Buwas: 72 Bandar Besar Narkoba di Indonesia, Satu Ada di Batam

1703
Pesona Indonesia
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi waseso. Foto: dokumen JPNN.Com
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi waseso.
Foto: dokumen JPNN.Com

batampos.co.id – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso menyebut ada 72 bandar besar narkoba di Indonesia. Salah satu bandar besar tersebut berada di Batam.

Buwas dan jajaran BNN beserta kepolisian bertekad memberangus penjahat narkoba itu, khususnya para bandar besarnya, termasuk yang ada di Batam.

Baca Juga: Sabu Malaysia yang Transit di Batam Rupaya Produksi Cina

Ini sesuai dengan komitmen Presiden Joko Widodo untuk memberangus peredaran narkoba di Indonesia

Bahkan Jokowi meminta aparat menembak di tempat setiap pelaku kejahatan narkotika.

“Itu kegeraman Presiden. Tapi kita terhalang dengan undang-undang, jadi tak bisa seperti itu,” ujarnya.

Kendati menyebut ada bandar besar di Batam, Buwas enggan menyebut secara detail karena BNN bertekad akan memberangusnya.

Buwas menyebut Indonesia sudah darurat narkoba. Ini, setidaknya, dilihat dari banyaknya kasus dan barang bukti narkoba yang diamankan aparat.

Untuk jenis sabu saja, tahun lalu BNN berhasil mengamankan sebanyak 6 ton.

Awalnya, Buwas mengira angka tersebut merupakan hasil operasi yang sudah optimal. Namun ternyata Buwas keliru. Sebab faktanya, angka 6 ton itu hanyalah 20 persen dari total sabu yang beredar di Indonesia setiap tahunnya.

“Ada sebanyak 30 ton sabu (yang beredar di Indonesia per tahun). Dan yang tak bisa diamankan ada sebanyak 24 ton sabu yang dapat meracuni 150 juta masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Buwas mengaku kesulitan mengungkap seluruh peredaran narkoba jenis sabu tersebut. Sebab sabu tersebut beredar berdasarkan pesanan.

Akibat peredaran narkoba ini, Indonesia termasuk negara dengan jumlah korban narkotika meninggal yang cukup tinggi. Dalam sehari, setidaknya ada 40-50 korban narkoba yang meninggal.

“Coba dibayangkan kalau dalam sebulan berapa, setahun berapa. Dan yang meninggal itu adalah kelompok genarasi produktif,” tutur Buwas.

Sebab dalam peredarannya, Buwas menduga ada misi menghancurkan generasi muda Indonesia. Sehingga sasaran peredaran naroba di Indonesia umumnya adalah kalangan usia produktif bahkan anak-anak.

Dan untuk menjaring pecandu baru, para pengedar tetap menggunakan cara lama. “Awalnya diberikan gratis, setelah itu bayar,” ungkapnya.

Narkoba yang masuk ke Indonesia, kata Buwas, terdiri dari berbagai bentuk. Ada yang cair, serbuk, dan padat. “Ada juga yang sintetis,” ucapnya.

Buwas mengungkapkan hingga saat ini di dunia terdapat 634 jenis narkoba. Dan yang telah masuk ke Indonesia sebanyak 44 jenis.

“Baru tercantum dalam undang-undang ada 18 jenis saja. Jadi jenis baru, tak bisa kita jerat dan bawa ke ranah hukum,” imbuhnya.

Selama berada di Batam, Budi Waseso akan melakukan sosialisasi bahaya narkoba pada sejumlah perusahaan. Buwas dan rombongan juga Pelabuhan Batuampar.

Menurut dia, pelabuhan, baik resmi maupun ilegal, sangat rawan menjadi pintu masuk narkoba. Khususnya dari luar negeri.

“Peredaran narkoba itu kuat melalui jalur laut, makanya kami berkumpul membicarakan persoalan ini,” katanya.

Ia mengatakan bahwa Indonesia memiliki garis pantai terpanjang yakni 99.093, sangat dirugikan atas peredaran narkoba melalui pelayaran ini. Sehingga ia merasa perlu ada kerja sama antar negara, agar dapat mengatasi peredaran nakoba.

“Garis pantai ini terpanjang kedua setelah Kanada. Dengan personil yang terbatas, garis pantai panjang ini dimanfaatkan oleh pengedar narkoba,” ujarnya. (ska/ant)

Respon Anda?

komentar