Ada Orang Minang dan Aceh saat Colombus Temukan Benua Amerika

1087
Pesona Indonesia

kuasanagari_1batampos.co.id – Tiga kali Christopher Columbus bolak-balik berlayar Spanyol-Benua Amerika sebelum meninggal pada 1506.

Berdasarkan laporan pelayarannya yang pertama (Agustus 1492-Maret 1493) kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella di Catalonia–basis tim sepakbola Barcelona sekarang–dan merujuk catatan Miguel Pericas of Cadiz, penulis yang menyertai petualangan Columbus, diketahui sudah ada masyarakat di sana.

“Kami menjumpai penduduk yang teramat ramah…hidupnya berbudi dan saksama,” begitu bunyi laporannya.

Dikisahkan, mereka jumpa masyarakat yang kepala kaumnya disebut Keucik dan Kuasanagari.

“Desa itu terletak di pedalaman. Lebih kurang satu mil dari laut. Sebuah jalan di antara ladang-ladang dikerjakan sangat baik. Ada tanah lapang yang besar di depan rumah Keucik. Di tanah lapang itulah beberapa malam belakangan berlangsung pesta sampai fajar. Kami dijamu secara raja-raja. Makanan yang paling pokok ialah ikan yang dibubuhi bumbu,” tulis Pericas.

Suatu hari, datanglah rombongan Kuasanagari dari wilayah yang jaraknya tiga hari perjalanan dari tempat mereka berpesta.

Kedatangan Kuasanagari

Berikut kami cuplikan catatan harian Miquel Pericas…

Tatkala ia datang maka kedatangannya itu bersama pengiring bangsawan. Sewaktu dia makin dekat maka kami mendengarkan bunyi genderang dan nyanyian di seberang ladang-ladang jagung.

Kuasanagari diangkut dalam sebuah tandu yang dipikul delapan orang. Dikelilingi para pembesarnya. Barisan paling depan, rombongan genderang dan para penari.

Mereka punya beberapa hukum dan bersikap memelihara seluruhnya. Kebanyakan hak milik, dimiliki bersama. Dan apapun yang mereka lakukan, mereka lakukan secara bersama-sama.

Berdasarkan itu, Joesoef Sou’yb dalam Pelaut Indonesia Menemukan Benua Amerika Sebelum CH. Columbus menafsir, ciri-ciri yang disampaikan Miquel Pericas of Cadiz koheren dengan adat-istiadat orang Sumatera.

“Segalanya milik bersama dan dikerjakan bersama untuk kepentingan bersama memang merupakan ciri hak milik sepanjang adat Minangkabau,” tulis Joesoef.

Tentang barisan genderang, menurut Joesoef, mau tak mau mengingatkan siapa pun kepada adat istiadat Minang. Yakni barisan gendang pada upacara mengiringkan pembesar adat.

Penari yang dimaksud Pericas, bisa jadi sewah dan atau seudati yang koheren dengan istilah Keucik dan Kuasanagari–pemuka kaum yang menyambut Columbus di Amerika.

“Sewah itu semacam tarian Minang yang gerakannya mirip silat. Tapi, bukan silat,” kata Anton, yang sudah mempelajari budaya Minang sejak kanak-kanak.

Apalagi, saat jamuan berlangsung, sebagaimana dicatat Pericas, mereka duduk bersila di atas bantal. Columbus duduk di samping Kuasanagari. Dia diperlakukan sangat hormat.

“Itu merupakan tradisi pemuka adat di daerah Minang dan Aceh. Di dunia ini, pimpinan kaum dengan istiah Keucik hanya ada di Aceh dan Kuasanagari hanya ada di Minang,” Joesoef meyakinkan.

Nah, bila tafsir Joesoef itu benar tentu kita bertanya; Bagaimana bisa orang Minang dan Aceh berkampung di Benua Amerika? Kemana mereka sekarang?

Berdasarkan penelitian kecil-kecilan baru-baru ini, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sedikit banyak sudah kami temukan.

peta_columbusMiguel Pericas of Cadiz, penulis yang ikut serta dalam petualangan Columbus mencatat, 5 Desember 1492 mereka berlabuh di ujung tanjung Cuba sebelah Timur.

“Kami menyentuh pantai…tapi penduduk melarikan diri…kemudian kami berlabuh di sebuah pelabuhan yang indah, yang oleh admiral (Columbus–red) diberi nama Port Conception,” tulis Pericas.

Serombongan awak kapal Columbus menangkap seorang perempuan muda. Dia meronta saat dihadapkan pada sang admiral.

Tak dimacam-macamin. Columbus malah menganugerahinya berbagai cinderamata dan pakaian.

Dua jam kemudian, “suatu rombongan yang besar jumlahnya datang ke pantai dan di tengah-tengahnya seorang tokoh di atas tandu. Itulah pemuka mereka, yakni Cacique (Keucik),” tulis Pericas.

Mereka saling bertegur sapa, beramah tamah. Rombongan Columbus pun dijamu bak sahabat yang lama tak jumpa.

“Kami dijamu secara raja-raja,” ungkap Pericas.

Di halaman berikut catatan harian Pericas, dikisahkan bahwa Keucik muda itu adalah kepala pemerintahan setempat.

Ia, tulis Pericas, menceritakan kepada kami bahwa Keucik besar dari negeri tersebut, yang beroleh panggilan Guacanagari (Kuasanagari), sudah mengetahui kedatangan kami, dan sudah dalam perjalanan untuk menyambut kami. Kota kedudukannya terletak tiga hari perjalanan sepanjang pesisir.

Joesoef Sou’yb dalam buku Pelaut Indonesia Menemukan Benua Amerika  Sebelum Columbus, menafsir bahwa masyarakat yang menyambut kedatangan Columbus saat “menemukan” benua Amerika adalah orang Sumatera.

“Istilah keucik di dalam tata pemerintahan di dunia cuma dijumpai di daerah Aceh. Dan istilah kuasanagari di dalam tata pemerintahan di dunia cuma dijumpai di daerah Minang,” ungkapnya. (wow/jpnn)

Respon Anda?

komentar