Di Poso, Santoso Disebut Syuhada dan Pahlawan

1325
Pesona Indonesia
Spanduk berukuran tiga kali satu meter yang bertuliskan "Selamat Datang, Syuhada Poso, Santoso alias Abu Wardah" terpasang di lorong masuk rumah ibu Santoso  di Dusun Langangan, Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/7/2016) lalu saat jenazah santoso akan dimakamkan.  Foto: Jafar G Bua/CNN Indonesia
Spanduk berukuran tiga kali satu meter yang bertuliskan “Selamat Datang, Syuhada Poso, Santoso alias Abu Wardah” terpasang di lorong masuk rumah ibu Santoso di Dusun Langangan, Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/7/2016) lalu saat jenazah santoso akan dimakamkan.
Foto: Jafar G Bua/CNN Indonesia

batampos.co.id – Pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso alias Abu Wardah memang telah tiada. Dia ditembak mati dalam operasi penyergapan oleh Satgas Tinombala di Pegunungan Tambaranan, Poso, Senin (18/7/2016), sekitar pukul 17.00 WITA.

Sempat tersiar kabar kalau jenazah Santoso ditolak warga untuk dimakamkan di kampung halamannya di Dusun Langangan, Kecamatan Poso Pesisir.

Namun fakta berkata lain. Sabtu (23/7/2016) lalu, jenazah santoso diambil dan dimakamkan oleh keluarganya di pemakaman umum di dekat rumah ibu Santoso di Dusun Langangan, Kecamatan Poso Pesisir.

Sebelum dimakamkan, bahkan saat tiba di kampungnya itu, bukan penolakan yang muncul, tapi justeru penghargaan.

Di lorong jalan menuju rumah ibu Santoso, terbentang spanduk berukuran tiga kali satu meter yang bertuliskan “Selamat Datang, Syuhada Poso, Santoso alias Abu Wardah”.

Syuhada, secara harfiah, berarti orang-orang yang telah mati syahid dalam menegakkan agamanya.

“Alhamdulilah, Santoso mati syahid,” kata kakak ipar Santoso, Pono, di Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/7/2016) seperti dilansir CNN Indonesia.

Tak hanya itu, ada ribuan orang yang menghadiri acara pemakaman Santoso. Selain warga setempat. Mereka berasal dari Kabupaten Morowali, Kabupaten Poso, Tojo Una-Una, juga, dari Palu.

Bahkan, kehadiran para simpatisan, dan keluarga Santoso, serta warga sekitar menimbulkan kemacetan selama dua jam di sepanjang jalan dari rumah ibu Santoso menuju pemakaman.

Menurut seorang warga yang hadir, Santoso merupakan pahlawan.

“Santoso seorang pahlawan karena mati menegakkan agamanya dan sudah membalas sakit hati saudara-saudaranya ketika konflik Poso yang lalu,” kata warga.

Dalam proses pemakaman, tidak ada pengamanan aparat dari TNI dan Polri yang berseragam.

Hal itu disebabkan karena keluarga Santoso meminta aparat untuk tidak ada di lokasi guna menghindari kemungkinan adanya gesekan antara aparat dan para simpatisan Santoso.

Santoso menjadi daftar pencarian orang nomor satu di Indonesia karena beragam aksi teror yang dilakukan oleh kelompoknya.

Santoso dituding pernah memerintahkan anak buahnya, Rafli alias Furqon, untuk memimpin serangan ke Bank BCA di Palu dan mengambil senjata polisi.

Selain itu, kelompok-kelompok militan lain di Indonesia kerap mengirimkan anggotanya untuk berlatih bersama Santoso. 

Salah satu tokoh jaringan nasional yang terlibat di sini adalah Daeng Koro. Pria yang kemudian menjadi petinggi kelompok itu tewas dalam baku tembak 2015 lalu.

Selain itu, kelompok Bima juga mengirim anggotanya dan beberapa di antaranya masih menempel kelompok Poso hingga saat ini.

Selain dua kelompok tersebut, ada juga jaringan Abu Roban dan Al Qaeda Indonesia yang diyakini terlibat kegiatan itu. (cnnindonesia)

Respon Anda?

komentar