Tenang, Kepri Aman dari Vaksin Palsu

941
Pesona Indonesia
Ilustrasi vaksin bayi. Foto: istimewa
Ilustrasi vaksin bayi. Foto: istimewa

batampos.co.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kepulauan Riau memeriksa 13 sarana pelayanan kesehatan dan satu sarana distribusi kesehatan di Batam terkait peredaran vaksin palsu di wilayah Jakarta, Bogor, Banten, dan Jawa Barat. Tidak ditemukan satu pun vaksin palsu dari ke-14 sarana pelayanan dan distribusi kesehatan itu.

“Kami belum menemukan indikasi ada (vaksin) dari sumber yang tidak resmi. Semua sudah sesuai kriteria,” kata Kepala BPOM Kepri, Setia Murni.

Vaksin palsu itu, menurut Setia Murni, sulit dibedakan dari vaksin asli secara kasat mata. BPOM pun mendeteksi keaslian vaksin dari surat-surat pengadaan vaksin tersebut. Vaksin palsu biasanya disuplai dari sumber yang tidak resmi.

“Misalnya, sales freelance,” ujarnya.

Selanjutnya, BPOM akan meningkatkan kerjasama dengan seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota se-Kepri dalam pengawasan pemberian vaksin. Seperti misalnya, memeriksa rumah sakit-rumah sakit swasta di kabupaten/kota tersebut.

“Saya sudah berbincang dengan Pak Tjetjep (Kepala Dinas Kesehatan Kepri – Tjetjep Yudiana) untuk memantau sarana kesehatan di kabupaten/kota,” tuturnya.

Kasus peredaran vaksin palsu ini merebak sepekan terakhir. Ini setelah jajaran Bareskrim Polri membongkar peredarannya di sejumlah wilayah di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Sejumlah vaksin yang dipalsukan adalah vaksin campak, polio, BCG, tetanus, dan hepatitis B.

Vaksin palsu itu menggunakan botol bekas vaksin. Botol itu kemudian diisi dengan antibiotik Gentacimin yang dioplos dengan cairan infus. Cairan lain yang juga digunakan sebagai oplosan adalah vaksin tetanus yang dicampur dengan cairan infus. Botol-botol itu lalu diberi label.

Pelaku, pasangan suami istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, mengaku sudah memalsukan vaksin tersebut sejak tahun 2003. Vaksin itu, menurut mereka, sudah beredar ke seluruh wilayah Indonesia. (ceu)

Respon Anda?

komentar