Pak Bupati, Banyak Buaya Mengancam Warga Lingga

1227
Pesona Indonesia

foto: hasbi / batampos
foto: hasbi / batampos

batampos.co.id – Lagi lagi warga Kabupaten Lingga menangkap seeokor buaya. Hewan reptil banyak dijumpai di muara sungai air payau dengan ukuran kecil hingga diatas 5 meter.

Sejak tahun 2013 lalu, populasi buaya terus berkembang pesat. Jumlahnya diperkirakan ribuan ekor dan rata hampir mengisi seluruh sungai di pulau Lingga. Hal inipun bahkan semakin mengancam manusia. Sejumlah kasus serangan buayapun kerap terjadi di Lingga. Tak elak memakan korban hingga menghilangkan nyawa seperti kisah Putri, anak suku laut dusun Dapur Arang desa Kelumu beberapa waktu lalu.

Alhasil, karena tak kunjung mendapatkan solusi, warga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan kerap menggunakan sungai dan laut tempat beraktivitas mengambil langkah menjerat buaya. Buaya yang berhasil ditangkap seperti di dusun Malar desa Mepar, Sungai Besar, kelurahan Daik dibunuh. Ada juga yang dipotong dan sengaja dikonsumsi sejumlah warga Thiong Hua hingga dibuat sebagai obat (red Tangkur) penambah stamina dan kejantanan. Meski mengetahui buaya merupakan salah satu hewan yang dilindungi, lambanya peran pemerintah mencarikan solusi dan mencari celah aturan pemanfaatan buaya sebagai salah satu peluang besar kabupaten Lingga ini, warga tidak memiliki pilihan lain karena keberadaan predator sudah sangat mengancam.

Beberapa waktu lalu, tepatnya Minggu (11/7) kemarin warga desa Sungai Besar kembali menjerat seekor buaya berukuran panjang 4 Meter. Dengan cara ditombak dibagian leher, buaya berhasil ditarik dari sungai kedarat. Karena kondisi luka parah, buaya tersebutpun mati sebelum sempat dipindahkan ke lokasi penangkaran kecil milik Pemerintah yang dibangun didesa Panggak Laut, kecamatan Lingga.

“Buayanya sekarat dan mati karena ditombak. Kali ini lebih kecil, hanya 4 Meter lebih, sebelumnya warga tangkap buaya lebih besar, hingga 5 Meter lebih,” ungkap Nazaruddin, kepala desa Sungai Besar kepada Batam Pos, Rabu (13/7) sore.

Keberadaan buaya, dikatakan Nazaruddin mengancam keselamatan warganya. Penangkapan kali ini, terangnya belum sepenuhnya memberikan rasa nyaman beraktivitas, sebab masih banyak lagi buaya yang ada di sungai.

Di pulau Lingga sendiri, sedikitnya terdapat 20 lebih aliran sungai yang menjadi tempat berkembang biak buaya muara atau air payaw. Seperti di sungai Daik, Sungai Tanda, Sungai Budus, Sungai Setajam dusun Malar, Sungai Kelumu, Sungai Panggak Laut, Sungai Nerekeh, Sungai Musai, Sungai Kerandin, Sungai Pinang hingga wilayah kecamatan Lingga Utara di Sungai Besar.

Menurut informasi masyarakat nelayan, hampir setiap kali turun melaut disetiap aliran sungai ditemukan buaya. Di wialayah kecamatan Lingga Timur seperti Kerandin dan Sungai Pinang dipercaya warga menjadi lokasi terbanyak predator bersarang. Bahkan, beberapa kali terjadi serangan terhadap manusia hingga hilangnya korban dan tidak dapat ditemukan.

“Pemandangan buaya disungai, kini jadi hal yang biasa. Kadang kita khawatir juga dengan keselamatan. Mau kita buru di lindungi. Dibiarkan, malah mengancam. Sampai sekarang belum juga ada solusinya,” ungkap Aras warga Lingga lainnya.

# Warga Harap Pemerintah Bangun Penangkaran dan Pengolahan Kulit Buaya

Berkaca dari pulau Bulan, Batam yang sukses menagkar buaya dan peternakan babi putih untuk dikirim ke Singapura, pemerintah Lingga harus belajar banyak untuk memberikan rasa nyaman bagi warga nelayan. Membuka penangkaran buaya untuk penyelamatan diharapkan menjadi salah satu solusi konkrit tindak lanjut ancaman buaya di Lingga.

Buaya juga dinilai sebagai sebuah potensi besar, menyerap dana dunia yang diperuntukkan guna melindungi reptil langka ini. Ketersediaan babi hutan yang banyak di Lingga juga dianggap sebagai hama boleh jadi satu solusi pangan di penangkaran. Sayangnya, hingga kini belum ada langkah pasti pemerintah dan dinas terkait menanggulangi persoalan yang meresahkan warga kabupaten Lingga.

Di desa Panggak Laut, dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) akhir tahun 2015 lalu telah menyelesaikan pembangunan rumah penangkaran buaya. Ukurannya tidak terlalu luas, hanya lebih kurang 6×6 meter. Sayangnya, hingga pertengahan tahun 2016 pun, penangkaran tersebut belum juga diaktifkan. Pemerintah masih kebingungan soal izin penangkapan buaya yang cukup sulit diurusi. Alhasil, pembantaian buaya oleh masyarakat tak dapat dibendung.

“Penangkaran sudah dibangun. Tapi kosong sampai sekarang. Buaya terus mengancam, jika tidak ada solusinya, pasti warga ambil langkah cepat membunuh buaya. Daripada kita manusia yang diburu, lebih baik buaya yang kita bunuh,” timpal warga.

Jika pemerintah konsisten dan segera mengurusi permasalahan ini, banyak keuntungan yang akan didapat kabupaten Lingga. Buaya-buaya besar yang diperkirakan mampu menyaingi rekor dunia buaya terbesar dari Filipina, Lolong dengan panjang 6,21 Meter juga masih banyak di sungai Lingga dan hidup bebas. Selain itu, promosi daerah dibidang pariwisata juga terangkat dengan adanya penangkaran. Begitu juga pariwisata edukasi.

Selain itu, jika telah memiliki aturan yang jelas soal pemanfaatan kulit dan daging buaya yang harganya begitu menjanjikan juga dapat menjadi salah satu pelkerjaan baru dan menyerap banyak tenaga kerja di Lingga. Sebagai salah satu oleh-oleh khas yang memiliki daya jual tinggi. (mhb)

Respon Anda?

komentar