Masih di Nusakambangan, Sidang PK Terpidana Mati Kasus Narkoba Ditunda

858
Pesona Indonesia
Kepala Seksi tindak Pidana Umum (Kasipidum) dari Kejari Tanjung Balai Karimun (TBK) Bandry Almy. foto:osias de/batampos
Kepala Seksi tindak Pidana Umum (Kasipidum) dari Kejari Tanjung Balai Karimun (TBK) Bandry Almy. foto:osias de/batampos

batampos.co.id – Sidang peninjauan kembali (PK) terhadap kedua terpidana mati, Jun Hao dan A Yam yang rencananya akan digelar di Pengadilan Tanjungpinang, di tunda, pada Senin (18/7) mendatang. Kedua terpidana adalah pemilik pabrik ekstasi di sebuah rumah kontrakan di Jalan Baran III No 62, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, yang terbesar di Asia Tenggara, dan digerebek aparat pada Desember tahun 2002 silam.

Kepala Seksi tindak Pidana Umum (Kasipidum) dari Kejari Tanjung Balai Karimun (TBK) Bandry Almy, mengatakan sebenarnya eksekusi mati terhadap kedua terpidana sudah bisa dilakukan. Tetapi undang-undang memberikan hak kepada mereka untuk melakukan Peninjauan Kembali (PK).

”Sebenarnya terpidana dalam kasus ini tiga orang. Salah seorang terpidana yakni Deni, telah meninggal dunia karena sakit,” ujar Bandry, kepada sejumlah wartawan, saat ditemui di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (12/7).

Dikatakan Bandry, sidang PK tersebut terpaksa di tunda, karena dirinya mendapat informasi bahwa kedua terpidana tersebut belum bisa dihadirkan penasehat hukumnya yaitu Bernard Nainggolan. Sebab terpidana itu berada di Lapas Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Timur.

”Mereka ini setiap harinya memproduksi pil ekstasi sebanyak 500 butir. Dan sebelum ditangkap pada Desember tahun 2002 sudah memproduksi sebanyak 15 ribu butir,” kata Bandry.

Sebelumnya, lanjut Bandry, setelah satu dasawarsa tidak dieksekusi. Terpidana mati kasus narkoba itu mengajukan grasi, akan tetapi grasinya di tolak oleh Presiden Joko Widodo.

”Presiden Joko Widodo menolak 64 grasi bagi terpidana mati kasus narkoba. Tidak hanya Jun Hao dan A Yam,” pungkasnya.

Seperti diketahui, A Yam dan Jun Hao dijatuhi vonis mati karena membangun pabrik ekstasi terbesar di Asia Tenggara pada 2002 silam. A Yam mulai membangun pabrik ekstasi di sebuah rumah kontrakan di Jalan Baran III No 62, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, pada April 2002 bekerjasama dengan Jun Hao.

Untuk bahan baku ekstasi, Juan membelinya dari Rudi (DPO) di Jakarta Utara. Pabrik itu juga mempekerjakan seorang karyawan, Denny. Mereka bertiga lalu bahu membahu membuat ekstasi dengan hasil 500 butir per hari. Hingga digerebek aparat pada Desember 2002, mereka sudah mencetak 15 ribu butir ekstasi.

Mereka bertiga pun berbagi tugas, A Yam betugas melakukan pengadukan bahan serbuk untuk menentukan kualitas campuran zat kimia ekstasi. Sedangkan Jun Hao, bertugas menimbang, mengukur dosis bahan baku serbuk yang digunakan untuk membuat ekstasi. Memasukan bahan baku serbuk ke dalam alat yang terbuat dari besi berlobang ukuran pil dan setelah penuh, sebuk di dalam obang itu ditutup dengan pin dan bergambar sesuai yang dikehendaki menjadi merek.

Lalu setelah dipress, maka dikeluarkan dari dongkar dan jadilah pil setan itu. Sama dengan Jun Hao, Deni, yang juga terpidana namun, sudah terlebih dulu meninggal karena sakit, juga bertugas mencetak pil ekstasi. Dari satu kilogram bahan baku dapat menghasilkan enam ribu butir.

Setelah jadi pil setan tersebut, mereka merekrut Yunianto, untuk dijadikan distributor daerah Kabupaten Karimun. Kemudian Hendrik (DPO), distributor di daerah Batam.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar