Ratusan Aktivis Mesir Anti Pemerintah El-Sisi Hilang

439
Pesona Indonesia
Ahmed Douma, salah satu aktivis di Mesir yang dipenjara rezim El-sisi. Foto: reuters
Ahmed Douma, salah satu aktivis di Mesir yang dipenjara rezim El-sisi. Foto: reuters

batampos.co.id – Sejak Mesir dipimpin oleh Abdel Fattah el-Sisi yang berlatarbelakang militer, penduduk Mesir harus menjaga sikap dan kelakuannya. Siapa pun yang menentang pemerintah bisa menghilang tanpa jejak.

Amnesty International dalam laporannya yang dirilis, Rabu (13/7/2016) mengungkapkan bahwa ratusan orang diculik dan disiksa sepanjang 2015 karena pendapatnya berbeda dengan pemerintah.

Para korban itu terdiri atas mahasiswa, aktivis politik, serta para demonstran. Beberapa di antaranya bahkan masih anak-anak.

’’Penculikan telah menjadi instrumen utama kebijakan di Mesir. Semua orang yang berani menyuarakan pendapat berisiko (diculik, red),’’ ungkap Philip Luther, direktur Amnesty International wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara.

Orang-orang yang diambil paksa dari rumahnya tersebut ditahan hingga berbulan-bulan tanpa penghakiman. Kadang-kadang mereka tetap diborgol. Matanya juga ditutup selama ditahan berbulan-bulan itu. Mereka disiksa agar mengakui kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Anak-anak pun ikut ditahan.

Dalam laporan tersebut, ada 17 kasus yang terungkap. Lima di antaranya melibatkan anak-anak. Salah satunya, Mazen Mohamed Abdallah. Saat ditahan pada September tahun lalu, dia masih berusia 14 tahun.

Abdallah disodomi dengan tongkat bambu agar mengakui kejahatan yang ditimpakan kepadanya.

Aser Mohammad juga masih berusia 14 tahun saat ditangkap pada Januari tahun lalu. Selama ditahan, dia dipukuli dan disetrum.

Per hari, 3–4 orang ditangkap oleh pasukan Badan Keamanan Nasional (NSA). Pasukan tersebut biasanya menyerbu rumah-rumah untuk melakukan penahanan.

Ratusan orang yang hilang itu diperkirakan ditahan di kantor NSA di dalam gedung Kementerian Dalam Negeri di Lazoughly Square, Kairo.

NSA dan otoritas penegakan hukum lainnya bekerja sama untuk menutupi penyiksaan orang-orang yang oposisi terhadap pemeritah tersebut.

Kejadian seperti itu bukan kali pertama terjadi di Mesir. Lebih dari 1.000 orang telah dibunuh dan 40 ribu orang dipenjara sejak Sisi memimpin militer untuk menggulingkan mantan Presiden Mohammed Morsi pada 2013.

Pemerintah Mesir pun menampik tudingan penyiksaan yang dialamatkan oleh Amnesty International tersebut.

Kementerian Luar Negeri Mesir menuding Amnesty International sebagai organisasi yang tidak netral dan memiliki tujuan politik untuk merusak image Mesir.

Laporan dari Amnesty International juga dituding hanya memfasilitasi satu pihak, tetapi tidak ada penjelasan dari pihak pemerintah. (AFP/BBC/sha/c20/any)

Respon Anda?

komentar