Yang Masih Jomblo, Malulah Sama Kakek Ini, Umur 63 Tahun Nikahi Perawan Cantik Usia 18 Tahun

933
Pesona Indonesia
Haji Nasir, mendekap istrinya Mila yang baru dinikahi Senin, 11 Juli 2016 di Bone. Foto: ASHRY SAMAD/FAJAR/JawaPos.com
Haji Nasir, mendekap istrinya Mila yang baru dinikahi Senin, 11 Juli 2016 di Bone. Foto: ASHRY SAMAD/FAJAR/JawaPos.com

Banyak pria memilih jomblo karena sulit menaklukkan hati seorang wanita. Bahkan, banyak pria berumur akhirnya hidup membujang karena tak pede melamar seorang wanita. Bahkan ada juga yang akhirnya memilih sesama jenis karena takut sama lawan jenis…

Hah…, kalau itu terjadi pada anda, malulah sama pria ini. Namanya Haji Nasir. Warga Patimpeng berusia 63 tahun. Ia baru saja mempersunting gadis pujaannya.

Tak tanggung-tanggung, wanita beruntung dipersuting itu seorang perawan berusia 18 tahun. Milawati namanya.

Tak ayal pernikahan kakek dan gadis ini membuat dunia maya jadi heboh dengan pernikahan pasangan yang umurnya terpaut 45 tahun itu.

Harian FAJAR (grup batampos.co.id) pun berupaya menelusuri kediaman pengantin tersebut. Keberadaannya di Desa Suwa.

Untuk mencapai desa ini harus menempuh perjalanan sekitar 90 kilometer dari Kota Watampone. Waktu tempuhnya satu jam 47 menit mengendarai roda dua.

Tidak mudah mendapatkan rumah pasangan pengantin langka ini. Pasalnya akses jalanan ke rumah mereka diwarnai jalan bergelombang ditambah aneka ukuran lubang.

Alhasil sesampai di lokasi Kompleks PTP Pabrik Gula Camming di Desa Suwa bertemu juga. Haji Nasir dan mertua lelakinya, Nasaruddin (48) pun menyambut dengan hangat.

Ditemani secangkir teh hangat, Haji Nasir yang memakai sarung berwarna merah muda pun menceritakan bagaimana awal mulanya kisah mahligai rumah tangganya itu.

“Sebenarnya saya tidak pernah pacaran. Mengalir begitu saja. Tetapi memang, sebelum bertemu dengan Mila, saya sudah dua kali datang ke rumahnya. Pas bertamu kedua, saya langsung melamar. Alhamdulillah diterima,” jelas pria kelahiran 1953 itu.

Haji Nasir menyebut, Mila merupakan istri keduanya. Istri pertamanya, Hj Nurjannah dan sudah meninggal Februari lalu akibat penyakit sesak napas. “Pernikahan pertama tidak ada anak,” akunya.

Nasir mengetahui Mila dari warga yang mengatakan ada anak perawan di Desa Suwa. Setelah pesta buka puasa selesai, dirinya datang ke rumah Mila. Namun sayang, si target tidak ada di rumah.

“Memang setelah istri pertama saya meninggal, saya niat mau menikah lagi. Alhamdulillah, doa saya yang mencari istri perawan terkabul. Intinya bukan janda,” sambungnya.

Di tengah obrolan Nasir dengan penulis, Mila datang membawa sekantong bedak. Bahan perias untuk mempercantik diri. Rupa mempelai wanita ini memang sangat cantik. Sesuai yang dibicarakan masyarakat.

Dalam menikahi gadis cantik ini Haji Nasir memang memiliki modal besar, seperti mobil, rumah mewah, dan sawah. Namun modal itu tidak dijadikannya sebagai mahar pernikahan.

“Memang saya punya satu rumah, satu mobil, dan ada sawah, tetapi itu tidak masuk dalam mahar. Cuma setelah menikah kan harta saya juga harta istri,” jelas Haji Nasir.

Sementara itu, Mila mengaku tidak mempermasalahkan mendapatkan suami berusia tua. Tidak banyak obrolan yang terlontar dari mulutnya, selain mengamini apa yang dikatakan sang suami itu.

“Banyak yang mencela. Cuma ini kan, saya yang menjalani. Bukan orang lain. Namanya juga jodoh,” sebutnya sembari tersenyum.

Nasaruddin, ayah Mila menegaskan, dalam perkawinannya dengan Nasir tidak ada paksaan sedikit pun.

“Jadi tidak ada unsur paksaan atau jodoh-jodoh dalam perkawinan keduanya. Mila mau dan Haji Nasir juga menyatakan niatnya. Kami orang tua tinggal memberi restu,” cuap Nasaruddin.

Nasaruddin mengaku, uang panaik (semacam biaya pesta) Haji Nasir hanya sebesar Rp20 juta ditambah mahar dua gram emas.

Dirinya kecewa dengan informasi yang beredar di masyarakat.

“Katanya uang panaik Haji Nasir Rp50 juta. Itu salah. Yang benar Rp20 juta,” aku Nasaruddin.

Haji Nasir sendiri merupakan warga Desa Masago, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Hal ini dibenarkan Sekretaris Desa, Andi Bahrain. “Saya yang tulis pengantar nikahnya. Di KTP, H Nasir kelahiran 1953, sementara perempuannya kelahiran 1998,” cerita Bahrain.

Bahrain menjelaskan, kedua mempelai beda desa. Mempelai perempuan dari Desa Suwa dan mempelai pria asal Desa Macago.

“Perempuannya ini baru tamat di SMAN 1 Libureng,” tuturnya. (MUHAMMAD ASHRI SAMAD/JPG)

Respon Anda?

komentar