Filipina Desak Cina Hengkang dari Laut Cina Selatan

779
Pesona Indonesia
Nine Dash Lines. Foto: istimewa
Nine Dash Lines. Foto: istimewa

batampos.co.id – Mahkamah Internasional bakal memberikan keputusan atas tuntutan Filipina yang meminta Cina hengkang dari perairan yang masuk dalam wilayah beberapa negara tersebut. Filipina menganggap Cina secara sepihak mengklaim wilayah itu.

Rencananya, Mahkamah Internasional akan mengambil keputusan, Selasa (12/7/2016) hari ini.

Sehari menjelang putusan tersebut, aktivis dan penduduk Filipina getol berkampanye untuk mengusir Cina dari Laut Cina Selatan. Tagar #CHexit alias Cina Exit pun bertebaran di dunia maya. Tagar #CHexit itu terinspirasi dari referendum Brexit (British Exit) yang digelar Inggris beberapa waktu lalu.

’’Kami meminta teman-teman kami dari negara-negara lain, utamanya saudara-saudara kami di Asia Tenggara, untuk menyerukan #CHexit. Tiongkok harus berhenti mem-bullly negara-negara tetangganya,’’ ujar Mong Palatino, salah seorang aktivis, saat melakukan aksi protes di luar gedung konsulat Cina di Manila, Filipina.

Di hari yang sama, tagar #CHexit itu langsung viral di Facebook maupun Twitter. Hampir seluruh penduduk Filipina ingin agar Cina mengembalikan wilayah Laut Cina Selatan yang masuk teritori Filipina.

Selama ini, Cina mengklaim hampir seluruh area di Laut Cina Selatan. Termasuk perairan yang dekat dengan Filipina dan beberapa negara Asia lain seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.

Khawatir akan potensi konflik yang terjadi, akhir pekan lalu pemerintah Filipina mengimbau penduduknya yang berada di Cina agar tidak mendiskusikan masalah politik di area publik. Imbauan itu dikirimkan Kedutaan Besar Filipina di Cina melalui pesan di telepon seluler masing-masing penduduk di perantauan tersebut.

Bukan hanya itu, mereka juga dilarang membahas masalah sengketa kedua negara via media sosial. Penduduk diminta selalu membawa paspor dan surat izin tinggalnya sepanjang waktu. Jika ada insiden yang tidak diinginkan, mereka diminta segera menghubungi kedutaan maupun kepolisian Cina.

Putusan Mahkamah Internasional itu sebenarnya tidak membawa efek apa pun bagi Cina. Sebab, kalaupun tuntutan Filipina dikabulkan, putusan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum yang bisa memaksa Cina untuk menurut. Tiongkok pernah menyatakan tidak akan menerima, mengakui, maupun menaati putusan itu.

Harian People’s Daily kemarin menuding Amerika Serikat (AS) telah menggunakan kasus Laut Cina Selatan untuk menghalangi kebangkitan Cina. Paman Sam selama ini memang berada di pihak Filipina. Cina menuding AS sengaja ikut campur, mencari masalah, serta memutarbalikkan fakta yang ada.

’’Jelas sekali dalam masalah Laut Cina Selatan, Cina bukanlah penjahatnya, melainkan korban,’’ tulis People’s Daily.

Adapun versi Cina, reklamasi dan pembangunan yang dilakukan di Laut Cina Selatan menguntungkan komunitas internasional. Termasuk untuk navigasi maritim warga sipil. China Daily kemarin menuliskan bahwa Cina segera mengoperasikan mercusuar yang kelima di Mischief Reef, Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan.

Selain membangun pangkalan militer di kawasan sengketa itu, Cina juga mengklaim sebagian wilayah Laut Cina Selatan sebagai wilayah tangkapan ikan tradisional mereka. Klaim inilah yang kerap memicu ketegangan dengan Indonesia, sebab sebagian wilayah tersebut masuk kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. (AFP/Reuters/The Guardian/NYT/sha/c23/any)

Respon Anda?

komentar