Pemudik ke Lingga Membludak, 2 Kapal Roro Langsung Dikerahkan

1096
Pesona Indonesia
Arus di Pelabuhan Tanjung Buton Daik, Jumat (1/7) sore. foto:hasbi/batampos
Arus di Pelabuhan Tanjung Buton Daik, Jumat (1/7) sore. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Lonjakan arus mudik mulai nampak padat tujuan Lingga pada H-5. Ribuan warga yang tinggal dan berkerja di luar daerah membludak dan memadati kapal Roll on roll off (Roro) dari Batam. Karena banyaknya penumpang, penyedia layanan transportasi pun harus mengerahkan 2 unit roro untuk mengakomodir seluruh penumpang Lingga sampai ke tujuan.

Informasi yang diperoleh Batam Pos, roro yang berangkat dari Batam pada hari Kamis (30/6) kemarin, mengerahkan 2 unit kapal roro. Membludaknya penumpang yang ingin mudik tujuan Dabo Singkep dan Daik, membuat ruang kapal penuh sesak oleh penumpang dan kendaraan bermotor. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Fadli salah seorang penumpang mengatakan, awalnya roro yang bergerak dari Batam dilarang berangkat karena kelebihan kapasitas. Namun, penumpang tetap mendesak untuk diberangkatan. Beruntung tidak timbul kericuhan karena penumpang yang sudah menunggu lama di pelabuhan.

“Awalnya kapal dilarang berangkat sama Syahbandar, karena kelebihan kapasitas. Roro penuh oleh kendaraan, orang dewasa, anak-anak dan barang. Hampir terjadi kericuhan. Untung ada solusi penyedia layanan menambahkan satu unit roro lagi tujuan Lingga. Jadi semua bisa mudik,” kata Fadli, Jumat (1/7).

Dikatakan Fadli, adanya transportasi roro yang melayani rute ke Lingga sejak beberapa bulan terakhir memberikan pilihan ekonomis bagi pemudik. Harganya yang terjangkau menjadi pilihan warga Lingga yang di luar daerah. Selain itu, tiket feri reguler di Tanjungpinang yang ludes hingga H-1 juga membuat rute ini menjadi alternatif bagi pemudik.

“Untunglah sekarang sudah ada roro dengan harga cukup terjangkau. Kita bisa bawa kendaraan juga saat mudik,” jelasnya.

Tingginya lonjakan mudik saat H-5 tujuan Lingga, juga diduga karena warga yang berada diperantauan tak mau ketinggalan momen malam 7 likur, salah satu budaya dan tradisi warga mengisi malam ke 27 bulan puasa.

“Saya pulang mau bertemu keluarga dan menikmati momen-momen di kampung yang tidak akan pernah kita temukan di kota. Salah satu tradisi 7 likur ini yang biki rindu kampung,” jelasnya.

Sementara itu, arus mudik feri reguler dari Tanjungpinang juga mengalami lonjakan sejak H-10 lalu. Informasi terakhir yang diperoleh Batampos, tiket kapal habis hingga H-1. Namun untuk mengantisipasi hal itu, Dishubkominfo Lingga menyarakan kepada penumpang tujuan Lingga di Tanjungpinang yang belum memperoleh tiket untuk mendaftar kepada operator sembari menyiapkan armada tambahan pada H-2 dan H-1 mendatang.

Selain itu, di bukanya jalur Sungai Tenam-Batam pada 27 Juni lalu, juga menjadi pengurai kepadatan arus mudik tujuan Lingga. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar