Menanamkan Rasa Malu, Inti dari Pendidikan Seks Anak

409
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Kalau dulu pendidikan seks itu tabu saat ini perlu. Kenapa? Karena kemajuan zaman saat ini membuat kita mudah mendapatkan informasi. Namun tidak semua informasinya dapat dipercaya. Usia anak dan remaja sangat rentan terhadap informasi ini. Oleh karena itu cara memberikan pendidikan seks juga harus up to date.

“Mama, ayah ciuman itu apa sih” ucap seorang bocah dengan polosnya. Sontak pertanyaan itu tentu saja membuat bibir orangtua tiba-tiba gagu. Orangtua kadang terkaget-kaget mendengar pertanyaan polos anaknya yang bisa dibilang ceplas ceplos. Masih banyak pertanyaan yang sering dilontarkan oleh anak seperti, apa itu penis, kok anak laki-laki kencingnya berdiri, kok Mama punya tonjolan di dada, sementara Ayah tidak ada?

Pengalaman serupa dialami oleh ibu rumah tangga, Nurul Fitria. Ia sempat dibuat kaget oleh pertanyaan anaknya yang berusia 5 tahun. “Mama, bayi itu dari mana sih asalnya,” kata Nurul menirukan pertanyaan anak perempuannya. Butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya ia bisa menjawab pertanyaan tersebut.

“Bayi itu tumbuh di dalam perut mama, namanya rahim atau kandungan. Kalau waktunya sudah tepat bayi akan keluar dari perut mama,” jawabnya dengan sedikit terbata-bata.

Belum sempat ia bernafas lega. Pertanyaan berikutnya menyusul. “Terus keluarnya dari mana mama,” tanya sang anak lagi dengan wajah bingungnya. Lagi, Nurul terdiam sebentar baru kemudian berusaha menjawab.

“Hmm, bayi itu keluar dari perut lewat lubang di antara kedua kaki mama yang disebut vagina,” jawabnya, kali ini lebih tegas.

Beruntungnya jawaban tersebut mendapat tanggapan polos oleh anaknya. “Oh gitu,” ujar anaknya.

Menurut Psikolog, Fetty Nurhidayati, kemajuan teknologi mendorong pendidikan seks harus up to date alias kekinian. Seorang anak dan remaja lebih rentan terpapar pornografi akibat kemudahan informasi yang didapat di internet. “Di dunia maya ini akses pornografi sangat sedikit filternya, makanya perlu pendidikan seks yang dini,” kata Fetty kepada Batam Pos, Rabu (20/7).

Pendidikan seks juga harus sesuai umur mereka. Orangtua harus mengajarkannya secara bertahap agar mereka siap menghadapi pergaulannya. “Dasar pendidikan seks yang paling penting itu adalah menanamkan rasa malu,” ungkapnya.

Setelah itu baru diberikan penjelasan agar anak tidak mencari-cari ke sumber yang tidak benar. “Anak dan remaja kan punya rasa ingin tahu yang tinggi,” ucapnya.

Di kalangan remaja, kebanyakan yang didapat di sekolah ataupun di rumah sebatas pengetahuan mengenai organ reproduksi dan bahaya seks bebas saja. Orangtua enggan membahasnya lebih dalam. Tabu, kira-kira begitu alasan klasik mereka. Nah, sayangnya ketika di sekolah, penjelasannya dilakukan bersama siswa lain, tidak ada pembicaraan dua arah antara pengajar dan pembelajar.

“Saya sendiri termasuk yang kurang pendidikan seks atau mungkin tidak hanya saya saja. Menurut saya, pendidikan seks di Batam masih sangat minim dan ala kadarnya,” papar Siswa SMA Islam Nabillah Batam, Muhammad Ammar.

Seringkali, remaja di usianya yang masih labil, terbawa emosi dengan dalih kasih sayang terhadap pasangannya sehingga terjadi hubungan seksual di luar nikah. Kasus anak remaja yang kesandung persoalan seks bebas pun tidak begitu mendapat perhatian serius. Tidak ada wadah mengadu bagi yang hampir melakukan seks bebas, atau bahkan yang sudah terlanjur melakukannya. Seolah-olah, pendidikan seks yang ada itu hanya berfungsi sebatas pencegahan saja, dan tidak memberikan solusi.

“Orangtua tidak berperan aktif, sang anak pun tidak membentengi diri,” ucap Ammar.

Selain itu, pendidikan seksual hanya berfokus pada perempuan, tidak pernah dijelaskan bagaimana seorang laki-laki harus menghargai perempuan dan cara meredam nafsu.

“Makanya pendidikan seks itu harus merata, tidak hanya fokus kepada perempuan tapi juga laki-laki. Bagi perempuan, tidak diajarkan bagaimana menolak pasangannya dengan cara halus dan penuh pengertian,” jelas Fetty.

Orangtua tidak boleh bersikap kaku. Anak harus nyaman saat berbicara dengan orangtua. “Jangan sampai orangtua ketika memberikan pendidikan seks secara berlebihan dan terkesan menghakimi,” kata Perempuan Berhijab ini.

Selama ini, banyak anggapan salah tentang seks. Seks diposisikan hanya sebagai cara menghasilkan anak, namun kenyataannya banyak di luar sana yang memposisikan seks sebagai kesenangan semata dan rekreasi. Ketika diajak seks oleh pasangan, sebagian mengangap hal ini adalah keseriusan dari pasangan.

“Berharap diajak nikah namun kenyataannya ditinggal begitu saja. Inilah yang remaja harus waspadai,” paparnya.

Anggapan salah mengenai seks hanya dilakukan oleh pacar seumuran, juga tak selamanya benar. Kenyataannya, malah banyak pasangan di luar sana yang berhubungan seks dengan orang yang lebih tua. Remaja tidak pernah diberitahu kalau laki-laki yang lebih tua, biasanya memiliki pengaruh dan kemampuan meyakinkan yang sangat kuat ketika mengajak berhubungan badan. Sehingga, sulit untuk menolak ajakan berhubungan seks.

“Jadi peringatan ini tidak hanya mengenai gaya berpacaran dengan seumuran saja,” ucap Fetty.

Cara pemberian materi mengenai pendidikan seks kepada remaja ini mestinya lebih banyak dilakukan oleh orangtua pada masing-masing anaknya. Sebab, orangtua lah yang mengetahui betul bagaimana sifat, sikap, dan perkembangan anaknya. “Untuk memberikan materi mengenai hal ini, orangtua harus pandai-pandai mencari peluang dalam setiap pembicaraan dengan anaknya,” imbuhnya.

Membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab, inilah tujuan pendidikan seks sebenarnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Terus, kenapa harus tabu ketika membahas seks.

“Jangan pernah menghindari pertanyaan seputar seksualitas dari anak. Berinteraksi dan jawablah pertanyaannya dengan tenang. Jangan sampai anak mencari tahu dari sumber yang belum tentu kebenarannya,” tutupnya.

Selain itu, orangtua diharapkan dapat memberikan pendidikan seks secara bertahap sesuai umur anaknya. Pendidikan seks harus bertahap. Tidak ada pendidikan seks yang instan. “Seiring bertambahnya umur anak, mereka akan semakin kritis. Oleh karena itu, orangtua harus berperan aktif dalam memberikan pendidikan seks dini,” tutupnya.

Kurangnya komunikasi dan sarana membuat remaja enggan terbuka mengenai kehidupan seks. Beberapa sekolah sudah memiliki Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR). Seperti namanya, PIK KRR ini tentu saja membahas segala macam persoalan remaja terutama seks. “Banyak remaja yang nggak mau tahu dan nggak peduli dan lebih mentingin gengsi,” ucap Siswa SMAN 1 Batam, Sinta.

PIK KRR ini dibuat lebih sesuai dengan kehidupan remaja. “Jadi kami tidak hanya mengedepankan komunikasi dua arah, tapi juga kami punya official akun media sosial,” kata Ketua PIK KRR SMAN 1 Batam, Mitha Rizkya Zulkarnain.

Kebanyakan remaja sekarang jarang mau cerita ke orangtua ataupun guru dan lebih memilih cerita ke teman sebaya. “Kalau masalah mengenai pacar dan kehidupan pribadi biasanya kami langsung bantu kasih masukan. Tentu sebelumnya kami konsultasikan ke guru,” tutup Siswa Kelas XII MIPA ini. (cr18)

Respon Anda?

komentar