Jenderal Akin Ozturk yang Pernah Tugas di Israel Dituding Dalangi Kudeta Turki

1426
Pesona Indonesia
Jenderal Turki Akin Ozturk (kanan).  Mantan pimpinan Angkatan Udara Turki, Foto: istimewa/Rep
Jenderal Turki Akin Ozturk (kanan).
Mantan pimpinan Angkatan Udara Turki, Foto: istimewa/Rep

batampos.co.id – Pemerintah Turki terus melakukan bersih-bersih setelah selamat dari upaya kudeta yang dilakukan kelompok militer, Jumat malam (15/7/2016) waktu setempat.

Selain menangkap lebih dari 3.000 tentara yang diduga terlibat kudeta gagal, para petinggi militer dari berbagai kesatuan juga ikut ditangkapi.

Kepala staf militer Turki, Jenderal Umit Dundar, mengatakan komplotan militer yang terlibat dalam upaya kudeta di Turki berasal dari Angkatan Udara, polisi militer, unit lapis baja, serta sebagian perwira Angkatan Darat.

Namun kudeta itu gagal lantaran tidak didukung sebagian besar prajurit Angkatan Darat dan Laut, serta kepolisian yang berada di garda terdepan menangkap para pendukung kudeta.

Jenderal Umit menyebut, sedikitnya 104 anggota ‘komplotan kudeta’ ikut menjadi korban setelah terlibat baku tembak dengan militer yang berada di kubu pemerintahan.

Selain Fetullah Gulen, ulama Turki yang tinggal di Amerika Serikat sebagai dalang (Baca  Juga: Fetullah Gulen Bantah Dalangi Upaya Kudeta Turki), muncul nama Jenderal Akin Ozturk yang dituding sebagai dalang uoaya kudeta tersebut.

Akin adalah mantan pimpinan Angkatan Udara Turki. Akin memimpin Angkatan Udara Turki antara 2013 sampai 2015.

Kantor berita DHA melaporkan selama setahun terakhir Akin diduga berencana menggulingkan pemerintahan. Akin telah menjadi anggota dari Dewan Militer Agung Turki sejak Agustus 2015.

Haaretz mengabarkan, enam komandan senior militer ditangkap sehubungan dengan kudeta yang gagal itu, termasuk Jenderal Akin.

Akin yang pada 1990-an merupakan atase militer Turki untuk Israel. Jenderal berusia 64 tahun itu bekerja di Kedutaan di Tel Aviv pada tahun 1998 sampai 2000.

Akin diduga rekan-rekannya akan diadili atas tuduhan pengkhianatan. Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan, komplotan perancang kudeta itu tidak akan dikenakan hukuman mati, karena aturan itu dilarang oleh konstitusi Turki. Meski begitu, ia menambahkan, akan terjadi perubahan konstitusi di dalam negeri untuk mencegah kudeta terjadi lagi di masa depan.

Reuters melaporkan, dalam upaya kudeta itu, para penentang Presiden Recep Tayyip Erdogan sempat mengambil alih kapal di pangkalan Angkatan Laut Golcuk. Kepala Armada Turki juga ikut disandera. (republika/nur)

Respon Anda?

komentar