Ahai,….. Malam 7 Likur di Daik Paling Meriah

3046
Pesona Indonesia
7likur
foto: hasbi / batampos

batampos.co.id – Tradisi 7 Likur dengan warga Daik, Bunda Tanah Melayu sudah tak bisa dipisahkan. Ia ada dalam satu paket peringatan malam ke 27 hingga penghujung bulan Ramadan.

Bagai pemeran seni rupa disudut dan ruas-ruas jalan, ornamen pintu gerbang yang menyerupai masjid, liuk ukir dan kaligrafi yang dibalut cahaya lampu teplok dengan beragam kreasi sedemikian rupa dan warna.

Indah, megah dan selalu menjadi kerinduan tersendiri merayaakan malam-malam 10 terakhir puasa di Daik. Selain jadi momentum berkumpul bersama keluarga, tradisi di kampung kecil Daik ini, menjadi wadah berkreasi anak-anak muda dengan seni-seni islam, seperti ukir dan kaligrafi.

Aida, salah seorang warga Daik yang cukup lama tinggal diperantauan merasa haru masih bisa menyaksikan lagi kebersamaa orang-orang melayu di Daik, menghias malam-malam terakhir ramadhan. Sudah lama ia tak pulang, apalagi dapat menyaksikan langsung malam 7 likur yang membekas diingatannya saat masih kanak-kanak dulu.

“Suasana 7 likur ini memang memberi kesan tersendiri. Seperti kembali kemasa-masa dulu, bermain kembang api di rumah. Bertemu banyak orang juga saudara-mara,” kesan Aida mengenangnya.

Namun kini terang Aida, meski sudah 5 tahun ia tak pulang, suasana 7 likur masih ia temukan dengan rasa yang sama. Kerabat, tetangga dan persaudaraan dengan suasana di kampung Daik yang ramah, sekaligus pusat ibukota kabupaten Lingga ini tak jauh berbeda.

“Jalan-jalannya sudah jauh lebih bagus daripada dulu. Kendaraan jauh lebih banyak. Ada perkantoran. Namun tradisi tetap bertahan dan dijaga dengan baik. Daik harus tetap seperti ini,” harap Aida.

foto: habis / lingga
foto: hasbi / batampos

Maksudnya, tetap menjaga tradisi yang ada. Meski sedikit demi sedikit fasilitas, sarana semakin maju, tradisi menjadi bumbu nostalgia anak-anak jati diri melayu untuk kembali merayakan hari raya dan tradisi-tradisi selama ramadhan di kampung halamannya.

“Momen-momen seperti ini yang membuat kita selalu rindu kampung. Momen ini juga yang ingin kita beri tau kepada anak-anak begitu istimewanya bulan puasa dan hari raya di Daik. Sambil mudik, mengenalkan tradisi kepada anak-anak kita yang besar dikampung orang,” tambanya.

Pantauan dilapangan, peringatan malam 7 likur, Sabtu (1/7) lalu begitu meriah. Ribuan warga tumpah dijalan. Baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat bersiar mengelilingi kota Daik, menyaksikan hasil kreasi warga membangun pintu gerbang dan jalan-jalan yang dihiasi lampu teplok. Momen ini juga dimanfaatkan warga untuk berfoto mengabadikan gambar dan ada juga yang berjualan kembang api mencari rezeki. (mhb)

Respon Anda?

komentar