Soal Kasus Vaksin Palsu, IDI Marah Besar ke Pemerintah

1665
Pesona Indonesia
IDI. Foto: jpnn
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) saat demo soal kebiri kimia saat menolak menjadi eksekutor. Nah, IDI kembali marah terkait vaksin palsu karena para dokter jadi sasaran kemarahan warga korban vaksin palsu. Foto: jpnn

batampos.co.id -Desakan anggota Komisi IX DPR agar Menkes membuka nama rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu berbuntut panjang. Setelah nama RS diumumkan, publik melabrak pihak rumah sakit.

Celakanya, bukan hanya pihak rumah sakit yang kena labrak, sejumlah dokter juga menjadi korban tindakan anarkis masyarakat.

Karena itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Asosiasi Rumah Sakit Indonesia (ARSI), dan Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) melayangkan protes keras terhadap pemerintah.

Para medis menganggap pemerintah mengadu domba masyarakat dan para dokter yang belum tentu bersalah dalam pemakaian vaksin palsu.

“Di beberapa rumah sakit bahkan terjadi tindakan anarkis tidak hanya terhadap bangunan fisik, tapi juga kepada doker yang bertugas di fasilitas tersebut,” ujar Ketua Pengurus Besar IDI, Ilham Oetama Marsis dalam jumpa pers di kantornya, Senin (28/7).

Menurutnya, tindakan anarkis itu terjadi setelah pengumuman oleh Kementerian Kesehatan RI dan Bareskrim Mabes Polri mengenai rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain yang terindikasi menerima vaksin palsu.

Kejadian tindak kekerasan dan anarkis terjadi di RS Harapan Bunda Jakarta Timur pada15 Juli 2016,  RSIA Mutiara Bunda Ciledug pada16 Juli 2016, dan di RS Santa Elisabeth Bekasi pada16 Juli 2016.

Ini menimbulkan keresahan yang meluas di kalangan dokter dan tenaga kesehatan lain. Menurutnya, dokter yang tidak berhubungan dengan pembelian vaksin pun menjadi korban dan tindakan anarkis itu.

“Hal ini potensial berdampak buruk bagi pelayanan kepada masyarakat saat ini dan masa yang akan datang, dengan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada dokter,” tegasnya.

Selain itu, dia menegaskan adanya dokter dalam daftar tersangka vaksin palsu yang diumumkan oleh Bareskrim Mabes Polri menimbulkan kegelisahan.

Karena itu Ilham menyatakan kalangan dokter mendapatkan penjelasan lengkap, apakah keberadaan dokter dalam daftar itu sebagai pelaku peredaran atau sebagai korban dari peredaran vaksin palsu. (mg4/flo/jpnn)

Respon Anda?

komentar