Halangi Wartawan Meliput, Sidang Kasus Penyelundupan Ricuh

523
Pesona Indonesia
Polisi berjaga di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, usai kericuhan saat sidang kasus penyelundupan dimulai. Foto: Osias De / Batampos
Polisi berjaga di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, usai kericuhan saat sidang kasus penyelundupan dimulai. Foto: Osias De / Batampos

batampos.co.id – Sekelompok pemuda yang bekerja dengan Ahang alias Arifin, pemilik Kapal KM Kharisma Indah, yang tersandung kasus penyelundupan barang ilegal, melarang, mengancam dan menghalangi wartawan meliput sidang perkara yang beragendakan keterangan saksi dari pemilik kapal, di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Selasa (26/7).

Informasi yang dihimpun, aksi tersebut terjadi ketika salah seorang wartawan media online, Charles, memasuki ruang sidang karena hakim telah mengetuk palu tanda sidang telah dibuka untuk umum. Saat itu Charles mengabadikan foto, Ahang alias Arifin yang dihadirkan Jaksa Penuntutu Umum (JPU) untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Tiba-tiba datang salah seorang pemuda yang bekerja dengan Ahang, menarik jaket yang dikenakan wartawan tersebut hingga robek. Selain itu wartawan tersebut juga ditarik dan dihalangi agar tidak meliput sidang perkara penyelundupan tersebut.

Pantauan di PN Tanjungpinang, perang mulut antara Charles dan orang yang menghalangi tugas jurnalistiknya pun tidak terelakkan. Bahkan Charles dan sejumlah orang yang bekerja dengan Ahang tersebut nyaris adu jotos. Mereka pun dipisahkan oleh sejumlah wartawan yang meliput dan juga pegawai PN Tanjungpinang. Tak lama berselang, puluhan personil Polres Tanjungpinang turun ke PN Tanjungpinang untuk meredam agar aksi tersebut tidak meluas.

Ditemui, di PN Tanjungpinang, Charles mengatakan, saat ditarik dan diminta untuk keluar dari ruangan sidang dirinya tidak mau mengikuti permintaan tersebut. Karena ia saat itu sedang menjalankan tugas jurnalistiknya.

”Apa kapasitas dia dalam perkara yang ditangani Pengadilan tersebut, sehingga meminta saya keluar dari ruang sidang. Saya tidak mau keluar karena sedang dalam kondisi bertugas (meliput) sidang itu,” ujar Charles.

Sementara itu, salah seorang wartawan media cetak yang menjadi saksi, keributan antara Charles dan orang Ahang, Novel, mengatakan selain Charles, ada juga salah seorang wartawan harian terbitan lokal, Wafa, yang juga terkena imbasnya karena mengabadikan peristiwa keributan tersebut. Kamera wartawan tersebut bahkan sempat disita dan foto yang diabadikannya dihapus.

”Wafa ini sempat dicekik, ditarik dan ditendang. Pakaiannya juga robek,” kata Novel.

Akibat kejadian ini, Charles pun melaporkan peristiwa tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Tanjungpinang untuk membuat laporan polisi. Selain itu, sidang perkara tersebut juga sempat d skor dan kemudian dilanjutkan kembali dengan pengamanan dari pihak Kepolisian.

Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam, Jailani, sangat menyayangkan tindak premanisme yang dilakukan orang yang merupakan anak buah Ahang. Sebab menghalang-halangi wartawan menjalani tugas jurnalistiknya.

”Kami minta polisi untuk menangkap dan memproses pelaku sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Kami harap polisi segera mengusut kasus ini agar tidak menjadi preseden buruk kedepannya bagi kebebasan pers,” ujarnya.

AJI, kata Jai, meminta pelaku agar diproses sesuai dengan undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang kebebasan pers karena telah menghalangi tugas jurnalistik.

”Undang-undang harus ditegakkan agar semua pihak menghargai tugas jurnalistik di lapangan. Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali,” pungkas Jai.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar