Sepotong Cerita Dibalik Penamaan Jalan Sunaryo di Tanjungpinang

1848
Pesona Indonesia
Jalan Sunaryo di Tanjungpinang. foto:fatih/batampos
Jalan Sunaryo di Tanjungpinang. foto:fatih/batampos

Penamaan jalan punya alasan. Pun Jalan Sunaryo di Tanjungpinang Barat. Ada sepotong cerita sarat perlawanan di balik nama Jawa itu.

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang

Ruasnya satu jalur. Dibuka dengan tanjakan dari arah Masjid Raya. Inilah Jalan Sunaryo atau yang dalam bahasa lain, orang Tanjungpinang menyebutnya tanjakan Sunaryo atau bukit Sunaryo. Sebuah nama Jawa yang dijadikan sebagai nama jalan di tanah Melayu.

Tentu ada alasan. Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menceritakan, memasuki pertengahan tahun 1946, suasana politik di Tanjungpinang mamasuki suasana yang genting dan mencapai titik didihnya. Tokoh-tokoh dan organisasi pendukung Republik mulai menyusun sejumlah gerakan yang dipandang ekstrimis oleh Coenrad, Komandan Reserse (Hoofd Recherche) Polisi Belanda, dan Residen Belanda di Tanjungpinang. Akibatnya, penangkapan dan penggeledahan sejumlah tokoh revolusi di sejumlah tempat di Tanjungpinang.

Memanasnya suhu politik ini, kata Aswandi, dimulai oleh seorang Sunaryo. Agitasi-agitasi yang dilakukan oleh Sunaryo sebagai Komandan Pos Polisi Belanda di Tanjungpinang, yang juga anggota Gerakan Merah Putih dan tokoh Badan Kedaulatan Indonesia Riouw (BKIR). Walaupun berdinas sebagai anggota Veldpolitie Belanda, Sunaryo dikenal sangat membenci dan anti Belanda.

“Aksi-aksi Sunaryo selalu menjengkelkan pemerintah Belanda di Tanjungpinang,” terang Aswandi.

Laporan-laporan polisi dan jaksa Belanda di Tanjungpinang mencatat, bahwa Sunaryo pernah beberapa kali mengumpulkan uang untuk membantu aktivitas kurir perwakilan Republik Indonesia yang selalu berulang-alik ke Tanjungpinang mengumpulkan informasi tentang keuatan militer Belanda.

Sunaryo, sambung Aswandi, juga dilaporkan selalu mengumpulkan eks Giyutai (tentara pembera pulau-pulau pada zaman jepang) pada sebuah rumah makan Padang di Tanjungpinang yang dijadikannya markas Gerakan Merah Putih.

“Bahkan, dalam laporannya kepada Jaksa Agung di Batavia, Residen Riau menyebutkan bahwa Soenaryo antara lain kerap menyalahgunakan dan mempertaruhkan jabatannya sebagai guru sekolah polisi di Tanjungpinang dengan melakukan propaganda bagi Gerakan Merah Putih dan menyebarkan sentimen anti Belanda kepada murud-muridnya,” tutur Aswandi.

Sebagai ilustrasi, laporan rahasia yang dimuat dalam laporan Algemeene Politie di Tanjungpinang itu mencatat bahwa Sunaryo pernah menghasut murid-muridnya dalam sebuah latihan menggunakan senjata.

“Sunaryo bahkan dengan berani berkata, ‘pertama-tama, sekarang saya ajarkan Anda menggunakan senjata yang baik, jika kita segera merdeka prajurit kita bisa melawan Belanda menggunakan [senjata] ini,'” kata Aswandi merujuk bukti sejarah yang dimilikinya.

Sunaryo juga tidak pernah berhenti untuk selalu mendesak BKIR mengusulkan dan memberitahu Belanda bahwa mereka akan menaikkan bendera merah putih pada ulang tahun kemerdekaan yang pertama yang akan diperingati di Tanjungpinang pada 17 Agustus tahun 1946.

“Sebuah permohonan yang tak mungkin dikabulkan pada masa itu,” terangnya.

Kekhawatiran pemerintah Belanda tindak-tanduk Sunaryo, semakin memuncak, ketika diketahui bahwa ia akan melakukan sebuah peemberontakan yang didukung oleh 100 orang polisi bersenjata. Akibatnya ia dipecat dari kepolisian dan ditahan di penjara benteng KNIL di Bukit Tanjungpinang (sekarang Rumah Sakit AL Tanjungpinang) setelah melalui serangkaian pemeriksaan pada 3 Juli 1946.

Penahanan Sunaryo berimbas panjang. Semakin membuat suhu politik dan aktivitas organisasi pendukung kemerdekaan di Tanjungpinang semakin riuh. Apalagi ketika penahanan itu berakhir dengan kematian Sunaryo secara tidak wajar.

“Ia gugur wira bangsa dan martir di pentas revolusi di Kepulauan Riau,” kata Aswandi.

Laporan-laporan Jaksa tentang pemeriksaan kasus kematian Sunaryo ini jelas menyebutkan bahwa ia dibunuh oleh serdadu Keyman Bruno. Sementara sumber lokal menyebutkan, peritiwa ini diawali dengan penghinaan Keyman terhadap Republik Indonesia di depan Sunaryo. Akibatnya, menurut Keyman, Sunaryo gelap mata dan emosi sehingga berusaha merampas sten-gun. Namun sebelum berhasil Keyman Brono lebih dulu melepaskan tembakan.

“Mula ia dimakamkan di Taman Bahagia. Tapi, atas jasanya di panggung revolusi, baru pada tahun 1975 jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Pusara Bakti, Tanjungpinang,” kata Aswandi. ***

Respon Anda?

komentar