Terganjal Aturan, PDAM Lingga Belum Dapat Sumbang PAD

613
Pesona Indonesia
 Direktur PDAM Lingga, Sazali. foto: wijaya satria/batampos
Direktur PDAM Lingga, Sazali. foto: wijaya satria/batampos

batampos.co.id – Dalam Peraturan Mendagri No 23 Tahun 2006 tentang pedoman teknis dan tatacara pengaturan tarif air minum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tidak membenarkan PDAM menyumbang kontribusi kepada daerah jika perusahaan air milik daerah itu belum beroperasi melayani 80 persen masyarakat. Pasalnya, di Kabupaten Lingga PDAM baru hanya melayani sekitar 70 persen penduduk saja.

Kondisi ini menyebabkan pendapatan PDAM tidak dapat disetorkan ke pemerintah daerah karena PDAM belum mencapai angka 80 persen melayani masyarakat. Sebelumnya, pada 2010 PDAM Lingga sempat menyetorkan pendapatan mereka ke Pemkab Lingga sebesar Rp 48 juta dan pada tahun 2011 sebesar Rp 68 juta.

“Tapi kami tidak dapat menyetor lagi karena sesuai dengan peraturan tersebut. Uang itu jadi masuk ke kas,” kata Direktur PDAM Sazali di ruang kerjanya, Senin (25/7) pagi.

Dana tersebut, aku Sazali, juga dipergunakan untuk investasi PDAM seperti pemasangan jaringan baru, serta pembaharuan pipa yang dinilai telah layak untuk diganti.

Untuk itu, Sazali menyarankan kepada pemerintah daerah untuk cepat mengambil tindakan agar seluruh pengolahan air minum yang ada wilayah di Kabupaten Lingga dapat ditangani oleh PDAM. Seperti diketahui banyak sarana pengolahan air bersih berdiri sendiri atau dikelola desa dan tidak dikelola PDAM.

Saat ini, sejumlah proyek bersumber dana APBN sedang berjalan untuk menyelesaikan pipanisasi dan pembangunan dam penampungan air di air gemuruh, Gunung Muncung, guna memaksimalkan pendistribusian air minum kepada pelanggan yang ada. Selanjutnya pekerjaan ini juga untuk memenuhi daftar tunggu masyarakat yang ingin menyambung jaringan air minum ke rumah mereka.

Namun Sazali masih mengeluhkan dengan kondisi bak pengelolaan air yang hanya berkafasitas 10 liter perdetik yang ada di Jalan Kesehatan dan bak penampungan di Lampung Boyan hanya berkafasitas 20 liter perdetik. Semestinya PDAM saat ini membutuhkan bak pengolahan air dengan kapasitas 50 liter perdetik.

“Jika proyek pembangunan dam di air gemuruh telah selesai tentunya debit air yang masuk ke bak pengolahan semakin bertambah banyak, sedangkan bak pengolahan tidak dapat menampungnya,” kata Sazali.

Namun Sazali menambahkan, akan terus mengajukan sejumlah kebutuhan PDAM demi kelancaran penyaluran air minum kepada seluruh masyarakat Kabupten Lingga. Mengingat program bantuan pusat masih berjalan hingga 2019 mendatang. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar