Santoso Tewas, Sepupu Ikhlas

952
Pesona Indonesia
Ahmad Basri, sepupu Santoso yang tinggal di Kaliangkrik, Magelang, Jawa Tengah.  Foto: Radar Kedu/JPG
Ahmad Basri, sepupu Santoso yang tinggal di Kaliangkrik, Magelang, Jawa Tengah.
Foto: Radar Kedu/JPG

batampos.co.id – Petualangan Santoso akhirnya berakhir pada Senin lalu (18/7). Buron nomor wahid di Indonesia itu mati setelah tertembus peluru raider Kostrad TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala.

Pihak keluarga Santoso di Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang pun hanya bisa merekalannya. Meski Santoso tumbuh dan besar di Poso, tapi orang tuanya memang dari Desa Adipuro,

Ahmad Basri (43) yang juga sepupu Santoso mengaku ikhlas dengan matinya pentolan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) itu. “Saya sudah ikhlas saja. Sudah jatahnya,” katanya seperti dikutip Radar Kedu (Jawa Pos Group).

Basri menuturkan, Santoso merupakan putra dari almarhum Irsan dan Rumiyah. Orang tua dari Basri merupakan saudara kandung dari salah satu orang tua Santoso.

Basri mengaku jarang berkomunikasi dan sudah lama tak bertemu dengan Santoso. “Terakhir ketemu saat ia pulang ke sini pada 1998. Setelah itu tidak pernah bertemu,” jelasnya.

Orang tua Santoso merupakan warga asli Kaliangkrik. Mereka memutuskan bertransmigrasi ke Palu, Sulawesi pada 1970.
“Saat itu, orang tuanya tengah mengandung kakak perempuan Santoso,” ujarnya.

Saat orang tua Santoso bertransmigrasi ke Sulawesi pada 1970, Basri mengaku belum lahir. Dengan begitu, ia tidak mengetahui secara pasti kehidupan Santoso sejak kecil.

Ia mengetahui Santoso dan bertemu langsung saat pria yang punya nama lain Abu Wardah itu pulang ke Kaliangkrik pada 1998. Saat itu Santoso pulang untuk menjual tanah orang tuanya. Lahan seluas 9×6 meter milik ayah Santoso itu laku dijual Rp 1,5 juta.

Basri menjelaskan, Santoso lantas menggunakan Rp 500 ribu dari hasil penjualan tanah untuk biaya transportasi. “Saya sendiri yang kirim waktu itu. Santoso pulang ke Sulawesi. Sementara ayahnya pulang ke Sumatera, di tempat anaknya perempuan,” ungkapnya.

Basri mengenang saat bertemu dengan Santoso, tidak ada hal yang aneh. Waktu itu, Santoso juga sempat mengalami masa-masa nakal seperti umumnya anak muda. Selang beberapa tahun kembali ke Sulawesi, Basri tidak lagi komunikasi dengan Santoso.

Karenanya Basri mengaku kaget setelah beberapa bulan belakangan, aparat kepolisian menemui keluarganya di Desa Adipuro. Beberapa kali aparat mengunjungi lokasi yang berada di ketinggian 1.300 mdpl itu. Mereka menanyakan perihal kehidupan Santoso saat kecil.

Beranjak dewasa, Santoso berkeluarga dan memiliki satu istri. “Yang saya tahu Santoso juga memiliki anak putri. Pernah ke sini saat anaknya berusia 14 tahun,” katanya.(ady/hes/jpg)

Respon Anda?

komentar