Miris! Tak Mampu Bayar Ambulans, Petani Miskin Bonceng Jenazah Anaknya dari Rumah Sakit

7333
Pesona Indonesia
Sujana dan Sari Saat membawa pulang jenazah anaknya dari Instalasi Forensik Sanglah. (Foto: Ratu Ayu Astri Desiani/Radar Bali)
Sujana dan Sari Saat membawa pulang jenazah anaknya dari Instalasi Forensik Sanglah. (Foto: Ratu Ayu Astri Desiani/Radar Bali)

batampos.co.id – Sebuah foto yang diunggah Radar Bali (Jawa Pos Group) di fanpage-nya telah membuat heboh netizen baru-baru ini.

Foto itu menggambarkan kepiluan petani bambu yang miskin dari Kabupaten Karangasem, Bali. Foto tersebut diambil Sabtu, (2/7) di pelataran RSUP Sanglah.

Petani miskin itu merupakan pasangan suami istri, Wayan Sujana (45) dan Wayan Sari (40). Keduanya nekat membawa pulang jenazah sang anak setelah dinyatakan meninggal usai operasi pembuatan lubang anus di RSUP Sanglah dengan naik sepeda motor.

Berita itu pun jadi viral di dunia maya. Sembilan jam pasca diunggah redaksi radarbali.jawapos.com, ribuan netizen membagikan berita tersebut dan jadi bahan perbincangan di grup diskusi publik. Sampai saat ini, sudah 1.280 yang membagikan.

Share postingan itu tentunya disertai dengan komentar. Ada yang miris, iba, dan kasihan terhadap nasib kepada petani miskin itu. Sikap prihatin netizen muncul karena pihak rumah sakit tidak menyediakan ambulans.

Banyak netizen yang mengecam pihak rumah sakit, pemprov Bali dengan program Bali Mandara-nya, hingga politisi korup.

“Sudah terbalik zaman sekarang! Yang kaya dapat fasilitas gratis, yang miskin harus bayar mahal segala tetek bengek. Semoga Tuhan tidak tidur aja,” ujar Widiani Ani di laman RadarBali.com.

“Kasihan…! Pemerintah gimana ini,” tutur Saba Bali.

“Pak Mangku Pastika sudah tau nggak hal ini…!!!” papar Anggita Apsari.

Dan, masih banyak yang ikut berkomentar. Mayoritas mengecam tidak kepedulian pihak rumah sakit.

Termasuk dengan Pemkab Karangasem yang hanya menyumbang Rp 300 ribu untuk keluarga pasutri Sujana–Sari.

Padahal, untuk biaya berobat di RSUP Sanglah mereka telah menghabiskan anggaran Rp 10 juta lebih. (JPG)

Respon Anda?

komentar