Erdogan Rancang Hukuman Mati Bagi Para Pelaku Kudeta

577
Pesona Indonesia
Pendukung Presiden Tayyip Erdogan merayakan kegagalan kudeta dengan menaiki tank yang dipakai tentara untuk kudeta. Foto: Yagiz Karahan/reuters
Pendukung Presiden Tayyip Erdogan merayakan kegagalan kudeta dengan menaiki tank yang dipakai tentara untuk kudeta. Foto: Yagiz Karahan/reuters

batampos.co.id – Pasca percobaan kudeta yang gagal pada Jumat malam (15/7), kini pemerintah Turki yang sah sedang melakukan ’’bersih-bersih’’ kelompok anti-pemerintah.

Hingga hari Minggu (17/7), pemerintah berhasil menangkap sekitar 6 ribu orang yang diduga terlibat dalam aksi kudeta.

Sebanyak 34 jenderal berhasil diringkus, termasuk sosok senior seperti Komandan Pasukan Ketiga Erdal Ozturk dan Komandan Pasukan Kedua di Malatya Adem Huduti.

Menteri Kehakiman Turki, Bekir Bozdag, menegaskan jumlah itu akan terus bertambah.

“Operasi bersih-bersih masih berlangsung,’’ ujarnya sebagaimana dilansir Anadolu kemarin.

Komandan garnisun di Kota Denizli, Ozhan Ozbakir, juga ditahan beserta 51 prajurit lain. Jenderal pasukan udara Brigjen Bekir Ercan Van turut ditangkap bersama para pejabat militer di tubuh angkatan udara. Beberapa hakim agung juga ikut diciduk.

Pemerintah Turki benar-benar memanfaatkan momen tersebut untuk menyingkirkan sebanyak-banyaknya oposisi. Mereka, tampaknya, tidak akan mengampuni siapa pun yang ditengarai ikut terlibat dalam aksi kudeta tersebut.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bahkan bakal mengajukan rancangan undang-undang agar para pelaku bisa dijatuhi hukuman mati.

Dia juga menerbitkan perintah penangkapan kepada ajudan militernya, Kolonel Ali Yazici. Beberapa pihak menyerukan agar prajurit yang masih berusia sekitar 20 tahun diberi pengampunan karena mungkin hanya salah mengikuti perintah.

Penahanan besar-besaran itu membuat dunia internasional waswas. Sebagian yang ditangkap tersebut sangat mungkin tidak tahu apa-apa.

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, meminta Turki menghormati hukum pascatragedi kudeta pada Jumat malam lalu.

Hal senada diungkapkan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault. Dia meminta Turki tidak menggunakan kudeta gagal tersebut sebagai senjata untuk membungkam oposisi.

Namun, Turki bergeming. Kudeta itu bahkan mengakibatkan hubungan Turki dengan AS panas. Erdogan sekali lagi meminta AS mengekstradisi ulama Fethullah Gulen yang diduga sebagai dalang kudeta. (jpnn)

Respon Anda?

komentar