Kasihan 6 Gelandangan Ditemukan Mati di Tepi Jalan

1772
Pesona Indonesia

Gelandangan_AFPbatampos.co.id – Sejak awal Juni, enam orang gelandangan meregang nyawa. Mayoritas tentu para gelandangan yang tinggal di jalanan.

Kisah sedih ini terdengar dari Brasil. Temperatur udara Sao Paulo mencapai 3,5 derajat  Celsius. Suhu di kota terbesar di Brasil tersebut terendah sejak 22 tahun terakhir. Hawa dingin ini menjadi musuh utama para gelandangan, selain kelaparan.

Seorang korban tewas merupakan relawan dari lembaga amal Anjos da Noite atau Malaikat Malam. Anjos da Noite biasanya membagikan makanan, air, dan selimut kepada para gelandangan.

Para tunawisma tidak punya pilihan selain tidur di jalanan. Sebab, di Sao Paulo hanya ada 49 selter atau tempat penampungan. Sementara itu, jumlah gelandangan mencapai 16 ribu orang.

Setiap tahun jumlah gelandangan naik 5 persen. Sebanyak 80 persen di antaranya laki-laki dan 2,5 persen anak-anak.

Pemerintah Kota Sao Paulo menampik bahwa enam kematian itu berhubungan dengan hawa dingin. Meski begitu, mereka kini menetapkan status siaga satu.

Perubahan cuaca yang cukup ekstrem tersebut memang membuat orang-orang yang tinggal di jalanan kota berpenduduk 20 juta jiwa tersebut kelimpungan. Selama ini Brasil terkenal sebagai negara yang memiliki iklim tropis hampir sepanjang tahun.

’’Hidup di jalanan sangat sulit dan bahaya,’’ kata Marcio Carvalho, 41, salah seorang gelandangan di Sao Paulo, sambil terus menggigil. Dia sudah mengenakan tiga lapis selimut, tetapi hawa dingin tetap merasuk serasa sampai di tulangnya. Carvalho sudah berada di jalanan Sao Paulo selama tiga tahun.

Kondisi Carvalho dan kawan-kawan senasibnya diperparah razia yang dilakukan Metropolitan Guard Sao Paulo. Pasukan keamanan kota itu mengambili kasur, kardus-kardus, dan berbagai benda milik para gelandangan.

Tindakan tersebut memicu kemarahan setelah diberitakan berbagai media lokal. Sebab, mengambili barang-barang pribadi para gelandangan di tengah cuaca yang ekstrem dinilai tidak manusiawi.

Wali Kota Sao Paulo Fernando Haddad menegaskan, dirinya tidak ingin para gelandangan menguasai area publik dengan gubuk dan perlengkapan lainnya yang mereka bawa.

Namun, setelah terjadi kemarahan publik, dia menegaskan bahwa barang-barang pribadi milik para gelandangan tidak akan diambil. (AFP/Plus55/sha/c15/any)

Respon Anda?

komentar