Setelah Istri Membawa Rezeki Scaffolding

612
Pesona Indonesia
LOGO NEW HOPE
LOGO NEW HOPE

Hilangkan kebencian! Kata Mohed.
Sekian puluh tahun kemudian, Mohed, yang waktu kecil dididik dengan penuh kebencian, memiliki lebih dari 100 perusahaan. Di 100 negara.

Menarik: dia orang Syiria. Suku Badui. Yang dulu hidup berpindah-pindah di padang pasir. Kini Mohed tinggal di Prancis selatan.

“Itulah kunci sukses saya,” ujar Mohed Alfrad yang tahun lalu terpilih sebagai World Enterpreneur of the Year di Monaco.

Mohed sendiri tidak tahu tanggal lahirnya. Maklum: lahir di padang pasir. Kira-kira saja kini berumur 68 tahun. Anak-anaknyalah yang belakangan memutuskan tanggal berapa Mohed lahir. Agar bisa merayakan ulang tahun sang ayah.

Sejak kecil Mohed tidak punya ibu. Sang ibu meninggal. Ketika umur sang ibu masih remaja. Waktu itu sang ibu terpaksa hamil: diperkosa seorang tokoh sukunya. Lahirlah Mohed.

Tanpa ibu, Mohed diasuh oleh neneknya. Ikut pindah-pindah. Sesuai dengan kebiasaan suku nomaden. Dari satu oase ke gurun yang lain.

Akhirnya Mohed kecil diajak menetap di dekat kota Raqqa. Kota kecil yang kini sangat terkenal itu: ibukota negara Islam ISIS.
Di Raqqalah Mohed ingin sekali  sekolah. Seperti teman-temannya. Neneknya melarang. Tapi Mohed diam-diam berangkat ke sekolah. Jalan kaki enam kilometer. Tanpa alas kaki.

Setiap pulang Mohed dimarahi. “Menggembala kambing tidak perlu ijazah,” kata sang nenek. Seperti umumnya anak Badui Arab sang nenek juga harus menyiapkan sang cucu untuk jadi penggembala yang baik.

Mohed nekad. Di sekolah Mohed menemukan kebahagiaan. Juga menemukan pembebasan jiwanya. Dia menemukan cahaya. Yang akan bisa menerangi kegelapan sejarah kelahirannya. Tiap pagi dia cepat bangun. Agar keberangkatannya  tidak dipergoki sang nenek.
Mohed juara sekolah. Di semua jenjang. Sampai SMA.

Dia selalu dapat beasiswa. Termasuk saat lulus jadi sarjana. Pelajaran fisika dan matematikanya mengungguli seluruh negeri.
Pemerintah pun mengirimnya ke Prancis. Tapi Mohed hanya bisa bahasa Arab.

Maka dia harus belajar bahasa Prancis dulu di Montpellier. Enam bulan Mohed belajar bahasa di kota bibir pantai selatan Prancis ini.

Tentu itu belum cukup. “Saat harus mulai kuliah di Paris saya hanya mengerti 10 persen dari apa yang dikatakan profesor saya,” guraunya.

“Tapi sudah cukup untuk mencari pacar gadis asli Prancis,” guraunya.

Fisika dan matematika memang punya kode-kodenya sendiri. Penguasaan bahasa tidak menentukan. Demikian juga pacaran. Punya bahasa isyaratnya sendiri.

Sang pacar adalah teman kuliahnya sendiri. Sesama dari pantai selatan. Hanya beda kota. Kawin.

Dari sinilah awal suksesnya. Istri membawa rezeki.
Itu terjadi saat sang istri liburan ke kampung halamannya. Tetangganya berkisah tentang pabrik yang terancam bankrut di kampung itu. Pabrik scaffolding. Buruhnya demo terus. Atau mogok. Khas Prancis.

Sang istri mendesak Mohed untuk membeli pabrik itu. Hanya 1 dolar. Asal utang-utang di banknya ditanggung.

Saat itu Mohed memang sudah punya tabungan 600.000 dolar. Hasil kerja selama 4 tahun di perusahaan minyak di Dubai. Belum cukup. Mohed mengajak tiga temannya berkongsi. Mohed 80 persen.
Di mana kunci suksesnya?

Keterbukaan. Ketulusan. Kesungguhan. Pertaruhan. Merebut kepercayaan buruh. Tidak egois. Optimis. Tidak ada kebencian. Desentralisasi.

Mohed bercerita apa adanya pada buruh yang suka mogok itu. Bahwa dia mempertaruhkan seluruh tabungan hasil kerjanya selama 4 tahun di situ.

Dengan rendah hati dia mengaku dengan tulus: saya tidak tahu bisnis, tidak tahu mengurus pabrik, bahkan tidak tahu scaffolding itu apa dalam bahasa Prancis.

Ketulusannya, kerendahhatiannya, nekatnya, semua itu meluluhkan hati buruh. Toh kalau pabrik itu tidak dia ambil akan bankrut juga.

Mohed sendiri berada di pojokan: sukses atau ikut bankrut. Tidak punya siapa-siapa. Tidak punya apa-apa.
Dia sukses.

Mohed kini menjadi pengusaha scaffolding terbesar di dunia. Terutama sejak mengambil alih perusahaan scaffolding Jerman yang jadi pesaingnya.

Kelihatannya industri ini tidak bergengsi. Bukan pula sesuatu yang tampak modern. Tapi tiap tahun Mohed mengakuisisi perusahaan scaffolding di negara yang berbeda. Termasuk di Amerika.

Mohed mempertahankan kantor pusatnya di kota Montpellier. Dengan hiasan Ferrari, Lamborghini dan sejenisnya.
Dengan hanya 25 staf.

Mohed menganut desentralisasi untuk mengurus anak-anak perusahaannya: sepakati beberapa hal pokok, serahkan gaya ke masing-masing, komunikasikan.

“Mungkin karena saya pernah hidup di padang pasir,” katanya. “Terbiasa dengan kebebasan penuh.”

Tapi Mohed tetap sulit tidur. Idenya terlalu banyak. Dia tidak bisa minum-minum di bar, atau rekreasi atau olahraga.
Dia hoby menulis.

Malam-malamnya dia sibukkan dengan menulis. Hasilnya menakjubkan: Badawi. Sebuah novel tebal tentang suku Badui. Lebih tepatnya tentang perjalanan hidupnya.

Novel itu berkembang menjadi trilogi. Sastrawan Montpellier memberinya penghargaan sastra. Juga menulis rekomendasi: agar novel itu dibaca oleh semua anak sekolah.

Walikota Montpellier ikut bersandar padanya. Saat klub baseball kebanggaan kota itu terancam kesulitan keuangan, sang walikota merayunya untuk menyelamatkannya. Jadilah Mohed yang tidak pernah berolahraga itu bos pemiliknya. Namanya pun banyak ditempelkan di prasasti gedung itu.

“Biasanya, untuk orang Badui, seumur hidup namanya hanya ditulis satu kali di prasasti,” katanya. “Yakni saat meninggal dunia. Di tulis di batu nisan.”

Mohed mengungkapkan semua itu saat berpidato di Monaco tahun lalu. Saat dia menerima penghargaan dari Ernst & Young sebagai Enterpreneur of the Year.

Saya pernah menghadiri forum itu, di situ, di hotel itu, tapi bukan tahun itu. Yakni saat saya terpilih menjadi Enterpreneur of the Year Indonesia. Oleh Ernst & Young. Untuk diadu di tingkat internasional di Monaco. Sekalian nonton F1 yang balapannya lewat jalan di depan hotel.

Saya tidak terpilih. Yang terpilih adalah pengusaha alat kesehatan dari Jerman. Bukan dokter. Bukan sarjana. Tapi bisnis alat kesehatannya mendunia. Bahkan dia menemukan alat perekam otak. Sangat pantas dia terpilih. Saya bukan apa-apanya.

Tahun lalu Mohed yang terpilih. Juga sangat pantas.
Apalagi Mohed sangat unik: Islam, Arab, minoritas, lagi terpojok isyu imigran, terorisme dan kebencian.

Maka suara Mohed sangat pantas didengar. Sebab itu pidatonya dikutip media secara luas. Termasuk yang saya jadikan referensi ini.

Ke luar, ke pemerintah Prancis, dia menyarankan banyak hal untuk mengatasi kekerasan, kemiskinan para imigran dan terorisme. Dia sampai diundang Presiden Prancis, Francois Hollande, untuk mendiskusikannya.

Kepada para imigran sendiri dia menyerukan untuk menghapus kebencian. Kepada siapa saja dan apa saja.

Saya ini, katanya, sejak kecil sudah diajari kebencian. Di mana saja  ketemu orang Yahudi, saya diajari harus membunuhnya. ***

Respon Anda?

komentar