini tidak mengakui berapa pendapatan yang mereka terima dari menjalankan bisnis illegal tersebut. Mereka hanya mengaku uang yang didapatkan Rp25 juta per minggu,” jelasnya.

Vaksin Palsu

Rumah tersangka pemalsuan vaksin palsu

Padahal, dalam sekali transaksi setiap jaringan pemalsu vaksin bayi ini bisa mengirimkan 200 vaksin. Harganya untuk satu vaksin saja antara puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah.

“Semua itu menuntun kami untuk mengetahui hasil kejahatan ini,” terang Agung.

Bila hasil analisa pendapatan pabrik vaksin dan kekayaan para tersangka cocok, maka dapat dipastikan bila mereka memang hidup berlebihan dengan memalsukan vaksin. “Kami dalami semuanya,” janjinya.

Tidak hanya itu, Bareskrim saat ini juga dengan mendata rumah sakit dan apotik mana saja yang memang menjadi pelanggan para pemalsu vaksin tersebut. Hingga saat ini memang baru ditemukan sejumlah rumah sakit swasta yang memesan vaksin tersebut.

Internal Bareskrim menyebutkan, sebenarnya yang ditelisik itu bukan rumah sakit swastanya, namun justru kalau ada rumah sakit negeri. Kalau ada rumah sakit negeri yang ternyata menjadi pelanggan pabrik vaksin palsu, maka ada indikasi lain yang bisa dikembangkan. Yakni, korupsi.

“Tentunya, upaya untuk menemukan dugaan pidana lain dalam sebuah kasus perlu dilakukan. Sehingga, semuanya bisa terbongkar dan menjadi pelajaran bersama. Tidak boleh ada kasus semacam ini,” ujarnya

Agung Setya menambahkan bahwa memang Bareskrim tidak hanya menargetkan enam jaringan pemalsu vaksin tersebut. Namun, alur dari produksi hingga distribusi vaksin juga harus diungkap.

“Ibaratnya, kasus ini akan diteliti hingga ke akar-akarnya,” papar Agung Setya.

Siapapun yang terlibat dengan peran apapun, tentu harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Dia menegaskan, Bareskrim ingin melindungi generasi bangsa dari oknum yang hanya ingin mengambil keuntungan dengan cara yang tidak sah secara hukum.

”Kami berusaha melindungi masa depan bangsa ini,” jelas Agung Setya.

Perlu diketahui, jaringan pemalsu vaksin bayi ini ternyata tidak berdiri sendiri. Bareskrim mengendus bahwa jaringan ini berkomunikasi dan saling membantu. Namun, belum diketahui sedalam apa mereka bekerja sama.

”Kalau saling mengetahui itu sudah pasti, tapi apakah mereka belajar dari kelompok atau sosok yang sama, sedang didalami,” terangnya. (idr/mia/jpg/one/pojoksatu)

Respon Anda?

komentar