Debit Air Terjun Temburun Semakin Berkurang, Keindahannya Berkurang

797
Pesona Indonesia
Bagian tengah air terjun Temburun yang semakin kekurangan debit air. foto:syahid/batampos
Bagian tengah air terjun Temburun yang semakin kekurangan debit air. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas diakui memiliki banyak potensi wisata dengan keindahan alam yang menggoda. Namun disisi lain, pemerintah sendiri dinilai belum bisa merawat dan menjaga anugerah terindah tersebut.

Sejumlah tempat wisata yang ada di Anambas saat ini dibiarkan semakin rusak dan semakin tidak bernilai. Salah satunya yakni wisata air terjun yang ada di Desa Temburun, Kecamatan Siantan Selatan.

Air terjun yang dulunya terkenal indah lantaran airnya deras, kini menjadi tidak indah lagi lantaran saat ini debit air di tempat itu sudah tidak mencukupi lagi. Airnya saat ini tidak besar sehingga tidak kelihatan lagi pemandangan air terjunnya. Tapi yang ada hanya air mengalir kecil disela-sela tumpukan batu.

“Dulu kalau kita lewat jalur laut, dari kejauhan kelihatan air terjun, tapi sekarang cuma kelihatan batunya saja,” ungkap Ida salah satu warga Tarempa yang kerap berkunjung di tempat itu.

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab mengeringnya sumber air ditempat wisata itu. Namun kuat dugaan hal tersebut karena pernah terjadi penebangan liar di hutan yang ada disekitar wisata itu.

Pantauan di lapangan, belum ada aksi nyata dari pemerintah daerah untuk memulihkan keindahan alam ini. Karena tidak ada kepedulian, maka saat ini wisata air terjun yang konon menjadi salah satu kebanggaan daerah kini juga sudah memburuk.

Sumber air yang mengalir ditempat itu sekarang menjadi keruh kekuning-kuningan lantaran terkena dampak pembangunan jalan yang menuju tempar wisata itu. Hingga kini juga belum ditanggulangi.

Perlu disadari bahwasanya wisata alam yang ada di Anambas merupakan aset daerah yang tidak ternilai yang terbentuk secara alami tanpa menggunakan biaya. Namun apapun bentuknya aset harus tetap dijaga. “Ini juga merupakan bentuk nyata bahwasanya pemerintah daerah belum mampu menjaga aset,” ungkapnya lagi.

Beberapa waktu lalu pemerintah daerah telah membentuk satgas untuk mengatasi maraknya penebangan liar, namun pembentukan satgas itu juga belum jadi baru sekedar wacana.

Dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Bupati kepulauan Anambas Abdul Haris, saat itu dirinya hanya mengeluarkan kebijakan agar penebang liar tidak lagi melakukan aksinya apalagi menebang kayu yang berada di pusat sumber air.

“Mulai sekarang tidak ada lagi penebangan liar, apalagi penebangan liar yang ada di sekitar sumber air bersih, maka itu tidak ada lagi toleransi,” ungkap Haris ketika memimpin rapat pembentukan Satgas pencegahan ilegallogging beberapa waktu lalu. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar