Pegawai Menjadi Pemasok Narkoba, Kepala Lapas Merasa Dikhianati

340
Pesona Indonesia
Lapas Tanjungpinang.
Lapas Tanjungpinang.

batampos.co.id – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Tanjungpinang, Djoko Pratito sedang melakukan penyelidikan terhadap dua anggotanya yang diduga kuat terlibat sebagai jaringan pemasok narkoba ke Lapas Batu 18, Kecamatan Gunung Kijang yang dipimpinnya.

“Dari informasi yang didapat, ada dua petugas lapas yang mengkhianati saya. Keduanya menjual barang haram di lapas ini. Maka dari itu saya dan rekan-rekan lagi menyelidikinya,” ujar Djoko saat ditemui di ruangannya, Senin (18/7).

Maraknya peredaran narkoba di dalam lapas, lanjutnya, tak dapat dipungkirinya lagi ada andil besar dari petugas lapas yang berjaga. Bahkan kejadian seperti ini bukan rahasia umum lagi. Namun ia tak akan diam apalagi mentup mata melainkan akan memberantas jaringan narkoba yang telah bersemi di dalam lapas. Semua ini dilakukan demi mewujudkan lapas bebas dari bahaya narkoba.

Kendati demikian, ia tak bisa menyebutkan dua indetitas petugas yang dicurigainya sebagai pengkhianat tersebut. Karena sedang dalam tahap penyelidikan. Jika sudah membuahkan hasil, ia akan menindak tegas dan melaporkannya ke pihak berwenang.

“Kalau saya berhasil ungkap indetitas kedua pengkhianat itu akan kita usulkan agar dipecat. Dan pastinya akan kita infokan ke rekan-rekan media,” katanya.

Ditanya persoalan keberadaan ponsel sebagai pemicu masuknya narkoba dari luar ke dalam lapas, Djoko mengaku semua ponsel milik tahanan sudah berhasil diamankannya. Bahkan dikumpulkan dan diletakkan dalam suatu ruangan khusus atau kamar bicara umum. Dalam ruangan tersebut, tahanan bebas berkomunikasi dengan keluarganya tapi tetap dibawah pengawasan ketatnya agar tidak disalahgunakan.

Tapi yang dikawatirkannya saat ini, sambungnya, narkoba masuk ke dalam lapas melalui pembesuk tahanan serta melalui beberapa titik seperti pagar tinggi yang mengelilingi. Bahkan dikabarkan ada yang sengaja memasukannya dengan cara melempar dari luar pagar lapas.

“Kita tak boleh memutus komunikasi antara napi dengan keluarganya. Sebab ada undang-undang yang mengatur masalah tersebut. Jadi, kita sediakan ruang bicara umum namun semua pembicaraan akan kita sadap,” ungkapnya.(ary/bpos)

Respon Anda?

komentar