Industri Manufaktur Turun, Nilai Ekspor Juga Turun

696
Pesona Indonesia
Para pencaker saat berkumpul di Pujasera Batamindo, Mukakuning, Seibeduk untuk mencari lowongan kerja yang ditempel oleh perusahaan di Pujasera tersebut. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Para pencaker saat berkumpul di Pujasera Batamindo, Mukakuning, Seibeduk untuk mencari lowongan kerja yang ditempel oleh perusahaan di Pujasera tersebut. Industri manufaktur di Batam masih jadi primadona, namun secara nasional sektor ini menurun semester pertama 2016. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Neraca perdagangan Indonesia pada Juni tercatat surplus USD 900,2 juta. Nilai tersebut lebih tinggi daripada surplus bulan sebelumnya USD 375,6 juta. Secara akumulatif, surplus perdagangan mencapai USD 3,59 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menyatakan, kinerja ekspor pada semester pertama tahun ini mencapai USD 69,51 miliar. Namun, jika dibandingkan dengan semester pertama tahun lalu, terjadi penurunan 11,3 persen.

Dari 13 negara tujuan utama ekspor Indonesia, relasi dengan Taiwan, India, Italia, dan Belanda mencatat penurunan paling besar. Bukan hanya itu, ekspor Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara juga mengalami penurunan nyaris satu persen yang menjadi USD 13,71 miliar.

Ada empat sektor komoditas yang nilai ekspornya menurun. Yakni, manufaktur atau pengolahan, pertanian, pertambangan, serta minyak dan gas bumi (migas).

Ekspor manufaktur tercatat turun 4,73 persen ke USD 53,73 miliar. Demikian pula dengan pertambangan, nilainya turun dari USD 10,33 miliar menjadi USD 7,88 miliar.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menilai, surplus neraca perdagangan disebabkan peningkatan harga komoditas ekspor utama Indonesia. Utamanya, harga komoditas unggulan seperti kelapa sawit, batu bara, dan karet mengalami kenaikan selama sembilan bulan terakhir.

”Year to date, berarti dari Januari sampai ke kinerja terakhir yang ada, memang naik, gitu ya,” ujar Mirza di Jakarta, Jumat (15/7/2016).

Harga komoditas pada kuartal kedua tahun ini sebenarnya sedikit menurun dibanding kuartal pertama. Karena itu, Mirza menilai, komoditas pertambangan, perkebunan, dan migas pulih dari pelemahan harga sepanjang tahun lalu. Salah satunya terlihat dari penurunan harga crude palm oil (CPO) sebesar 20 persen dalam tiga bulan terakhir.

Sementara itu, capaian kinerja impor sepanjang Juni masih rendah. Hal tersebut mengakibatkan neraca perdagangan mengalami surplus USD 900,2 juta. Surplus neraca perdagangan dipastikan membantu kinerja defisit neraca berjalan (current account deficit). (dee/c5/noe/jpgrup)

Respon Anda?

komentar