Tersandung Kasus Lahan, Mantan Warek II IAIN dan Notaris Ditahan

2289
Pesona Indonesia
DITAHAN: Mantan Warek II IAIN Imam Bonjol Padang, Salmadanis saat digiring ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Kejari Padang, kemarin--vandi/padek
DITAHAN: Mantan Warek II IAIN Imam Bonjol Padang, Salmadanis saat digiring ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Kejari Padang, kemarin–vandi/padek

batampos.co.id — Mantan Wakil Rektor II IAIN Imam Bonjol Padang, Salmadanis dan Notaris Eli Satria Pilo akhirnya ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang. Penahanan ini merupakan tindaklanjut dari dugaan korupsi pengadaan tanah untuk pembangunan kampus III IAIN Imam Bonjol Padang di Sungaibangek, Kelurahan Balaigadang, Kecamatan Kototangah yang membelit keduanya sejak tahun lalu.

Salmadanis diperiksa selama 4 jam dari pukul 11.00 hingga pukul 15.15 dan dicecar dengan 5 pertanyaan oleh tim penyidik Kejari Padang. Usai diperiksa, Salmadanis maupun Eli dibawa petugas memasuki mobil tahanan Kejari Padang.

Pantauan Padang Ekspres (Jawa Pos Group), selama diperiksa, bebrapa kali Salmadanis terlihat keluar ruangan pemeriksaan untuk sekadar mengambil udara segar dan menunaikan ibadah shalat.

Mengenakan baju putih, Salmadanis yang keluar dari ruangan pemeriksaan memasang wajah yang terlihat lelah. Sembari berjalan menuju mobil tahanan kepada puluhan wartawan Salmadanis berujar, yang dilakukannya selama ini adalah demi kemajuan kampus dan agama.

“Lihat baju saya yang putih ini, seputih itu niat saya dalam membangun IAIN dan agama Islam di Sumbar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kejari Padang Syamsul Bahri di hadapan wartawan mengatakan, pemeriksaan dan penahan tersebut adalah bagian dari proses penyidikan tahap II atau tahap penuntutan yang merupakan tindak lanjut dari penyidikan yang telah dilimpahkan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumbar ke Kejari Padang.

“Berdasar pertimbangan dari Jaksa Penuntut Umum (saat pemeriksaan) maka kita lakukan penahanan,” ucap Syamsul.

Syamsul menjelaskan kasus dugaan korupsi pengadaan tanah kampus III IAIN di Sungaibangek ini berasal dari APBN tahun anggaran 2010 dimana saat itu Salmadanis ditunjuk selaku Ketua Panitia Pengadaan Tanah sementara Eli selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk melakukan pekerjaan pengurusan akta pelepasan hak.

Proyek bernilai Rp 37.5 miliar ini bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) 2015. Pengadaan tanah itu sendiri disinyalir sarat dengan kongkalikong. Di mana dari 60 hektare tanah tersebut, hanya 40 hektare yang memiliki sertifikat.

“Hitungan BPK yang sudah final total kerugian negera sebesar Rp 1.9 miliar,” ujarnya.

Keduanya diduga telah melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Peberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, Subsider Pasal 3 Jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pmberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Kalau menurut KUHAP pasal 21 ayat 1 dan 21 ayat 4 alasan penahanan karena telah memenuhi syarat imitatif yang ditentukan KUHAP, sebab ancamannya lebih dari 5 tahun,” ujarnya. Lebih lanjut, Syamsul mengungkapkan kemungkinan adanya tersangka baru dalam kasus ini masuk terbuka lebar. (jpg)

Respon Anda?

komentar