Loyalis Erdogan Ditahan, Militer Turki Kuasai Seluruh Objek Vital

590
Pesona Indonesia
Tank-tank kelompok militer Turki yang melakukan kudeta dikerahkan ke pusat-pusat kota, sementara petinggi militer yang loyal pada Presiden Erdogan ditahan. Foto: istimewa
Tank-tank kelompok militer Turki yang melakukan kudeta dikerahkan ke pusat-pusat kota, sementara petinggi militer yang loyal pada Presiden Erdogan ditahan. Foto: istimewa

batampos.co.id -Kudeta yang dilakukan militer terhadap Pemerintahan Recey Tayyip Erdogan, Jumat (15/7/2016) diwarnai penangkapan petinggi militer yang loyal terhadap Erdogan.

Tak hanya itu, militer Turki juga bergerak cepat menguasaiu semua objek vital di Turki, termauk bandara, jembatan, pelabuhan, bahkan akses internet di negara itu.

Militer Turki juga langsung mendeklarasikan kudeta dan menyerbu kantor partai berkuasa, Jumat malam (15/7/2016).

Presiden Turki, Recey Tayyip Erdogan sendiri dikabarkan selamat dari penawanan militer karena masih melakukan kunjungan ke Mongolia. Tetapi kabar terbaru mengatakan ia tengah berlibur di kawasan pantai Marmaris.

Kelompok militer yang mengkudeta menyatakan mereka ingin menata ulang demokrasi dan hukum di Turki.

Dilaporkan media-media internasional bahwa Bandara Internasional Ataturk Istanbul telah ditutup dan semua penerbangan telah dibatalkan.

Reuters melaporkan bahwa seorang saksi mendengar suara tembakan di bandara Istanbul. Pesawat jet dan helikopter terbang di atas ibukota Turki, Ankara, sementara militer menutup dua jembatan utama di Istanbul.

Dikutip dari Al Jazeera, Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam hubungan telepon dengan CNN Turk pada Jumat malam menegaskan bahwa ia tetap presiden dan pemimpin militer. Erdogan menyerukan rakyatnya untuk turun ke jalan melawan kudeta.

“Kami tahu mereka telah bertindak di luar rantai komando,” kata jurubicara pemerintah, Cemalettin Hasimi, kepada Al Jazeera.

Ini bukan pertama kali Turki mengalami kudeta oleh militer. Sebelumnya, kudeta pernah terjadi pada 27 Mei 1960, 12 Maret 1971 dan 12 September 1980.

Yang terakhir adalah pada 28 Februari 1997, yang memaksa pengunduran diri Perdana Menteri Nemettin Erbakan. (ald/rmol/ps)

Respon Anda?

komentar