Kapolri Tito Janji Peringan Hukuman Istri Santoso Jika Kooperatif

523
Pesona Indonesia
Jumiatun Muslimayatun alias Delima, istri Santoso, ditangkap di Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah. Foto: istimewa
Jumiatun Muslimayatun alias Delima, istri Santoso, ditangkap di Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah. Foto: istimewa

batampos.co.id – Jumiatun Muslimayatun alias Delima, istri Abu Wardah alias Santoso, yang ditangkap di Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah, bakal diberi keringanan hukuman jika bersedia kooperatif.

Janji ini diberikan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian.

“Kalau dia terus terang, kooperatif, akan meringankan dia,” kata Tito di Magelang, Jawa Tengah, seperti diberitakan Antara.

Sejauh ini, menurut Tito belum ada rencana akan memberikan pengampunan pada Jumiatun. Pasalnya, Jumiatun selama ini masuk dalam daftar buron bersama para anak buah Santoso.

“Ada pasalnya, yakni melindungi dan menyembunyikan buron,” ujar Tito.

Setelah menembak mati Santoso dan salah seorang anak buahnya, Mukhtar alias Kahar, Satuan Tugas Operasi Tinombala (TNBI-POLRI) berhasil menangkap Jumiatun.

Jumiatun sendiri berhasil lolos bersama dua orang, saat kontak tembak petugas yang menewaskan suaminya dan Kahar.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, saat ditangkap Atun tidak bersenjata.

“Nah karena tidak bersenjata ya harus hidup. Prinsipnya TNI tidak boleh menembak orang yang tidak bersenjata karena dalam operasi apapun juga TNI selalu menjunjung tinggi hak asasi manusia,” ujar Gatot di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (23/7/2016) lalu.

Menurut Gatot, saat penyergapan oleh Tim Alfa dari Batalyon 515 Rider Kostrad, Santoso memang didampingi istrinya dan satu wanita.

Santoso dan anak buahnya, Mokhtar alias Kahar, bersenjata lalu disergap, sedangkan istri Santoso dan satu wanita yang tidak bersenjata tidak ditembak.

Saat ini, perburuan sisa-sisa anggota Majelis Mujahidin Indonesia Timur di hutan Poso terus dilakukan. Diperkirakan masih ada 18 orang anak buah Santoso, termasuk dua orang yang diperkirakan bakal jadi pemimpin baru kelompok radikal. Dua orang ini adalah Basri alias Bagong dan Ali Kalora.

Sebanyak 3.000 personel Polri masih berada di Poso untuk menyisir dan memotong jalur pasokan logistik untuk kelompok ini.

“Kami terus menekan tapi juga sambil melakukan upaya persuasif. Kami mengimbau mereka segera turun gunung demi kemaslahatan bersama dan mengikuti proses hukum yang berlaku,” kata Tito.

Bekas Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ini juga menjanjikan keringanan hukuman jika mereka mau menyerah dan bekerja sama. (Antara/CNN/JPG/nur)

 

Respon Anda?

komentar