Menpar Arief Yahya: Jangan Malu Belajar Pariwisata di Desa Penglipuran

1631
Pesona Indonesia

 

Desaw Penglipuran, Bali, sebuah desa yang secara arsitektur bangunan saja sudah menarik wisatawan. Desa ini jadi percontohan pengembangan desa pariwisata. Foto: istimewa/wisatabaliutara.com
Desaw Penglipuran, Bali, sebuah desa yang secara arsitektur bangunan saja sudah menarik wisatawan. Desa ini jadi percontohan pengembangan desa pariwisata. Foto: istimewa/wisatabaliutara.com

batampos.co.id – Membandingkan cerita sukses dan kehebatan pesaing adalah salah satu cara mengembangkan destinasi pariwisata.

Bahkan Menpar Arief Yahya meminta semua daerah untuk tidak malu belajar dari daerah yang sukses mengembangkian destinasi pariwisatanya.

Karena Benchmark, kata Arief Yah

ya adalah cara paling cerdas, cepat, dan cekatan untuk menjadi yang terbaik.

“Khusus untuk membangun desa wisata, silakan berguru ke Desa Penglipuran, Bali!” ujar Mantan Dirut PT Telkom Indonesia.

Seperti diberitakan di banyak media, reputasi Desa Penglipuran, Bali, sudah mendunia. Bukan hanya terbaik di Bali, maupun Indonesia. Tetapi sudah menggunakan standar global. Namanya masuk ke dalam kelompok desa-desa terbaik dunia, sejajar dengan Desa Giethoorn di Belanda serta Mawlynnong di India.

“Ini bisa dicontoh, ya kehidupan masyarakat, pola komunikasi, mempertahan trandisi dan budaya lokal, termasuk dalam urusan social, komitmen untuk kebersihan bersama, keamanan dan kenyamanan bersama. Atmosfer inilah yang membuat turis betah tinggal di homestay yang disewakan warga masyarakat,” kata Arief Yahya, sambil membayangkan di destinasi wisata lain di Indonesia belajar dan dimodifikasi untuk diterapkan di daerahnya.

Nah, pengakuan dunia ini diulas dalam situ Boombastis.com. Dari mulai kebersihan hingga keharmonisan masyarakatnya, dianggap sangat fantastis. Budaya dan hubungan kekerabatan, kekeluargaan, antar anggota masyarakat di desa itu fantastis. Khas Indonesia, yang hidup rukun, damai, saling hormat dan penuh toleransi.

“Penglipuran adalah desa yang sangat bersih, indah dan masih terjaga kehidupan tradisionalnya. Kenyaman dan kebersihannya membuat banyak wisatawan ter-influence untuk berkunjung dan berlama-lama di sana,” tulis boombastis.com.

Ada sekitar 200 rumah bergaya tradisional di desa ini. Semuanya berderet rapi di jalanan menanjak. Jalanan dibuat dari batu alam dan banyak tumbuh bunga warna-warni di sekitar desa. Motor dan mobil dilarang masuk ke desa ini sehingga Penglipuran bebas dari polusi udara.

Nah, hal lain yang bikin wisatawan betah adalah kebersihannya. Desa yang terletak di jalan Penglipuran, Desa Kubu, Bangli, Kecamatan Bangli ini, dijamin bersih. Tak ada satu pun sampah yang terlihat di sana.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, AA Gede Yuniartha menjelaskan bahwa sejak dahulu kala, para orangtua Desa Penglipuran selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk, menjaga kebersihan di tempat-tempat suci seperti pura.

“Nggak boleh buang sampah sembarangan, nggak boleh merokok sembarangan. Semua tertib. Kalau ingin merokok, harus merokok di tempat yang sudah disediakan. Motor dan mobil juga nggak diperkenankan masuk ke desa ini. Motor dan mobil akan ditaruh di garasi belakang rumah dengan jalur masuk yang berbeda,” terang Yuniartha, Sabtu (23/7).

Ketua PKK Desa Penglipuran, Ni Wayan Nomi ikut buka suara. Dari paparannya,  setiap bulannya, ibu-ibu di Desa Penglipuran berkumpul untuk melakukan pemilahan sampah. Sampah organik dan non-organik, semua dipisah.

Sampah organik akan diolah menjadi pupuk, sementara sampah non organik akan dijual dan ditabung ke bank sampah di desanya. Satu kilogram sampah dihargai Rp 200.

Hal lain yang membuat nama Penglipuran meroket adalah keharmonisan kehidupan masyarakatnya. Hubungan manusia dengan lingkungan serta manusia dengan Tuhan, sangat terjaga dengan baik.

“Tradisi yang dilakukan oleh warga-warga Desa Penglipuran memang sesuai banget dengan arti dari kata “Penglipuran”. Penglipuran berasal dari kata Pengeling Pura yang memiliki arti tempat suci untuk mengingat para leluhur,” timpal Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali, I Ketut Ardana.

Penasaran? Kalau kebetulan sedang ada di Bali, tak ada salahnya mampir ke Penglipuran. Saat menjejakkan kaki di sana, dijamin Anda tidak akan lelah berjalan kaki lantaran udaranya sejuk.

“Alamnya juga indah. Sillahkan mampir untuk merasakan sensasi berwisata di salah satu desa terbaik dunia,” ajak Ardana. (inf)

Respon Anda?

komentar