Batam Diserbu Pendatang Baru, Persaingan Kerja Makin Ketat

1202
Pesona Indonesia
Arus balik dari berbagai daerah memadati Pelabuhan Domestik Sekupang, Minggu (10/7). Hari ini adalah puncak arus balik setelah lebaran. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Arus balik dari berbagai daerah memadati Pelabuhan Domestik Sekupang, Minggu (10/7). Hari ini adalah puncak arus balik setelah lebaran. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Batam tetap jadi primadona bagi para pencari kerja. Pada musim arus balik Lebaran tahun ini, diperkirakan ada belasan ribu pendatang yang akan mencari peruntungan di kota industri ini.

Randi Saputra, salah satu pendatang baru saat tiba di pelabuhan feri Domestik Sekupang (PDS), Batam, Minggu (10/7/2016) pagi mengatakan ia memutuskan datang ke Batam untuk mencari pekerjaan.

“Iya, saya baru sampai dari Dumai,” kata dia sembari menikmati makanan di kantin PDS.

Baca Juga: Investasi Asing di Batam Meningkat, Pendatang Baru Siapkan Berkas Lamaran Kerja

Bagi Randi, ini kali kedua ia menginjakkan kaki di Batam. Tahun lalu, tepatnya pada bulan Maret 2015, dia pernah ke Batam untuk menyelasaikan tugas praktik dari sekolahnya. Kini dia kembali ke kota ini setelah lulus sekolah.

“Saya ingin bekerja di sini,” ujar lulusan SMK jurusan IT ini.

Selain bekerja, dia berencana akan melanjutkan pendidikan di Batam. “Di sini (Batam, red) bisa bekerja sambil kuliah. Jadi mandiri tidak harus menyusahkan orangtua di kampung,” ucap lelaki kelahiran 1995 ini.

Diakuinya, keberadaan dia di Batam sekarang ini juga tak lepas dari dorongan saudaranya yang lebih dulu menginjakkan kaki di Batam.

“Kakak saya di sini kuliah dan bekerja, jadi saya termotivasi dari dia juga sebenarnya,”

Untuk pekerjaan, lanjut dia sudah ada tempat. Semua perlengkapan seperti ijazah sudah dipersiapkannya.

“Kakak saya sudah carikan, kebetulan dia punya kenalan di salah satu rumah makan cepat saji. Jadi saya tinggal menunggu saja,” tambahnya.

Baca Juga: Punya Keahlian, Silakan Cari Kerja di Batam

Selain karena ada saudara, Randi mengaku memilih bekerja di Batam karena menurutnya upah pekerja di kota ini jauh lebih tinggi dibandingkan di Dumai.

“Di kampung gaji kecil, lowongan pekerjaan juga jarang, paling-paling berjualan atau ikut orangtua berkebun. Semoga di sini saya bisa lebih baik,” harapnya.

Randi hanyalah satu dari belasan ribu pencari kerja yang diperkirakan akan membanjiri Batam pada musim arus balik Lebaran tahun ini.

Berdasarkan catatan Bandara Internasional Hang Nadim Batam, jumlah penumpang arus balik selalu lebih banyak dibandingkan dengan penumpang arus mudik. Rata-rata peningkatannya mencapai 10 persen.

Kabag Umum Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso, mengatakan tahun lalu jumlah pemudik melalui bandara mencapai 100 ribu orang. Namun jumlah penumpang arus balik mencapai 110 ribu orang.

“Prediksinya jumlah penumpang yang datang saat arus balik meningkat sekitar 10 persen,” katanya pada Batam Pos, Sabtu (9/7/2016).

Jika tren tersebut masih akan terjadi pada tahun ini, maka perkiraan penumpang arus balik melalui bandara tahun ini mencapai 132 ribu orang. Sebab tahun ini jumlah pemudik melalui bandara sebanyak 120 ribu orang.

“Biasanya orang yang mudik itu kembali membawa satu atau dua saudaranya saat kembali ke Batam. Umumnya untuk mencari kerja,” kata Suwarso.

Hal ini diakui Suhartono saat ditemui di Bandara Hang Nadim, akhir pekan lalu. Pria asal Surabaya, Jawa Timur, ini mengaku baru saja mudik dan kembali ke Batam bersama dua adiknya dan satu orang temannya.

Pria yang bekerja di Tanjunguncang ini menjelaskan, sebenarnya dua adiknya itu sudah bekerja di Surabaya. Namun karena penghasilannya kecil, dia mengajak keduanya untuk bekerja di Batam.

“Biasanya habis lebaran ini banyak yang buka lowongan, mungkin ada rezeki mereka di sini,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Aldi. Pemuda asal Padang ini mengaku membawa satu orang temannya ke Batam, Devra. “Teman kuliah dulu, tapi hingga kini belum dapat kerja juga di sana,” ungkapnya.

Aldi mengaku merasa iba dengan temannya tersebut. “Padahal tamatan S1, tapi tak kunjung dapat kerjanya,” ujarnya.

Devra sendiri mengaku sudah sering melamar kerja di Padang. Termasuk melamar CPNS. Namun semuanya gagal.

Pemuda lulusan Teknik Industri ini menuturkan lowongan pekerjaan di Padang sangat minim. “Industri tak banyak di sana, di sini banyak kata Aldi,” katanya.

Kepala Bidang Penempatan Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Vera mengatakan serbuan pencari kerja baru setelah momen arus balik Lebaran ini memang mengalami peningkatan. Pencaker yang berasal dari kalangan lulusan baru sangat mendominasi.

“Mereka masih berpikir wow terhadap Batam, penghasilan yang besar dan juga gaya hidup,” kata dia.

Padahal, saat ini hampir semua kota memiliki standar upah minimum yang sama dengan Batam.

Menurutnya, selama 2016 sudah ada sekitar 9.000 kartu AK1 atau kartu pencari kerja yang telah dirinya tandatangani. Rata-rata hampir seribu lebih pencari kerja setiap bulannya yang mencari pekerjaan, dan menunggu penempatan.

“Hingga bulan kemarin (Juni, red) jumlahnya sudah mencapai sembilan ribu lebih data pencari kerja,” terangnya.

Dalam skala nasional, jumlah pengangguran Batam mencapai 6,4 persen dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Jumlah ini akan terus bertambah saat urbanisasi setelah momen lebaran.

Faktor minimnya lapangan kerja yang tersedia serta tidak memiliki keahlian khusus membuat pencaker semakin kesulitan untuk memperoleh pekerjaan.

“Alhasil, mereka mau bekerja apa saja asal dapat penghasilan, termasuk dibayar di bawah standar,” lanjutnya.

Saat ini lowongan yang tersedia jumlahnya hanya setengah dari jumlah pencari kerja. Berkaca dari tahun 2015, jumlah pencari kerja mencapai 22 ribu, sedangkan lowongan yang tersedia hanya 11 ribu.

Kini lowongan yang masih mendominasi hanya untuk operator saja. Sedangkan untuk yang level di atasnya seperti supervisor, HRD, dan manajer masih jarang diumumkan secara terbuka.

“Alasannya, karena jabatan tersebut harus orang yang memiliki keahlian, sedangkan SDM yang kita punya hanya untuk tahap operator,” sebut dia.

Dia mengimbau kepada para pendatang, untuk benar-benar membekali diri dengan keahlian yang dibutuhkan seperti manufaktur. Seperti diketahui saat ini ekonomi secara nasional juga tengah melemah, termasuk Batam.

“Bahkan, sektor yang selalu kita anggap menjanjikan selama ini seperti galangan kapal juga tengah mengalami kemunduran,”

Ditambah lagi selama 2016 sudah ada 41 perusahaan yang tutup, atau menghentikan sementara proyek mereka karena kehabisan orderan.

Sepanjang 2015 lalu terdapat 54 perusahaan yang tutup, dan lebih dari 7 ribu karyawan kehilangan pekerjaaan atau dirumahkan. (koran batampos)

Respon Anda?

komentar