SMAN 4 Batam Tambah 3 Kelas, Seluruh Siswa Bina Lingkungan Diterima

863
Pesona Indonesia
Siswa SMA Negeri 4 Batam saat mengikuti ujian beberapa waktu lalu. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Siswa SMA Negeri 4 Batam saat belajar.
Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Banyaknya jumlah siswa bina lingkungan yang tinggal dekat lokasi SMAN 4 Batam yang tidak dterima, bisa bernafas lega. Pasalnya setelah melakukan rapat dengan Dinas Pendidikan Kota Batam, pihak sekolah akhirnya menambah ruang kelas dari tujuh menjadi 10 kelas.

Kepala Sekolah SMAN4 Batam, Tapi Winarti mengatakan total keseluruhan siswa yang diterima menjadi 453 siswa. “Jumlah ini naik dari kuota awal yakni 252 siswa,” kata dia.

Sistem yang digunakan tahun ini, sekolah hanya sebagai pelaksana, bukan pengambil kebijakan. Hal ini mengakibatkan banyak siswa yang berada dekat sekolah tersingkir dengan siswa yang telah mendaftar secara online.

Pihak sekolah terpaksa menambah kelas menjadi 10 agar semua siswa bisa tertampung. “Kita terpaksa gunakan ruang lab fisika, biologi, dan kimia untuk proses belajar mengajar nanti,” terang perempuan yang pernah menjadi kepala sekolah SMAN3 Batam ini.

Sementara itu, suasana keributan orangtua murid yang anaknya tidak diterima juga terjadi di SMPN 25, Tiban Indah. Puluhan orangtua yang mengaku tinggal dekat dengan lokasi sekolah meminta anaknya diterima di SMPN 25 Batam.

“Saya tinggal di RT 03, tapi kok tidak diterima,” ujar Rina, salah seorang wali murid.

Menurutnya, penerimaan siswa di SMPN 25 Batam terkesan tebang pilih. Karena tidak semua RT diterima. “Ada yang tinggal di sana jauh dari sekolah malah diterima,” kesalnya.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Riki Indrakiri mengungkapkan, siswa yang diterima berdasarkan domisili atau bina lingkungan tidak transparan dan dibatasi RT yang boleh mendaftar di SMPN 25.

“Harusnya dari 10 persen itu siswa yang diterima merata diseluruh RT yang terdekat dari sekolah,” jelas Riki.

Dia berharap kedepan masalah bina lingkungan tidak menjadi masalah lagi. Pihaknya juga telah meminta kepada walikota Batam, kalau bisa pola wajib belajar sembilan tahun harusnya berdasarkan rayon.

“Yang radius terdekat sekolah itu diutamakan,” harapnya.(cr17)

Respon Anda?

komentar