Dodik Supriyanto, Petani Hidroponik Batam, Ingin Bangun Kampung Hidroponik

2573
Pesona Indonesia
Hydroponik-F-Cecep-Muly
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Bertani cara hidroponik tengah menjadi gaya hidup masyarakat kini. Dodik Supriyanto, namun demikian, tak melakoninya sebagai hobi belaka. Melainkan, mata pencaharian sekaligus aksi sosial.

Instalasi pipa dengan sayuran menjuntai keluar dari lubang-lubang di dalamnya itu berhasil menarik perhatian para pengunjung Carrefour. Selada, sawi, bayam merah, dan pohon mint. Semuanya tampak segar dan hidup.

Yuli Astuti mengamati dengan seksama sejumlah pohon mint di sana. Ia membolak-balik daunnya. Melongok ke rimbun ranting langsingnya. Dan menemukan air yang merendam akar kecilnya. Pohon mint itu ditanam dengan cara hidroponik.

“Ini bisa dibeli dengan potnya kah?” tanyanya.

“Bisa. Jadi kalau ibu mau melanjutkan menanam di rumah bisa,” jawab seorang pria.

Pria itu Dodik Supriyanto. Ia pemilik instalasi pipa hidroponik di area sayur pusat perbelanjaan itu. Minggu (18/7) siang itu, Dodik kebetulan ada di sana.

“Ibu ada hidroponik di rumah?” tanya Dodik balik.

Wanita berjilbab yang tinggal di Tanjungpiayu itu menggeleng. Ia tertarik dengan hidroponik karena teman-temannya tengah menggandrungi cara bercocok tanam itu. Namun, ia tidak berniat melakukannya. Ia ingin bercocok-tanam cara aquaponik – menggabungkan budidaya pemeliharaan ikan dan pemeliharaan tanaman.

“Saya ada kolam di rumah,” jawabnya.

“Oh, bagus. Kalau gitu, ibu bisa buat instalasi hidroponik di atas kolam itu. Airnya diambil dari air kolam,” balas Dodik.

Perbincangan itu pun berakhir dengan diangkutnya satu pot tanaman mint dari instalasi pipa hidroponik. Yuli sempat menanyakan harga. Dodik menggeleng tanda tak tahu. Harga bisa dilihat setelah tanaman ditimbang. Tapi yang jelas, harganya lebih mahal dari sayuran lain yang dipajang di rak.

“Sayuran hidroponik ini harganya memang premium,” jelas Dodik.

***

Dodik memulai penjelasan siang itu dengan jenis tanaman, lama waktu tanam, dan beratnya. Selada, misalnya, biasa ditanam dalam jangka waktu 45 hingga 60 hari. Hasilnya, setiap pot, nantinya, akan seberat 1 ons. Selain selada, tanaman lain rata-rata ditanam dalam jangka waktu 30 hari. Seperti, bayam merah, sawi pakcoi, dan mint. Berat hasilnya, 1 hingga 2 ons.

Sekarang, ia tengah membudidayakan tanaman mint. Katanya, tanaman mint sedang digemari orang asing di Batam. Permintaannya sedang tinggi.

“Tapi masih kecil-kecil sekarang. Kemarin baru saja panen,” katanya.

Pria kelahiran Bondowoso, 23 Maret 1973 itu memiliki kebun hidroponik di samping rumahnya, di Perumahan Cendana Blok F12 nomor 11. Kebun itulah tempat ia membudidayakan sayuran-sayuran. Serta melakukan pembibitan.

Ketika Batam Pos berkunjung ke sana, tiga pria tengah berbincang di depan kebun. Mereka mempersilakan Batam Pos memasuki kebun. Kebun itu berdinding dan beratapkan paranet. Untuk memasukinya, ada ritsleting yang harus dibuka.

Kebun seluas 5 x 8 meter persegi itu diisi dengan instalasi pipa yang besar dan memanjang hingga setinggi atap rumahnya. Pipa-pipa itu dilubangi. Setiap lubang diisi dengan gelas air mineral. Ada sayuran di setiap gelasnya.

“Gelas air mineral ini namanya net pot,” katanya. Bagian bawah gelas itu dilubangi.

Total, kebun hidroponik Dodik memiliki 1.632 lubang. Panen dilakukan sebulan sekali. Perawatan dilakukan setiap hari.

Perawatan itu tidak terlalu sulit. Kata Dodik, perawatan itu hanya berupa pengecekan kepekatan larutan nutrisi hidroponik. Ada alat khusus untuk mengecek kepekatan larutan itu. Dan ada tabel khusus tentang kepekatan larutan. Setiap tanaman memiliki kepekatan larutannya masing-masing.

Dodik lebih senang menyebutnya dengan istilah ppm. Ppm ini singkatan dari part per-million. Ini satuan hitung untuk nutrisi hidroponik.

“Kalau ppm-nya lebih dari yang ada di tabel, (saya) tambah air. Kalau ppm-nya kurang, tinggal ditambah nutrisi,” tuturnya.

Pengecekan kepekatan larutan ini penting. Ini berpengaruh pada kualitas tanaman. Pernah, Dodik salah mengatur kepekatan larutan. Hasilnya, “Selada saya pahit.”

Bercocok tanam cara hidroponik memang tengah diminati warga. Sebab, caranya yang mudah dan murah tetapi hasilnya memuaskan. Yang paling Dodik suka, cocok tanam cara hidroponik ini tidak boros bibit. Tingkat keberhasilan panennya mencapai 99 persen.

Hidroponik pun tidak banyak makan tempat. Dodik membuat sebuah instalasi pipa berlubang 56 yang dapat digunakan di lahan sempit. Ia menjualnya seharga Rp 2,5 juta. Itu sudah lengkap dengan pompa air, net pot, dan dua jenis bibit tanaman. Suami Novrida Susanti itupun memberi garansi ‘pasti bisa’.

“Saya akan melatih mereka sampai mereka bisa,” katanya.

Namun, kalau lahannya lebih sempit dari instalasi yang ia buat itu, Dodik juga bisa mendesain instalasi khusus. Bisa menempel di dinding teras rumah atau di pagar. Hingga kini, sudah ada 20 instalasi yang terjual.

Sebagian besar pembelinya, kata Dodik, kalangan menengah ke atas. Padahal, cara menanam ini tidak tertutup untuk kalangan ekonomi khusus. Masyarakat ekonomi bawah pun bisa menerapkannya. Sebab, peralatannya bisa dibuat dari barang bekas.

“Botol minuman bekas bisa dipakai. Paling sedikit, modalnya itu Rp 50 ribu,” tutur ayah tiga anak ini.

***

Terjun di dunia hidroponik sebenarnya bukan cita-cita Dodik Supriyanto. Ia mengaku terpaksa di awal hubungannya dengan hidroponik. Ia diminta membuatkan instalasi sebagai hadiah ulang tahun saudaranya.

“Waktu itu saya tidak tahu apa-apa tentang hidroponik,” tutur pria lulusan SMA ini.

Kisah itu dimulai bulan Juni tahun lalu. Dodik pun mulai mencari bacaan tentang hidroponik. Ia langsung mempraktekkannya. Tangan terampilnya berhasil membuat instalasi dalam sekali coba.

Saudaranya puas. Panen pertama berhasil dan berlanjut hingga panen kedua. Saudaranya pun berniat memodali Dodik untuk menjual hasil kebun hidroponik itu.

“Tapi saya tidak mau karena masih panen dua kali. Saya ingin, setidaknya, dari instalasi itu sudah ada panen sampai lima kali,” kata pria berkulit hitam ini.

Setelah mencapai masa panen itu, Dodik mulai memikirkan tawaran saudaranya. Ia berpikir memasarkan hasil panennya ke pasar ritel. Sebab, jika dijual di pasar tradisional, harganya akan jatuh.

Ia mengajukan permohonan ke Carrefour. Sebab, ia sudah memiliki kenalan di sana. “Tape ketan saya masuk ke sini (Carrefour) lebih dulu,” ujarnya.

Tawarannya, namun demikian, sempat ditolak. Karena sudah ada yang mengisi slot penyedia sayur-mayur di sana. Kecuali kalau ada konsep lain.

“Saya pun mengajukan konsep beli langsung dari petani. Pembeli bisa langsung mengambil dari instalasi. Itukan sama saja langsung dari petani,” katanya.

Konsep itu disetujui. Carrefour langsung memesan 150 lubang. Per Januari 2016, Dodik memasang dua instalasi hidroponik di area sayur Carrefour. Setiap instalasi memiliki 56 lubang.

Dodik akan mengisi lubang-lubang itu dengan sayuran yang sudah siap panen. Instalasi itu dilengkapi dengan air yang mengalir. Kesegaran sayuran pun akan tetap terjaga.

Tiga kali seminggu, Dodik mengantar sayuran-sayuran baru. Kadang, bisa lebih sering lagi. Tergantung pesanan, kata Dodik.

Lama-kelamaan Dodik kewalahan. Kebun hidroponik saudaranya tidak bisa memenuhi permintaan. Apalagi, orang yang bertugas menanami kebun itu mengundurkan diri.

Dodik pun memutuskan membuka kebun baru. Ia menguras habis tabungannya demi membuat kebun besar di samping rumahnya itu. Total biayanya mencapai Rp 20 juta.

Kebun itu sangat membantunya memenuhi pesanan. Namun, setiap bulan, pesanan terus bertambah. Ia pun memprediksi, kebunnya tidak akan mampu memenuhi pesanan jika pesanan terus bertambah.

“Saya sudah berpikir untuk menambah kebun lagi dan sudah ada investor. Tapi saya juga harus berpikir untuk memperluas pasar karena hasil pasti akan bertambah banyak. Saya belum berpikir sampai ke situ,” katanya lagi.

Jalan lainnya, ia menyebarkan virus hidroponik ke orang-orang. Itulah sebab ia memberikan pelatihan kepada orang-orang yang membeli instalasinya. Cara itu berhasil. Lima orang sekarang sudah mulai membantunya memenuhi stok pesanan. Terutama ketika kebunnya belum panen.

“Saya akan memprioritaskan hasil kebun mereka karena saya sudah berjanji membantu pemasaran mereka,” ujarnya.

Dalam waktu empat bulan, Dodik sudah balik modal. Ia kini tengah menikmati hasil kerja kerasnya. Namun, bukan lantas ia puas dan berjalan di tempat.

Dodik mulai berpikir untuk memperluas pasarnya hingga ke Singapura. Ini karena jarak Batam-Singapura yang tidak terlalu jauh. Kalau masalah kemasan, ia sudah memiliki jalan keluar.

Namun, sembari mewujudkan itu, Dodik mulai mengajak tetangga sekitar rumahnya untuk ikut menanam cara hidroponik. Tidak perlu banyak, cukup 10 atau 20 lubang di setiap rumah. Ia ingin membuat sebuah kampung hidroponik.

“Kalau kampung ini berhasil, Batam bisa menjadi destinasi wisata khusus hidroponik,” katanya.  (WENNY C PRIHANDINA, Batam)

Respon Anda?

komentar