Wardiaman Dituntut Hukuman Mati, Ia Tetap Tersenyum

818
Pesona Indonesia
Wardiaman terdakwa kasus pembunuhan Dian Milenia siswi SMAN 1 Batam meninggalkan ruang sidang usai mejalani sidang tutuntan di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (19/7). Jaksa penuntut umum menuntut wardiaman dengan hukuman mati.  F Cecep Mulyana/Batam Pos
Wardiaman terdakwa kasus pembunuhan Dian Milenia siswi SMAN 1 Batam meninggalkan ruang sidang usai mejalani sidang tutuntan di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (19/7). Jaksa penuntut umum menuntut wardiaman dengan hukuman mati. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Batam menuntut Wardiaman Zebua dengan hukuman mati dalam sidang di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (19/7). JPU menilai, pria satu anak itu merupakan pembunuh Dian Milenia Trisna Afiefa pada akhir September 2015 lalu.

Dalam nota tuntutan yang dibacakan secara bergantian oleh jaksa Rumondang dan Andi Akbar itu, JPU menyebut Wardiaman terbukti melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, serta pasal 81 ayat (1) tentang perlindungan anak. Sehingga terdakwa dinilai layak dihukum mati.

Dalam penjabaran tuntutan tersebut juga disebutkan, terdakwa terindikasi berbohong saat ditanya soal pemerkosaan dan pembunuhan kepada korban. “Terdakwa menjawab tidak melakukan dua hal itu,” sambung JPU Rumondang.

Rumondang menegaskan, pihaknya memiliki sejumlah bukti yang menguatkan sangkaan kepada terdakwa. Antara lain baju korban dan terdakwa, pelacakan sinyal hape pelaku, dan masih banyak lagi.

Sayangnya, JPU dan tidak pernah menghadirkan barang bukti pisau yang disebut-sebut digunakan terdakwa untuk menghabisi nyawa korban.

Meski dituntut hukuman mati, Wardiaman tetap tenang selama sidang kemarin. Bahkan sesekali senyumnya mengembang saat para pewarta foto menjepretkan kamera ke arahnya.

Justru kedua JPU yang terlihat tegang saat membacakan nota tuntutan yang memakan waktu sekitar setengah jam itu.

Setelah tuntutan dibacakan, hakim ketua Zulkifli didampingi hakim anggota Iman Budi Putra Noor dan Endi memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan pembelaan. Sesuai kesepakatan dengan Penasihat Hukum (PH) nya, terdakwa akan mengajukan pembelaan tertulis (pledoi) yang dijadwalkan untuk dibacakan pada sidang selanjutnya, Selasa (26/7) pekan depan.

“Untuk itu, terdakwa dinyatakan tetap ditahan dan kembali dihadirkan di persidangan Selasa depan. Sidang ditutup,” ujar Zulkifli menutup sidang.

Setelah sidang usai, JPU Rumondang dan Andi Akbar memilih menghindari para wartawan. Keduanya keluar dari ruang sidang melalui pintu belakang.

Sementara sebelum sidang tuntutan digelar, Batam Pos mendapat pernyataan mengharukan dari terdakwa Wardiaman. Saat ditanya perasaannya menghadapi sidang tuntutan, Wardiaman malah mengaku sedang merindukan keluarganya. Dia juga mengaku hanya bisa berdoa mengharapkan keadilan dari hakim.

“Sampaikan pesan saya ke keluarga, saya rindu,” ujar Wardiaman.

Dalam sidang kemarin memang tak terlihat anak dan istri Wardiaman. Hanya saudara laki-lakinya yang terlihat menghadiri sidang..

Terkait pernyataan itu, PH Wardiaman, Utusan Sarumaha, membenarkan kliennya memang jarang bertemu dengan keluarganya, terutama anak dan istrinya. “Mereka kan punya kesibukan masing-masing. Jadi tidak bisa rutin menemui terdakwa. Itu wajar jika terdakwa merindukan keluarganya,” terang Utusan.

Ditanya terkait tuntutan hukuman mati untuk kliennya itu, Utusan menilai tuntutan tersebut terlalu berlebihan. Sebab, kata dia, tuntutan tersebut tak sebanding dengan bukti-bukti yang dinilai sangat minim.

“Sangat bombastis. Karena ada dari isi tuntutan yang sama sekali tidak ada atau tidak terbukti selama masa persidangan,” ungkap Utusan.

Dia menyebutkan, JPU bahkan tidak memiliki bukti-bukti yang menguatkan tuduhan kepada kliennya. Misalnya, soal jam berapa Wardiaman keluar rumah pada hari terjadinya pembunuhan itu. Serta, jaksa ta pernah bisa menunjukkan pisau yang dikatakan digunakan untuk membunuh korban.

“Bendanya (pisau, red) saja tidak pernah terlihat. Mana barangnya? Apa yang membuktikan terdakwa membawa pisau saat kejadian perkara itu,” paparnya lagi.

Utusan juga menegaskan, ada 10 poin yang akan dipaparkannya pada sidang pledoi Selasa pekan depan. “Kami akan perkuat pembelaan dengan 10 poin ini untuk mematahkan tuntutan Jaksa. Kami yakin terdakwa bisa bebas,” katanya. (cr15/bpos)

Respon Anda?

komentar