Lingga Perlu Perda Daerah Aliran Sungai

399
Pesona Indonesia
Batu dan pasir hasil tambang warga yang ditumpuk di pinggir jalan. foto:hasbi/batampos
Batu dan pasir hasil tambang warga yang ditumpuk di pinggir jalan. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lingga H M Ishak, mengatakan, pelestarian sungai perlu diperkuat dengan adanya peraturan daerah (Perda). Sungai sebagai sumber resapan dan kehidupan, penyedia air bersih, menjaga lingkungan hidup masusia, flora dan fauna hingga aktivitas ekonomi perikanan dan pariwisata perlu dikelola maksimal sehingga terhindar dari aktivitas pengrusakan yang terjadi seperti saat ini.

Kondisi Sungai Daik dan Sungai Tanda yang menjadi nadi warga Pulau Lingga, 10 tahun terakhir mengalami kerusakan parah. Banyaknya aktivitas tambang batu dan pasir warga serta sampah yang dibuang ke sungai menyebabkan kerusakan dan pencemaran. Hal ini juga diduga menjadi pemicu banyaknya predator buaya masuk karena sungai karena dijadikan tempat sampah dan limbah rumah tangga. Belum lagi gerusan banjir yang kerap terjadi membuat aliran sungai melebar dan dangkal. Menurut Ishak, hal ini harus segera menjadi salah satu persoalan serius yang wajib segera dicarikan solusi terbaik.

“Kedepan, upaya pelestarian sungai harus ada Perda Daerah Aliira Sungai (DAS). Dibeberapa negara seperti Malaka, Malaysia, sungai mampu menjadi pundi-pundi pendapatan di sektor pariwisata. Bukan tidak mungkin, Sungai Daik yang juga memiliki sejarah besar dikembangkan seperti itu,” ujar Ishak melihat potensi besar Sungai Daik.

Kebesaran sejarah Sungai Daik, menurutnya sebagai tonggak kejayaan kerajaan Lingga-Riau yang berpusat ibukota di Daik 1878-1901 baik sebagai alur transportasi, perdagangan, pemukiman masyarakat, hingga memiliki belasan titik bersejarah baik istana Kenanga jika dikelola dengan serius akan memberikan manfaat ekonomi. Baik kepada masyarakat setempat maupun pundi-pundi pendapatan asli daerah (PAD).

“Apalagi nama Sungai Daik sudah dikenal luas. Memiliki sejarah dan wajib dilestarikan. Tinggal serius atau tidak,” kata Ishak.

Khusus Sungai Tanda yang memiliki air jernih dan selama ini menjadi sumber air bersih bagi warga kota Daik, Bappeda dikatakan Ishak jauh-jauh hari telah siapkan dokumen induk pengembangan objek wisata.

“Di aliran Sungai Daik, khususnya Lubuk Pelawan dokumen sudah kita selesaikan dan telah disampaikan kepada dinas terkait (Disbudpar). Tapi karena keuangan Kabupaten Lingga defisit, pembangunannya tertunda,” timpal Ishak.

Meski program belum dapat dijalankan karena APBD Lingga yang terbatas, kata Ishak, perlulah dilakukan pelestarian dengan tidak membiarkan aktivitas penambangan batu dan pasir. Baik yang terjadi di Lubuk Pelawan maupun di Lubuk Emas aliran Sungai Daik komplek perkantoran Pemkab Lingga.

Menurutnya, harus diambil langkah tegas memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak lagi mengeksploitasi aliran sungai. Ancaman banjir yang kerap terjadi berpotensi menenggelamkan kota Daik dan melupuhkan perekonomian jika sungai yang ada tidak terawat. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar