Ini Permintaan IDI ke Polisi soal Kasus Vaksin Palsu

473
Pesona Indonesia
Contoh vaksin palsu yang disita Bareskrim Polri. Foto: dokumen JPNN.Com
Contoh vaksin palsu yang disita Bareskrim Polri.
Foto: dokumen JPNN.Com

batampos.co.id – Kasus vaksin palsu kini menjadi sorotan banyak pihak, termasuk dalam negeri maupun luar negeri. Kasus itu telah menyeret 23 tersangka, termasuk tenaga medis.

Namun, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) mengingatkan satuan tugas (satgas) penanganan vaksin palsu yang terdiri dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Bareskrim Polri bahwa tenaga medis juga menjadi korban peredaran vaksin palsu. Menurut Ketua PB IDI Ilham Oetama Marsis, Bareskrim mestinya yidak hanya menyasar tenaga medis yang terlibat, tapi justru fokus memburu otak di balik vaksin palsu.

“Kami minta Kemenkes dan Bareskrim tangkap aktor intelektualnya. Undang-undang tidak menyebutkan bahwa dokter tidak diharuskan bertanggung jawab atas pasiennya. Tidak ada yang mengaitkan. Tapi terlepas dari itu, dokter harus membantu pasiennya,” kata Ilham dalam konferensi pers di PB-IDI di Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/7).

Ilham menegaskan, Bareskrim harus menemukan otak di balik peredaran vaksin palsu. Menurut dia, kasus vaksin palsu telah merusak citra profesi tenaga medis Indonesia.

Di sisi lain, Ilham juga menyatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan  harusnya juga bertanggung jawab dalam kasus vaksin palsu. Sebab, katanya, kedua institusi itu tidak melakukan pengawasan secara ketat.

“Ini seperti Kemenkes melempar bola dengan menyudutkan profesi dokter yang salah. Padahal pemerintah punya peran penting untuk menghindari kasus seperti ini terjadi,” ujarnya Ilham.(mg4/jpnn)

Respon Anda?

komentar