SMK 2 Lingga Kekurangan Ruang Kelas

851
Pesona Indonesia
SMK 2 Lingga. foto:hasbi/batampos
SMK 2 Lingga. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Lingga yang berada di pusat ibukota kabupaten Lingga masih kekurangan ruang kelas. Alhasil, sekolah yang kini menampung 75 orang siswa tersebut terpaksa berbagi ruang kelas dan mengatur jadwal masuk siang bagi siswa kelas XI.

Pantauan dilapangan, SMKN 2 yang berada di Kampung Cening, terdapat 3 ruang kelas. Dua ruang untuk aktivitas belajar mengajar siswa, sedangkan 1 ruang kelas lagi digunakan sebagai majelis guru. Fasilitas sekolah juga belum terlalu komplit. Toilet tidak tersedia. Mengatasi persoalan tersebut, beberapa waktu lalu pihak sekolah terpakasa membangun secara swadaya bangunan WC menggunakan terpal.

Lia Astria, salah seorang Guru yang mengajar di SMKN 2 Lingga tersebut mengakui minimnya ruang kelas. Untuk menampung seluruh siswa yang ada, pihak sekolah melakukan sistem bagi ruang kelas dan jam belajar siang.

“75 orang siswa belajar di ruang kelas yang hanya ada ruang. Macam mana sesak kami. Meja guru dan TU serta kantinpun satu ruangan, yah beginilah kondisi sekolah kami,” ujar Lia menggambarkan kondisi sekolah tempat ia mengajar.

Namun begitu, meski minim fasilitas Lia mengatakan semangat belajar siswa yang membuat para guru tetap semangat memberikan pelajaran bagi anak didiknya.

Ditempat yang sama, Kepala Sekolah SMKN 2 Lingga, Hj Chrisma Thiolina, mengatakan, terkait minimnya ruangan kelas sekolahnya, telah beberapa kali ia berkoordinasi dengan dinas terkait. Baik peda maupun pemprov.

“Dari provinsi rencana nak bangun ruang kelas. Namun belum ada terealisasi,” ujarnya.

Dikatakan sejumlah ruangan penting mendukung aktivitas belajar mulai dari perpustakaan, majelis guru hingga ruang belajar siswa perlu segera dicarikan solusi. Selain itu, fasilitas umum WC dan belum tersedianya jaringan air bersih dikatakan Charisma juga menjadi kendala di sekolah kejuruan akomodasi perhotelan dan administrasi perkantoran tersebut.

Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru honorer maupun TU, kepala sekolah SMKN 2 Lingga ini mengatakan pihaknya masih memungut biaya BP3 atau biaya SPP siswa. Perbulan siswa dikenakan biaya Rp 50 ribu.

“Bagaiman tidak dipungut. Untuk baiaya guru honor, TU mau bayar dari mana? Dulu biaya praktek ada. Kalau mau dihapuskan pemerintah BP3 siswa, kita mau duduk bersama. Solusi harus ada,” tutupnya. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar