Ada Rumah Sakit di Batam yang Pakai Vaksin Palsu

3041
Pesona Indonesia
Ilustrasi vaksin bayi. Foto: istimewa
Ilustrasi vaksin bayi. Foto: istimewa

batampos.co.id -Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kepri sebelumnya menyebut kalau di Kepri tidak ada peredaran vaksin palsu. Namun, penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menyebut, dari 14 rumah sakit di Indonesia yang terindikasi menerima vaksin palsu, ada rumah sakit di Batam yang masuk dalam 14 RS tersebut.

“Kalau rumah sakit negeri (pemerintah) tidak ada. Ada 14 ya (jumlahnya),” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Agung Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (12/7/2016).

BACA: Kumpulan Berita Vaksin Palsu

Agung belum mau merinci dan menyebutkan nama-nama rumah sakit ini. Agung hanya menyebut lokasi belasan fasilitas kesehatan tersebut berada di Pulau Jawa dan Sumatra.

“Masih kami lakukan pendalaman. Sudah 19 saksi, dan tiga saksi ahli kami mintai keterangan. Lainnya masih proses pemanggilan,” kata Agung.

Soal sanksi, kata Agung, nantinya dikembalikan ke Kementerian Kesehatan dan BPOM.

Agung menambahkan, selain penyebarannya yang sudah terdeteksi hingga Sumatra (Pekanbaru, Medan, Batam, dan lainnya), polisi mengungkapkan satu pelaku saja bisa memakan ratusan korban.

Menurut Agung, salah satu pelaku yang berada di Ciracas, Jakarta Timur diketahui telah mengakibatkan 197 bayi terpapar vaksin palsu. Diketahui, pelaku tersebut berinisial ME.

ME adalah seorang tenaga medis yang juga pemilik klinik yang beroperasi sejak 2010. Selain dia, penyidik juga telah menetapkan 17 orang lain dari beberapa rantai distribusi sebagai tersangka.

“(Tindak lanjut 197 korban) nanti dari Kemenkes. Bisa ditanyakan ke sana. Mulai minggu depan kita mulai bergerak untuk penanganan,” kata Agung.

Direktur Pengawasan Distribusi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pusat, Arustiono membenarkan vaksin palsu beredar di Batam. Bahkan bukan hanya Batam (Kepri), peredaran vaksin palsu ini juga terjadi di Pekanbaru (Riau), Palembang (Sumsel), Bandar Lampung (Lampung), Serang (Banten), DKI Jakarta, Bandung (Jabar), Surabaya (Jatim), dan Pangkal Pinang (Bangka Belitung).

 

“Ada 39 sampel jenis vaksin yang diambil dari 37 titik fasilitas layanan kesehatan yang tersebar di wilayah tersebut,” kata Arustiono di Jakarta, Selasa (12/7/2016).

Dalam pengujian 39 jenis sampel itu ditemukan empat sampel yang terbukti vaksin palsu. Arustiono menjelaskan sampel-sampel tersebut terbukti palsu karena vaksin hanya mengandung natrium klorida (NaCL) atau garam.

Selain itu ada pula vaksin yang di dalamnya hanya berupa antigen atau perangsang respons kekebalan tubuh.

Di tempat terpisah, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan BPOM telah melaporkan hasil invetigasi atas peredaran vaksin palsu ke Badan Reserse Kriminal Polri. Ia menyebut ada sampel vaksin dari 37 fasilitas kesehatan di sembilan provinsi.

Namun karena alasan penyelidikan, dia enggan menjelaskan secara rinci hasil investigasi tersebut. Ia juga menolak memastikan bahwa seluruh fasilitas kesehatan tersebut menggunakan vaksin palsu.

“Karena kepentingan penyelidikan, kami tidak mau mengganggu, Bareskrim Polri memerlukan (data investigasi tersebut). Ini harus tuntas hingga ke akarnya,” ujarnya.

Kemenkes juga tidak bisa langsung memberikan sanksi kepada fasilitas kesehatan yang terbukti menggunakan vaksin palsu. Karena keberadaan vaksin palsu bisa disebabkan oleh perbuatan oknum.

“Teguran dulu, kami lihat kesalahannya. apakah oknum atau manajemen,” ujar Nila. (cnnindonesia/jpgrup/nur)

Respon Anda?

komentar