KPK Dalami Peran Anggota DPR RI dari Demokrat yang Terjaring OTT, Apakah Calo Anggaran?

375
Pesona Indonesia
Anggota Komisi III DPR RI I Putu Sudiartana terjaring OTT KPK kasus suap Infrastruktur di Sumbar. Foto: istimewa
Anggota Komisi III DPR RI I Putu Sudiartana terjaring OTT KPK kasus suap Infrastruktur di Sumbar. Foto: istimewa

batampos.co.id – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Demokrat I Putu Sudiartana yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK melakukan manufer yang janggal. Tugasnya yang membidangi hukum malah mengurusi masalah proyek pembangunan infrastruktur yang menjadi domain Komisi V DPR RI.

BACA: Resmi Tersangka, Kader Demokrat yang Terjaring OTT Ditahan KPK

Akibat manufernya itulah, Putu akhirnya terjerat OTT KPK, Selasa (28/6/2016) malam bersama stafnya Novianti, pihak swasta Suhemi, pengusaha Yogan Askan, dan Kepala Dinas Prasana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumatera Barat, Suprapto.

Putu dan empat koleganya itu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan, Kamis (30/6/2016) dini hari WIB.

BACA: Kader Demokrat Terjaring OTT KPK, SBY Rapat Mendadak

Putu ditahan di Rumah Tahanan Polres Metro Jakarta Selatan. Sedangkan stafnya Novianti di Rutan KPK; Suhemi ditahan di Rutan Pomdam Jaya, Guntur, Jaksel; Yogan di Rutan Polres Metro Jakarta Pusat; dan Suprapto dijebloskan ke Rutan Salemba, Jakarta Pusat.

Nah, guna mengetahui lebih jauh peran Putu, KPK memastikan akan mengembangkan perkara dugaan suap terkait usulan proyek pembangunan jalan di Sumatera Barat dalam APBN-P 2016.

“Iya, masih dalam pengembangan,” kata Basaria saat ditanya apakah peran Putu sebagai calo anggaran, saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu (29/6/2016). ‎

BACA: Anggota DPR RI Terjaring OTT KPK Kader Partai Demokrat

Basaria membenarkan Putu memang tidak membidangi proyek tersebut. Namun, dia belum bisa menceritakan dengan rinci.

“Mengapa dalam kondisi (Putu) bukan sarpras jalan tapi bisa. kami terus terang belum tahu,” ujar Basaria. ‎

Putu diketahui ditangkap oleh KPK bersama dua orang lainnya yakni, Novianti selaku Sekretaris Putu dan Suhemi pihak swasta. Mereka bertiga merupakan pihak penerima suap.

BACA: Anggota DPR RI Terjaring Operasi Tangkap Tangan KPK

Sedangkan dua orang lainnya adalah, Kepala Dinas Prasana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumatera Barat, Suprapti dan pengusahan bernama Yogan Askan selaku pemberi suap.

Putu disangka menerima duit suap bersama-sama dengan Novianti Sekretaris Putu dan Suhemi pihak swasta. Penerimaan suap itu berkaitan dengan pengesahan anggaran 12 proyek jalan di Sumbar untuk dimasukan ke APBNP 2016 yang disahkan pasa Selasa 28 Juni 2016.

Putu yang juga anggota Komisi III memang tidak membidangi proyek jalan. Namun, Putu diduga menerima duit suap lantaran memberikan pengawalan sampai disahkannya anggaran untuk 12 proyek jalan tersebut.‎

Selain ketiganya, KPK juga menetapkan dua orang sebagai tersangka pemberi duit suap. Mereka adalah, Kepala Dinas Prasana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumatera Barat, Suprapto, dan pengusaha bernama Yogan Askan.

Dalam operasi tangkap tangan itu, penyidik KPK berhasil mengamankan uang senilai SGD 40.000 atau Rp 400 juta dan bukti tranfer senilai Rp 500 juta.‎

Atas perbuatan Putu, Novaini, Suhemi  yang menerima suap disangka melanggar pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-undang tindak pidana korupsi Nomor 30 tahun 2002.

Sementara, Kepala Dinas Prasana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumatera Barat, Suprapto dan pengusahan bernama Yogan Askan selaku pemberi suap disangka dengan Pasaln 5 huruf a dan Pasal 13 jo Pasal 55 ayat 1 ke1 KUHPidana. (put/jpg)

Respon Anda?

komentar