Terumbu Karang di Bintan Mengalami Kerusakan

1068
Pesona Indonesia
 Penanggung Jawab Coral Reef Rehabilitation and Management Program COREMAP-CTI Kabupaten Bintan, Sarvidin sedang melakukan monitoring terhadap pengembangbiakan terumbu karang dengan menyelam di Perairan Kawasan Wisata Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, kemarin. F. Harry/Batampos
Penanggung Jawab Coral Reef Rehabilitation and Management Program COREMAP-CTI Kabupaten Bintan, Sarvidin sedang melakukan monitoring terhadap pengembangbiakan terumbu karang dengan menyelam di Perairan Kawasan Wisata Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, kemarin. F. Harry/Batampos

batampos.co.id – Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI) Kabupaten Bintan mendapati terumbu karang yang berada di perairan Kabupaten Bintan mengalami pemutihan atau kerusakan (coral bleaching) sebesar 12 persen. Kemungkinan besar kerusakan terumbu karang disebabkan oleh gangguan lingkungan dan naiknya suhu permukaan air laut.

“Dari hasil monitoring kita dalam beberapa bulan ini di perairan Bintan. Kita dapati adanya kerusakan pada terumbu karang sebesar 12 persen,” ujar Penanggung Jawab Coral Reef Rehabilitation and Management Program COREMAP-CTI Kabupaten Bintan, Sarvidin saat dikonfirmasi, Selasa (12/7).

Dalam menjalankan program COREMAP-CTI di Kabupaten Bintan, lanjutnya, ia melakukan monitoring secara rutin tiap bulannya dengan menyelam ke beberapa titik perairan. Diantaranya Perairan Pantai Trikora, Desa Berakit, Kawasan Wisata Lagoi, Desa Mapur, Pulau Beralas Pasir, Pulau Penyusuk, Kelurahan Kawal, dan Desa Pengudang. Hasilnya, didapati sebagian besar terumbu karang mengalami kerusakan akibat faktor lingkungan sekitar dan kondisi cuaca ekstrim yang terjadi saat ini. Sebab terumbu karang hanya dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20-30 derajat celsius dan juga tergantung dari penyesuaian serta daya tahan terhadap suhu air laut rata-rata daerah dimana terumbu karang itu hidup.

Kemudian, sambungnya, terumbu karang ini cenderung memutih atau rusak apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Lalu, juga disebabkan oleh gangguan alam lainnya seperti tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama dan penyakit. Bahkan bisa juga disebebkan oleh faktor pengganggu lainnya seperti kegiatan manusia, mencakup sedimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak.

“Jika suhu kritis atau ekstrim maka terumbu karang akan memutih dan rusak. Jikapun bertahan, terumbu karang tersebut bisa menyesuaikan hidupnya pada suhu tertentu,” katanya.

Sarvidin menjelaskan bahwa proses pemutihan terumbu karang identiknya dengan perubahan warna pada jaringan karang dari warna alaminya yang kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan menjadi warna putih pucat. Jika sudah mengalami ciri-ciri seperti ini dapat dipastikannya terumbu karang akan mati selamanya.

“Walaupun terumbu karang ada yang rusak ketersediaan ikan masih cukup melimpah. Apalagi jarak pandang 6-10 meter. Maksudnya bisa dikatakan perairan Bintan minim pencemaran,” bebernya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bintan, Elizar Juned membenarkan adanya pemutihan terumbu karang di beberapa titik perairan. Namun penyebabnya bukan dikarenakan kegiatan yang dilakukan manusia melainkan Murni dari kenaikan suhu permukaan air laut

“Awal April dan Mei pasti cuaca ekstrim akan melanda Bintan sehingga banyak terumbu karang yang rusak. Namun dalam tiga atau empat bulan kedepan, terumbu karang pasti pulih kembali,” akunya.

Agar terumbu karang di perairan Bintan tetap terjaga, kata dia, Coral Reef Rehabilitation and Management Program COREMAP-CTI Kabupaten Bintan akan melakukan survey monitoring rutin setiap bulan ataupun paling lama tiga bulan sekali. Hal ini dilakukan guna memastikan terumbu karang pulih dan menjadi sehat kembali dengan warna kecokelatan atau kehijauan.

“Kita berharap tak ada gangguan baik suhu permukaan maupun aktivitas nelayan yang berbahaya. Sehingga terumbu karang tetap terjaga,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar