Interkoneksi Batam-Bintan Hampir Rampung, PLN Bakal Hemat Rp 12 Miliar

1266
Pesona Indonesia
Direktur PLN Regional Sumatera, Amir Husin (2 kiri) beserta jajarannya mengunjungi pembangunan Gardu Induk (GI) Kijang, Bintan. F.Yusnadi/Batam Pos
Direktur PLN Regional Sumatera, Amir Husin (2 kiri) beserta jajarannya mengunjungi pembangunan Gardu Induk (GI) Kijang, Bintan. Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Direktur PLN Regional Sumatera, Amir Husin mengatakan dengan rampungnya proyek interkoneksi listrik Batam-Bintan (Babin) pada Agustus mendatang memberikan kontribusi tersendiri, bagi eksistensi PLN dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Memastikan kesiapan infrastruktur tersebut, Amir langsung melakukan peninjauan ke lapangan, Selasa (26/7) malam.

“Kita bersyukur, proyek interkoneksi listrik Babin sudah hampir rampung. Selesainya mega proyek ini, memberikan kemudahan tersendiri bagi kami dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Amir Husin kepada wartawan melakukan peninjauan di lokasi pembangunan Gardu Induk (GI) Kijang, Bintan.

Menurut Amir, rampungnya interkoneksi juga menurunkan beban biaya bagi operasional PLN. Apalagi di Pulau Bintan, ada sejumlah pembangkit yang masih menggunakan sistem sewa dengan pihak ketiga. Lebih lanjut katanya, apabila dikalkulasikan, akan menghemat anggaran Rp 12 miliar untuk setiap bulan.

“Tekad kami, tentunya adalah tetap memberikan pelayanan terbaik. Selain itu, terus berupaya mewujudkan Pulau Bintan Terang,” jelasnya yang didampingi General Manager (GM) PLN Kanwil Riau-Kepri, Febby Joko Prihanto dan GM Unit Induk Pembangunan II, Julian Sitanggang.

Dikatakannya juga, melesetnya penyelesaian interkoneksi listrik Babin, bukan disebabkan lemahnya kinerja petugas di lapangan. Hanya saja terbentur, pada proses regulasi. Selain itu, juga disebabkan pengaruh cuaca. Apalagi belakangan ini, Pulau Bintan terus didera hujan deras.

“Kami sudah memberikan intruksi, ketika terjadi hujan, pekerjaan harus dihentikan. Karena menyangkut keselamatan pekerja di lapangan,” tegasnya.

Masih kata Amir, masuknya Gardu Induk dan transmisi ini setelah melalui beberapa pengujian dan dinyatakan telah siap. Keberhasilan ini tak lepas dari kerja keras seluruh tim, tak kurang sebanyak 1.500 tenaga kerja dikerahkan untuk mempercepat interkoneksi ini. Selain itu, keberhasilan ini juga tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kepulauan Riau dan stakeholders terkait serta masyarakat pemilik lahan dan yang dilintasi jalur transmisi.

Untuk saat ini, kata Amir, sistem kelistrikan Pulau Bintan masih mengunakan Sambungan Udara Tegangan Menengah (SUTM) 20 kV mulai dari Tanjunguban sampai Kota Tanjungpinang yang memiliki total daya terpasang sebesar 99,3 MW. Kekuatan tersebut berasal dari PLTU Galang Batang , PLTD Suka Berenang, PLTD Air Raja dengan Total daya mampu sebesar 62,6 MW di mana sebesar 47 MW dari pembangkit sewa.

“Kami perkirakan minggu depan seluruh sistem interkoneksi dari Batam – Tanjung Uban – Sri Bintan-Air Raja -Kijang akan selesai. Jika semua sistem interkoneksi telah terpasang, maka PLN akan mampu mengurangi jumlah pembangkit sewa yang ada dan menggantinya dengan listrik dari Interkoneksi Batam – Bintan, sehingga PLN diperkirakan dapat menghemat Rp 16.969.000 per jam atau Rp 12.217.680.000 per bulan,” ungkap Amir.

Secara keseluruhan sistem interkoneksi Batam – Bintan terdiri dari 255 tapak tower listrik dan melewati Lintas Barat Tanjung Uban – Tanjung Pinang, serta ke Kijang. Selain itu, PLN juga membangun tiga GI (Sri Bintan berkapasitas 30 MVA, Air Raja berkapasitas 2 x 30 MVA dan Kijang berkapasitas 30 MVA) yang merupakan babak baru sistem kelistrikan di Pulau Bintan, di mana semula mengguakan Sistem Tegangan Menengah 20 kV sebagai backbone kelistrikan Pulau Bintan, maka tidak lama lagi beralih menjadi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV sebagai backbone yang terintegrasi dengan sistem kelistrikan Batam.

Dengan masuknya sistem interkoneksi Batam – Bintan ini diharapkan bisa memenuhi pasokan listrik dan melayani pelanggan Pulau Bintan yang saat ini mencapai 111.500 pelanggan, dapat menjadi katalisator pembangunan ekonomi dan industri di Pulau Bintan, serta mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM) hingga lebih dari Rp 12 milyar per bulannya.

Sementara itu, GM UIP II, Julian Sitanggang menambahkan untuk pembangunan tower dari Air Raja, Tanjungpinang ke Kijang masih ada beberapa tower yang belum selesai dikerjakan. Disebutkannya, untuk pembangunan pondasi masih adalah delapan tower lagi. Sedangkan yang sedang dalam proses atau ereksion jumlahnya 14.

“Pekerjaan ini, kami targetkan rampung pada minggu pertama bulan Agustus. Sehingga GI Kijang sudah bisa energize pada tanggal tersebut,” ujar Julian menambahkan.

Dalam kunjungan kerja ke Tanjungpinang, Amir Husin dan rombongan melakukan peninjauan ke lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Dompak, Tanjungpinang. Sedangkan di Kabupaten Bintan, lokasi yang dikunjungi adalah Gardu Induk (GI) Kijang yang masih dalam proses pembangunan.

Point pentingnya adalah, sistem kelistrikan di Pulau Bintan semakin andal setelah Gardu Induk (GI) Sri Bintan 30 Mega Volt Ampere (MVA) berhasil masuk sistem pada 24 Juli 2016 lalu , yang sebelumnya telah beroperasi GI 150 KV Tanjung Uban (30 MVA) dan GI Ngenang (10 MVA) bersamaan energized kabel laut Batam Bintan pada 10 November 2015 lalu.(jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar