Nasib 7 ABK Tugboat Charles 001 yang Disandera Belum Jelas

956
Pesona Indonesia
Rugboat Charles yang dibajak militan Abu Sayyaf. Tujuug dari 13 ABK disandera. Foto: prokal
Rugboat Charles yang dibajak militan Abu Sayyaf. Tujuug dari 13 ABK disandera. Foto: prokal

batampos.co.id – Sudah hampir sepekan penyanderaan tujuh anak buah kapal tugboat (TB) Charles 001, namun nasib mereka belum jelas. Bahkan, identitas penculiknyapun belum diketahui secara pasti.

Menteri Koodinator Politik Hukum dan Keamanan  (Menkopolhukam) Luhut Binsar Panjaitan menuturkan hingga Senin (27/6/2016) informasi terkait penculikan itu masih simpang siur. Identitas penculik pun belum secara detail teridentifikasi. Mereka pun masih belum bisa memastikan penculik itu berasal dari kelompok Abu Sayyaf atau bukan.

”Informasinya masih diverifikasi. Karena terlalu banyak informasi agak konflik satu sama lain,” ujar dia usai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor wapres kemarin (27/6).

Sedikit informasi yang telah diketahui Luhut adalah kondisi para sandera yang diculik dalam waktu berbeda. Mereka dipisahkan dalam dua kelompok. Ada yang empat dan tiga orang. ”Sepanjang yang kami dapat di crisis center, kadang digabung, kadang dipisah,” imbuh Luhut.

Penyanderan tujuh pelaut itu merupakan kejadian ketigakalinya dalam kurun empat bulan terakhir. Pada 26 Maret 2016 Kapal Brahma 12 dan Anand 12 dibajak kelompok Abu Sayyaf di perairan Provinsi Sulu, Filipina. Pada  15 April 2016 Kapal TB Henry dibajak di perairan Filipina selatan, empat WNI disandera dan enam WNI selamat. Pada 1 Mei 2016, sebanyak  10 sandera dilepaskan kelompok Abu Sayyaf.  Sementara 11 Mei 2016,  empat yang disandera kelompok Abu Sayyaf faksi Alden Bagade dibebaskan.

Terakhir 20 Juni 2016 Kelompok Abu Sayyaf membajak TB Charles 001 milik PT Rusianto Bersaudara. Dari 13 anak buah kapal (ABK), tujuh disandera, enam lainnya dilepas.

Luhut menuturkan pemerintah akan mengambil langkah lebih tegas dan sekaligus strategi agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Dari pembicaraan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Luhut menyebutkan penculikan kali ketiga itu membuat pemerintah seperti dipermainkan.

”Kita enggak mau dijadikan sandera oleh kepentingan-kepentingan seperti ini. Bukan politik. Kok kayaknya kita lihat tuman gitu,” imbuh Luhut.

Salah satu langkah yang telah disepakati adalah penghentian sementara transportasi kapal yang melintasi kawasan perbatasan Filipina dan Indonesia itu. larangan seperti itu sudah dijalankan, tapi TB Charles tetap bisa berlayar. Mereka akan patroli bersama. ”Keputusannya tunggu dua hari lagi,” ujar Luhut.

Terpisah Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono berharap agar keamanan bisa ditingkatkan. Sebab, kontrak batubara disebutnya sudah terjalin dengan berbagai perusahaan. Kalau keamanan kapal pengangkut tidak bisa dijamin, lantas muncul moratorium, harus ada yang bertanggungjawab atas kerugian yang muncul.

’’Kalau sampai ada moratorium, pemerintah mau menanggung kontrak Philipina,’’ katanya di Kementerian ESDM kemarin. Itulah kenapa, dia berharap agar pemerintah bisa mencari solusi terbaik. Jadi, ekspor batubara yang terjalin dengan Philipina bisa diantar sampai tujuan dengan selamat. Dia menyebut, pembeli pasti menunggu batubara itu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jumlah ekspor batubara memang tidak banyak. Meski dia mengaku tidak hafal berapa besarnya ekspor itu, Bambang menyebut ada tanggungjawab kontrak yang harus dihormati. Jika tidak, perusahaan Philipina bisa melakukan penuntutan dan itu merugikan bagi citra Indonesia.

Dia berharap, ada komitmen bersama untuk memberikan keamanan terhadap kapal-kapal dagang. Bambang yakin, jika keamanan diberikan termasuk rute baru, masalah serupa tidak lagi terulang.

’’Masalah keamanan saja. Bagaimana bisa sampai di Philipina tanpa melalui Sulu yang ada pembajakan,’’ katanya. (dim/jun)

Respon Anda?

komentar